
"Kamu kenapa dek?"
"Nggak apa-apa kak, Rani mau siap-siap kuliah nih"
Alfa memperhatikan raut wajah adiknya yang aneh. Dia paham sekali, tidak salah lagi semua itu mengenai dua dunianya.
"Kaka pergi kerja ya, ada meeting klien jadi Rani ke kampus naik go car saja"
Kak Alfa menyelipkan selebaran ongkos buat sang adik di dalam buku kampus. Rani yang masih sibuk bergegas ke kamar mandi tanpa menghiraukan sang kakak yang sudah pergi.
Terlintas pandangan benda yang tidak asing di sudut kamar Rani. Bambu kuning yang sudah terbakar terasa ada yang mengganjal.
"Ini adalah benda pemberian nenek tetangga depan rumah, kenangan ini tidak boleh di buang" batin Rani.
Suara jeritan dari luar jendela mengalihkan pandangannya. Rani melihat dari jendela kamarnya banyak sekali makhluk-makhluk anak-anak bunian yang berlarian di belakang rumah.
"Tidak sekarang, aku hampir terlambat" gumamnya pergi berlalu.
Hari yang sesak dan padat, Rani hanya menyantap setengah piring sarapannya dan berlari sesudah bersalaman dengan ibu.
Pesanan go car tiba setengah jam lagi, Rani benar-benar sudah terlambat. Dia berlari menuju halte bersama buku-buku tebal yang ada di dalam tasnya. Hari itu dia melupakan Tamsi yang masih tidur di ruang keluarga. Rani berlari kencang seperti di kejar setan, sedikit lagi dia tiba di halte bus.
Bus di dunia nyata sangat jauh berbeda dengan bus ghaib. Rani terkadang ingin tersenyum sendiri membayangkan pengalaman nyatanya menaiki bus berhantu. Bus di dunianya lebih nyaman dengan pintu masuk yang terbuka dan tempat duduk yang nyaman walau sesekali harus berebutan. Rani duduk di kursi belakang, dia baru mengingat ada yang kurang di ingatannya. Kucing tampannya telah dia lupakan. Bau amis begitu menyengat di dalam bus. Rani berpikir itu hanyalah penciuman dari udara yang bergantian. Tidak untuk satu hari tanpa makhluk astral, seorang ibu-ibu berwajah pucat berdiri melihat dengan manik netra pupil mengecil berwarna putih.
"Hikss, hiks, sakit" Dia meronta-rontah mendekati Rani.
"Apakah aku harus melompat?" batin Rani.
"Hei kau jangan dekati aku! Berhenti disitu!"
Rani mencoba berbicara dengan makhluk itu melalui bahasa batinnya. Rani berpikir jika makhluk itu tidak mendengar isi hatinya, keputusan terakhir adalah melompat ke luar bus.
"Sakit..tolong"
"Kau bisa mendengar ku?"
Rani bergeser dari tempat duduk dan memberi ruang agar makhluk itu bisa duduk di sampingnya. Makhluk yang semula berdiri di depannya membuat seluruh giginya terasa ngilu. Rasa takut Rani di dunia ghaib tidak sebanding dengan rasa takut menghadapi makhluk-makhluk di dunia nyata. Penampilan makhluk yang benar-benar membuat Rani hampir mati ketakutan. Rani memeluk kuat buku pelajaran dan menatap lurus ke depan.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Rani.
Tangannya yang putus sebelah menunjuk ke arah sebuah jendela kaca yang rusak. Rani baru tau di sisi jendela bus sebelah kanan ada yang pecah.
"Apakah bus ini pernah mengalami kecelakaan?"
"Hiks, hiks" tangis makhluk itu lebih mendekati tubuh Rani.
"Jalan air Langga pak!" jerit Rani.
Rani berjalan seribu langkah secepat kilat menuruni bus. Dia sudah tidak tahan lagi dengan makhluk yang mendekat. Jarak menuju kampus masih agak jauh dari pemberhentian bus yang Rani tumpangi.