Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Bulan merah pembawa sial


Pasir waktu misteri terus berkurang memenuhi gundukan kisah anak indigo. Penyihir dari penduduk bunian setiap saat memperdebatkan kedekatan Bara dengan gadis bermata biru. Seharusnya malam dan siang tidak bisa sejalan. Layaknya Air dan api tidak bisa bersama. Persahabatan mereka hanya akan melukai satu sama lain. Tidak terkecuali Tamsi si kucing tampan itu. Masih menjadi misteri, sampai kapan dia akan bertahan hidup di dunia.


Si kucing tampan selalu mencoba membantu Rani sebisanya, dia hanya berusaha maksimal untuk kebaikan di hidup Rani. Tepat setelah kepulangan Rani dari negeri teratai putih, melanjutkan langkah Bulan merah memberi tawaran kepada Bara. Dia menuju wilayah bunian, hari ini Bara tidak bisa mengawasi Rani. Bulan merah telah mengancamnya, walau Bara melawan akan tetapi semua itu sia-sia. Sekarang dia harus memilih penduduk bunian atau gadis bermata biru.


"Kau mau apakan si Rani?"


Pertemuan Bara dengan Bulan merah di wilayah bunian menggegerkan para penduduk yang melihatnya. Dia adalah cahaya terjahat di sepanjang sejarah bangsa ghaib. Tidak ada satupun yang berani mendekati atau bisa melawan. Kecuali Bara, dia pernah mencoba menghunus cahaya itu. Cahaya Bulan merah yang pernah di coba di belah oleh Bara membuat tangannya terbakar. Dia tidak bisa keluar dari wilayah bunian karena ancaman Bulan merah yang akan menghancurkan wilayahnya.


"Sudahlah bermain dengannya hanya untuk membuang kekuatan mu saja!" ucap makhluk tua kepada Bara.


"Ahahah, sebentar lagi kau akan menyaksikan kesayangan mu pergi selamanya!" bentak Bulan merah.


Dia menghilang meninggalkan Penduduk bunian bersama sinar cahaya yang menyilaukan mata mereka. Hanya Rani dan para indigo lain di belahan bumi ini yang bisa melihat sinarnya tanpa merasakan silau sedikit pun.


Pertemuan Rani dengan Binta di kampus masih membuat rasa jengkel di benak Rani. Makhluk tersebut sangat keterlaluan. Sepertinya Rani mendapat firasat buruk setelah bertemunya. Karena hari-hari buruk selalu berganti semakin buruk karena pertemuan awal dengan Binta.


Sementara Kak Alfa terlihat fokus menyetir dengan iringan musik lagu favorit.


Kilometer empat puluh kak Alfa mengatur keseimbangan jalan raya yang masih saja padat dengan angkutan umum yang berdesakan. Belokan tikungan yang tajam Alfa coba lalui dengan sempurna. Kini tiba di jalan sepi yang penuh dengan barisan pohon-pohon besar. Saat berada di dataran tinggi ada seorang makhluk yang mengganggu mereka. Alih-alih Alfa hilang kendali karena kaget dengan membanting setir mobil mereka menuju jurang. Mobil mereka terjatuh ke jurang pinggir jalan. Nahas sekali, bulan merah telah mencelakakan mereka. Hantaman benturan yang keras membuat kepala Rani sangat sakit, seluruh tubuhnya maupun tulang-tulang juga terasa seperti remuk redam terlepas. Penglihatan Rani kabur, dia berusaha melihat siapa yang sedang berdiri di luar samping mobil. Dialah Binta, dengan senyuman dan tawa terbahak bahak melihat keadaan Rani dan Alfa. Binta menghilang bersama makhluk berambut putih yang selalu memuntahkan darah. Lalu Rani hilang kesadaran bersama kak Alfa yang sudah mengeluarkan darah dari kepala


Kalau boleh memilih Rani tidak akan pergi pada hari itu, akan tetapi maut tidak bisa di hindari. Binta juga sepertinya selalu menggangunya sepanjang hidupnya. Kehadiran bulan merah membuat hidup Rani di ujung tanduk. Apakah Rani akan meninggal?


Para pengendara yang melihat kecelakaan memanggil polisi. Rani dan kak Alfa di larikan ke rumah sakit dengan Ambulance.


"Rani, kakak mohon kuatlah.."