
Rani hanya terdiam mendengar suara-suara sahut-sahutan anak-anak makhluk penghuni tempat itu. Tanpa menoleh sedikitpun dan menjawab pertanyaan yang diajukan mereka.
Salah satu dari mereka mendatangi Rani.
"Sepertinya engkau bukan dari penghuni sini?"
"Apakah kau anak manusia spesial yang di ceritakan kepada kami?"
Anak-anak kecil berwujud menyeramkan itu mengitari Rani dengan berbagai ekspresi tatapan tajam.
"Aku bisa mati berdiri menghadapi situasi mengerikan seperti ini"
Rani bertekad bulat memberanikan dirinya, dia mendorong salah satu makhluk dengan sekuat tenaga. Sosok makhluk anak kecil yang terjatuh dan menangis. Salah satu diantara mereka yang lain memegang tangan Rani dengan biji bola mata yang keluar di hadapan.
"Apakah kau berusaha melawan kami?"
Kepala makhluk itu berputar tiga ratus derajat sambil tersenyum melihat Rani. Sungguh di luar batas keberanian manusia biasa, Rani ketakutan bukan main menyaksikan adegan itu. Rani menghempaskan tangan makhluk yang memeganginya dan berlari kebirit- birit menghindari makhluk-makhluk mengerikan tersebut.
"Tamsi keluar lah mereka yang di danau tadi mengejarnya ku" jerit Rani berusaha mengatur pernafasan.
Suara Rani menggema dari pantulan bunyi asal lubang yang di gali Tamsi. Rani ketakutan berharap secepatnya kucing kesayangannya itu keluar. Dengan memastikan situasi di sekitar, biji bola mata Rani memperhatikan sekeliling.
"Apakah mereka sudah pergi? syukurlah."
Tamsi keluar merubah wujudnya dan berkata:
"Wahai majikan ku disana lah jasad Bara, letak tulang belulang itu tidak bisa aku ambil. Hanya manusialah yang bisa mengubur dan mengurusnya".
Beberapa detik kemudian Rani dan Tamsi di hadang oleh wujud gerombolan serigala jadi-jadian mengerumuni mereka. Tidak hanya beberapa saja jumlahnya, namun terlihat puluhan atau ratusan serigala. Tamsi mengambil posisi berdiri di depan Rani. Rani berpikir hari itu adalah hari terakhir Rani dan Tamsi, bagai hari pertumpahan darah yang berujung tragis.
"Bara dimana kau!" bentak Rani mencari sudut pandang ke segala arah.
Hari di masa lalu Rani kecil dan masa kini Rani dewasa mengulang kejadian yang sama. Rani berdiri di depan para serigala jadi-jadian yang pernah hampir merenggut nyawanya. Tampak Tamsi berkelahi dengan ratusan serigala jadi-jadian , luka sobekan dan sayatan cakaran para serigala jadi-jadian mengenai tubuh Tamsi . Walau sudah berlumuran darah, Tamsi tetap berdiri mereka para gerombolan serigala jadi-jadian untuk menyelamatkan majikannya.
"Arrghh.."
Rani terjatuh ke dalam lubang saat berusaha menarik tangannya yang di gigit salah satu serigala jadi-jadian. Rintik-rintik hujan menetes dan menjadi deras membasahi tanah yang berlumpur, darah Tamsi tersapu oleh air hujan mengalir menuju lubang jasad Bara.
Rani pingsan saat terjatuh dari ketinggian dan tertidur bersama kepala tengkorak dan tulang belulang yang berada di dalam lubang. Beberapa saat kemudian gumpalan awan hitam menuju Medan perang antara Tamsi dan serigala jadi-jadian. Gumpalan awan berhenti di tempat-tempat posisi para serigala berdiri.
Bara berdiri di tengah-tengah mereka , tangan bara meraih salah satu leher serigala yang paling besar dari seluruh serigala jadi-jadian lain. Hanya terhitung satu detik, satu kali retakan tepat di leher serigala jadi-jadian tewas seketika. Tamsi melihat wujud Bara yang cantik berubah menjadi bentuk penyihir yang mengerikan penuh amarah. Bara mencabik-cabik dan memakan jantung para serigala jadi-jadian dengan lahap tanpa henti.
"Sudahlah hentikan amarahmu Bara, kau tidak seperti biasanya."
Tamsi berusaha menghalang-halangi bara yang hampir menghabisi semua serigala jadi-jadian itu. Hanya Beberapa puluh serigala yang tersisa terbaring akibat mengenai mantra awan hitam dari Bara.
"Hiya.. aku bukan lah Bara lemah yang dulu kalian sakiti"
"Ampun sakit! kami berjanji tidak menganggu anak istimewa itu lagi" ucap salah satu serigala jadi-jadian.
Tamsi berusaha meredakan amarah Bara. Namun sepertinya Bara sudah kehilangan kendali. Tanpa sadar Bara membanting Tamsi yang menghalanginya memakan jantung para serigala jadi-jadian.
"Pergilah jangan mendekati aku!"