
"Sekarang ibu mengerti, Rani harus lebih bersabar menghadapi sikap Cika. Dia telah kehilangan ayah dan ibunya, bukankah Tante Ela sangat menyayangi Rani?"
Rani mengangguk memeluk ibu. Dia mencoba menerima perlakuan Cika kepadanya. Akan tetapi tidak dengan penerimaan sikap amarah Cika yang menuntut perampasan Tamsi dari hidupnya. Semua benda kesayangannya boleh Cika ambil. Asal jangan kucing tampan itu.
"Rani akan mendengar kata-kata ibu, sekarang juga Rani akan meminta maaf kepada Cika. Tapi Rani tidak setuju jika Cika mengadopsi Tamsi."
Ibu melirik Rani lalu membalas senyuman dan sentuhan lembut di pipi Rani.
"Mmhhh.. pinjamkanlah Tamsi, hanya beberapa hari saja. Jadilah anak berbudi luhur dan buang semua rasa amarah di kalbu."
Rani mengangguk setuju dan mencium tangan ibu. Walau berat hatinya untuk meminjamkan Tamsi. Tanpa di sadari seorang makhluk mengintip dari dalam rak lemari dapur. Anak kecil dari bangsa bunian yang sering membuntuti Rani kemanapun langkah kaki Rani berpijak.
...----------------...
Cika mengemas barang-barang ke koper dan mengacuhkan keberadaan Rani yang memandangnya di depan pintu kamar.
"Kak kau mau kemana?"
"Aku mau pulang ke negeri bunga indah."
Rani memegang kuat tangan Cika dan merangkulnya. Berbesar hati adalah hal yang sangat sulit untuk melepaskan Tamsi sementara.
"Tamsi, Tamsi."
Kucing hitam tersebut menuju kaki Rani, tanpa pikir panjang Rani mengangkatnya ke pangkuan Cika.
"Aku meminjamkan harta yang paling berharga di dunia ini kepada mu."
"Cika tersenyum lebar mengedipkan mata."
Kemenangan Binta memperhatikan dari balik hutan terlarang telah menemui titik awal kehancuran Rani. Kini dia berhasil memperalat Cika. Ada banyak sekali rahasia di dunia ini seperti rantai misteri. Mau bagaimana lagi, hanya saja Rani tidak ingin memperpanjang masalah dan membuat Cika membencinya.Cika mengelus kepala Tamsi dan sekuat tenaga memegang tubuhnya. Jikalau Tamsi adalah kucing penduduk bumi pasti Cika sudah kena cakar atau gigitan hewan bertaring.
...----------------...
"Bagaimana tuan.. aku yakin kau sudah berhasil mengelabui manusia lemah."
"Ahahah, Bara sedikit lagi riwayatnya akan tamat."
Sang makhluk pendamping Binta yang berambut putih dan terus memuntahkan darah itu masih saja menunggu waktu yang tepat untuk memakan jantung Rani.
...----------------...
Rani berjalan menuju halaman belakang rumah. Di menuju arah selatan menuju wilayah bunian. Tanpa di sadari oleh Rani, Tamsi sudah mengikuti jejaknya sampai menuju pasar bunian.
"Kakek..."
Rani berjalan melewati kegiatan mereka tanpa memperdulikan makhluk-makhluk yang menggangu.
"Ka, kakek."
Panggilan Rani seolah angin lalu. Pasar bunian yang sangat ramai menenggelamkan suaranya.
Tamsi menarik tangan Rani dan berjalan berbalik arah pulang.
"Sahabatku, kau mau kemana?"
Misteri yang belum terpecahkan, bulan merah telah datang ke dunia nyata untuk mengganggu kehidupan Rani. Tamsi dan Rani duduk di bawah pohon dekat wilayah pendudukan bunian.
"Sahabatku jangan buang aku dengan orang asing."
Raut wajah Rani seperti menahan tawa yang lepas. Tadinya Rani ingin merajuk karena akan meminjamkan Cika kepada Tamsi.
"Kenapa kau tergesa-gesa? gerakan nafas mu seperti baru di kejar arwah gerombolan serigala jadi-jadian."
Kali ini wajah tampan Tamsi kusut dan Bermandi keringat. Cika telah mengejarnya dan kehadiran Tamsi tidak bisa lepas dari pandangannya.
"Majikan baru itu telah menganiaya ku."