Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Penghalang


Hidup teratur dan menjalani hari dengan baik. Itu sudah lebih untuk membuat seseorang merasa lebih tenang. Tetapi tidak dengan kehidupan seorang anak indigo. Tidak ada yang bisa menduga bahwa sampai saat ini Rani masih sanggup mencoba melewati berbagai rintangan berduri.


"Selamat datang di Penduduk bunian"


Seorang makhluk wanita tua yang berciri khas kebaya, mulutnya tetap saja melepehkan air liur warna merah. Buah pinang yang bertengger di sudut bibir anehnya merupakan makanan favorit. Ini bukan kehidupan impian di masa depan. Kehidupan yang berdampingan dengan manusia. Tidak lama kemudian rombongan makhluk menuju pasar. Mereka selalu melakukan aktivitas seperti biasa. Sesekali para makhluk menoleh melihat kehadiran Rani dan Tamsi.


"Tamu istimewa kembali hadir, kau kah anak yang sedang di rumorkan di penduduk bunian?" tanya seorang makhluk menatap Rani.


"ya, kini kucing hitam telah menjadi pilihannya"


makhluk tua mengendus mendekati mereka.


"Kenapa kau tidak memilih ku saja menjadi pendamping mu?"


"Jangan halangi jalan kami!" seru Tamsi mengerang menaikkan wajah sangar dengan taring lancip menjuntai tajam.


Satu meja untuk untuk Rani dan Tamsi, mereka di persilahkan menikmati hidangan. Rani sekarang sudah terbiasa melihat pemandangan menu spesial di pasar bunian. Satu batok berisi cacing tanah, air berwarna merah dan belatung memenuhi meja. Hanya satu jenis makanan yang masih mungkin bisa masuk di dalam lambung Rani, yaitu tusukan-tusukan buah tomat yang tersusun di samping meja.


"Tidak terimakasih nek, kami hanya singgah duduk sejenak untuk melanjutkan perjalanan"


Tamsi berjalan di depan Rani melewati pasar bunian yang luas. Sesekali makhluk aneh bermunculan dan mengganggu Rani. Walau sudah terlahir sebagai anak indigo, Rani masih memiliki rasa takut dengan kepala bangsa makhluk halus. Wajah kucing tampan yang hari ini sangat sangar, gigi taring Tamsi tampak bersemai bagai gigi harimau.


Perjalanan menuju hutan terlarang, tidak ada satupun penduduk yang bersemayam disana.


Mereka berjalan menuju rute yang sama, melewati sungai perbatasan wilayah bunian dan hutan terlarang titik tumpu jembatan berpenghalang tebing-tebing.


Terdengar dari kejauhan terdengar langkah suara dan sosok-sosok kabur berlapis kabut asap menuju mereka. Binta dan pengikutnya hadir menyergap Tamsi dan Rani.


...----------------...


"Sekarang tugasmu memberikan gadis indigo itu kepadaku" Lirik Okura tajam memastikan persetujuan kedua belah pihak.


"Kau tenang saja,kini kekuatan ku pulih dan bertambah dua kali lipat dari sebelum. Ahahah"


Perjanjian Bara dengan okura telah menemukan titik terang Bara perlahan memulihkan segala ilmu sihir. Bara memutar jubah hitamnya dan menghilang meninggalkan Okura. Apakah Bara akan benar-benar menyerahkan Rani?


"Sekarang aku sudah mengetahui semuanya, kau memang gadis yang sangat cerdik!" seru Binta.


...----------------...


Di samping Makhluk berambut putih yang terus memuntahkan darah kini mengenai tangan kiri Rani.


"Astaga pasti kau sengaja ya melakukannya padaku!" jerit Rani.


Si kucing hitam langsung membersihkan tangan Rani. Sepertinya amarah yang tidak stabil memuncak kobaran api di mata kucing tersebut. Kini memerah lalu meraih kepala makhluk penjaga Binta. Kuku tajam Tamsi merobek mulut makhluk tersebut dan di balas oleh Binta dengan pukulan yang menghujam tubuh Tamsi. Hari ini perang di mulai tanpa permisi, pertumpahan darah akan terjadi lagi.


"Serang!"


Sorak suara makhluk-makhluk pendamping bulan merah.