
Makan malam bersama keluarga besar Rani di sambut dengan cahaya lilin-lilin sebagai. penerang ruangan. Tidak pernah ada yang terjadi setelah tiga belas tahun menjadi menjadi anak indigo. Ketika bangun hari itu, Rani tidak tahu sama sekali bahwa hari yang terbentang saat dua dimensi yang di lalui pada hari itu adalah permulaan dari suatu akhir.
Makan malam yang tidak berasa di lidah, bukan hanya indera perasa yang seakan mati rasa. Mulut Rani seakan kelu dan terdiam membisu. Rani hanya terdiam di tengah-tengah obrolan dengan keluarga besarnya. Keluarga adalah orang-orang terdekat yang sangat menyayangi dan memahami tentang dua dimensi Rani.
"Kak bagaimana suasana di negeri bunga indah?" tanya ibu kepada keponakannya yang terkasih.
Sejenak Cika meletakkan sendok di tangannya, matanya memerah dan Cika sedang berusaha menahan air matanya.
"Cika nggak sanggup lagi tante. Suasana semakin berubah tanpa kehadiran ibu."
Air mata Cika sudah tidak bisa di bendung lagi, Cika menepis rintik hujan yang menetes di pipinya. Bu Aisyah memeluk Cika erat, sebenarnya dia juga sangat terpukul akan kesedihan yang mendalam melebihi perasaan sakit apapun di dunia ini. Kakak satu-satunya yang dia miliki ikut berpulang sepeninggal ibunya.
...----------------...
"Hentikan Isak tangismu Aisyah atau anak-anak dan keponakan kita akan mendengarnya."
Ayah Rani merangkul istrinya dan mengusap air mata yang berlinangan.
"Aku hanya teringat pada orang tua ku dan kakakku yang__"
Kepergian ibu dan kakaknya masih menjadi misteri masih terpendam di hati Bu Aisyah.
Malam yang sendu berselimut kesedihan para perindu orang-orang yang telah berpulang. Cika masih saja menangis di balik selimutnya. Tidak ada suara yang terdengar, dia berusaha menyembunyikan pilunya. Sementara Rani di kamarnya masih duduk di kursi belajar ditemani Tamsi yang terus mengawasinya dari luar jendela.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00:00 WIB. Tidak jarang Rani suka bergadang. Ada hal yang tidak semua orang rasakan mengenai penderitaan rasa sakit kepala atau emosi yang berlebihan, kadang datang mengganggu. Setiap hari Rani juga harus menjalani drama suka duka mengenai pertemuannya kepada makhluk-makhluk tidak kasat mata. Sampai detik ini Rani sesekali menoleh makhluk yang datang sekilas dari balik tembok.
Sepertinya makhluk yang suka mengganggu Rani itu tau bahwa Bara sedang jauh dan mengalami kesulitan. Hanya saja hari itu dia tidak menggangu Rani karena masih ada Tamsi yang mengawasi Rani. Dia tidak menghiraukan kedatangan sang makhluk. Di depan layar komputer Rani sibuk membuka email masuk dari Mia.
"Huffhh..."
Rani menghempaskan nafas dengan keras. Rani melahap sebatang cokelat kesukaannya. Si kucing hitam mengetuk kaca jendela dengan pelan. Belum sempat Rani membaca email yang sudah terbuka dari Mia. Tamsi menuntun Rani naik ke atas rumah. Kini Rani dan Tamsi duduk di atap dekat jendela kamar. Selain ibu, siapa lagi peringkat kedua yang bisa menjadi tumpuan harapan mengobati sesak di dada Rani. Dialah tamsi, bara yang menduduki peringkat ke empat setelah Sahabatnya Mia.
"Aku masih tidak percaya memiliki kucing pemakan coklat, mmhhh.. sahabatku, seharusnya kamu itu karnivora bukan?"
Lirikan Rani melambaikan raut wajah tersenyum melihat Tamsi.
"Sahabatku, sejak kapan kau bisa menggangguku? kita mempunyai selera makan yang sama."
Senda gurau persahabatan dua makhluk yang berbeda alam.