
Sebelum sang mentari menampakkan sinarnya di segala penjuru dunia, Rani dan Tamsi pergi menuju halte ghaib. Rute perjalanan mereka di komando oleh Tamsi, dengan berbekal lampu yang selalu Rani bawa untuk berpetualang, Rani masih melinguk- linguk tempat aneh yang mereka tuju.
"Tamsi, apakah kau yakin disini rute tempat halte ghaib", tanya Rani.
Rani berlindung di belakang badannya yang berubah wujud menjadi manusia. Belum sempat tamsi menjawab pertanyaan Rani , bus ghaib berhenti tepat di depan mereka.
Nging, nging. (Bunyi suara bus ghaib ).
Sungguh di luar batas kewajaran , bentuknya lebih aneh dari yang sebelumnya aku lihat dan mereka tumpangi. Suasana di dalamnya sama seperti yang pernah Rani tumpangi, tidak terlihat pengemudi bus ghaib dan hanya ada beberapa makhluk di dalam bus.
Suaranya begitu mengerikan di tambah lagi bentuk-bentuk isi Makhluk di dalam.
"Wahai majikan ku, jangan tatap mereka. Bersikaplah seolah-olah engkau melihat mereka."
Rani menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia masih gemetar bukan kepalang. Itu adalah pengalaman keduanya mengendarai bus ghaib.
"Tidak ada tempat duduk disini dan aku bisa jatuh dan terjungkal ke luar. Terlebih lagi kecepatannya seperti balapan liar. Oh, aku harus menjaga-jaga berbagai kemungkinan yang terjadi, Tamsi pasti akan menyelamatkan ku!" Batin Rani bergumam.
Angin kencang mewarnai perjalanan mereka, Rani hanyalah manusia bisa yang bisa merasakan dingin dan lainnya, berbeda dengan makhluk yang ada di dalam bus. Daun telinga Rani seperti terasa tiupan hembusan angin kencang yang keluar masuk menambah rasa pusing kepala.
"Baiklah aku harus kuat, semua demi sahabat ku. Sebentar lagi pasti sampai tujuan."
...----------------...
"Mereka itu tadi siapa tamsi , yang bermain di danau?"
Rani menunjuk danau yang tadi di singgahi anak-anak kecil.
"Wahai majikan ku, mereka adalah makhluk halus di sekitar daerah sini, jangan pernah berbicara dan mempercayai mereka."
Mereka melanjutkan langkah demi langkah menuju tepi danau, di salah satu pohon terbesar. Tamsi berubah wujud menjadi kucing hitam dan mencakar- cakar goresan tepi tanah yang berlumpur. Semakin dalam, Tamsi masuk menggali lubang sehingga Rani tidak melihat kucing kesayangan.
"Tamsi apa kau baik-baik saja? untuk apa lubang besar ini?"
Jeritan Rani dari atas melihat kucingnya masuk ke dalam lubang yang di gali. Namun Tamsi tidak menjawab apapun dan masih saja menggali berjam-jam lamanya.
Aku sangat khawatir, aku ingin menyusul sahabat ku. Rani mencari-cari benda apa saja yang bisa membuatnya masuk ke dalam lubang besar tanpa harus terjatuh. Rani mengelilingi sekitar tempat itu, namun dia tidak menemukan benda apapun.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" batin Rani.
Rani kelelahan dan duduk di dekat tepi danau,dia meluluskan kaki dan memijat begitu lama.
"Hei apakah kau butuh bantuan?", kata anak-anak kecil berenang di danau tadi yang di temui Rani dan Tamsi.
"Oh tidak! mereka berbicara padaku, aku masih ingat pesan Tamsi tadi."