
Dalam malam yang gelap hingga terbit fajar, Rani semalam suntuk memantapkan diri memberitahu kepada orang tuanya.
Pendidikan yang berlanjut di negeri bunga indah dan mencapai masa depan yang lebih cerah. Rani menemui ibu dan ayahnya di ruang keluarga.
"Ayah..ibu, ada yang ingin Rani sampaikan"
"Duduklah nak" , kata ayah sambil meneruskan membaca surat kabar di dekat ibu.
Amplop putih panjang dari universitas Rani sodorkan kepada orang tuanya. Ibu yang pertama kali membuka isinya sejenak membaca, dahinya mengernyit dan tatap mata tajam menyerahkan surat tersebut kepada Ayah.
"Tidak boleh!" seru ibu melihat Rani yang duduk di sebelahnya.
Rani masih menatap ibu dengan wajah memelas. Ayah melipat surat dan kembali memasukkan ke dalam amplop.
"Kalau menurut ayah.. boleh, tapi semua keputusan di tangan ibu saja" ayah kembali meneruskan membaca surat kabar.
Ibu menatap tajam ayah dan menarik surat kabar dari tangannya. "Ayah bilang boleh? Rani itu anak gadis kita, bagaimana jika terjadi sesuatu disana?"
Ayah mengangguk dan memegang janggutnya. "Rani..kamu mau melanjutkan kuliah disana nak? coba kamu pikirkan apa jadinya kamu jika berada jauh dari orang tua?"
"Baiklah ayah dan ibu, Rani urungkan niat kesana."
Ibu kembali melirik Rani yang menundukkan kepalanya. Perasaan seorang ibu yang tidak rela melepaskan kepergian anaknya sendiri di negeri orang. Sekalipun disana terdapat sanak saudara. Ibunya tau bagaimana keadaan dan kelemahan anaknya. Trauma dan rasa cemas berlebihan ibunya untuk Rani sewaktu kehilangan Rani membuat perasaan ibu Aisyah lebih was-was. Sebelum melahirkan Rani, Bu Aisyah sudah di mimpi kan seberkas cahaya kecil yang masuk ke dalam perutnya. Setelah kelahiran Rani di dunia, Bu Aisyah melihat hal aneh yang terjadi pada anaknya di usia Rani yang ke empat tahun. Rani lebih suka berbicara sendiri dan sesekali memberikan sinyal keberadaan makhluk halus. Rani kecil yang kini dewasa tumbuh dengan kebahagiaan dan penderitaan melihat kejadian-kejadian aneh di sekitar. Namun di sisi lain hati ibu Aisyah tidak ingin berpisah jauh dari anaknya.
"Ibu masih ingat nenek-nenek yang menolong Rani dan Cika sewaktu disana?"
"Ya ibu masih ingat, nenek itu apa kabarnya ya?" ibu memutar kembali memori kebaikan wanita tua yang menolong anaknya.
"Rani sebenarnya sudah mencari informasi keterangan alamat rumahnya kepada bibi di negeri bunga indah Bu, namun alamat yang di tuju tidak ada sama sekali"
"Ibu sudah menduga..karena kegiatan nenek itu sedikit aneh, tapi ibu bersyukur dia sangat baik membantu kita "
...----------------...
Rani menekuk wajah duduk di samping Tamsi, mereka berayun-ayun di halaman belakang rumah sambil melihat kegiatan makhluk bunian yang terkadang berlari-lari kecil di halaman. Kadang wujudnya hadir dan tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
"Bara kenapa belum kembali?" Bibir Rani manyun. Tamsi turun dan berlari ikut mengejar makhluk bunian yang dari tadi di perhatikan berlari di dekat mereka.
Tret, tret, tret. Getar ponsel Rani menghentikan langkahnya yang ingin mengejar Tamsi.
📩"Aku ingin kau mati"📨
"Siapa yang mengirim pesan ini kepada ku?" bisik Rani.