Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Guratan waktu


Rani menghentikan guratan tinta lukis di kanvas. Debu bertebaran menyapu sekeliling ruangan. Dua dunia ini terasa membingungkan untuk menempatkan pijakan kaki yang semakin rapuh. Cuaca mendung dan kabut masih saja memberikan kabar duka di hari-hari Rani.


Kemana saja hari indah itu akan menghilang dan berganti pelangi tanpa warna yang terang.


Tamsi mendekati Rani dan duduk terdiam. Kejadian Rani bukanlah ilusi atau angan-angan dunia kosong yang penuh fatamorgana. Situasi ini semakin sulit, mana yang harus Rani pertimbangkan sedangkan ibunya juga memberikan lampu hijau untuk Cika agar meminjamkan kucing hitam milik Rani.


Penduduk bunian itu memang nyata, tidak ada keraguan untuk membohongi sendiri ketika mencoba menepis menutupi atau mengabaikan semua penglihatan mata batin. Tamsi memalingkan wajah dan menutup rapat dengan kedua tangannya. Permainan takdir atau nasib yang terjadi sudah tidak bisa Tamsi hindari.


"Sabahatku.."


"Rani, semua permintaanmu akan aku turuti asal jangan mengabaikan kehadiran ku untuk berpaling mengurus makhluk lain."


...----------------...


Detik jarum jam membangunkan Rani dari dua dimensi yang dilaluinya. Bingkai cerita ini seperti labirin yang berputar-putar. Atau mirip kisah fantasi yang di luar batas kewajaran. Kelahiran Rani si anak indigo yang sudah tidak asing lagi untuk di perbincangkan di wilayah penduduk bunian. Sudah berjam-jam Rani tidak memperdulikan luka yang tergores pada pada kaki Tamsi. Rani tersadar bercak-bercak darah hitam di pergelangan tangan.


"Apa yang sudah terjadi pada kucingku?"


Rani berlari menuju rumah mencari-cari keberadaan Sahabatnya. Seisi rumah tampak sepi. Ada Catatan kecil yang terbaca, "Ibu sedang menemani Ayah ke luar kota, hati-hati di rumah jangan kemana-mana."


"Lalu kemana perginya Cika"


Telpon Rani terputus dan tidak ada tanda-tanda Jawaban yang bisa menyelesaikan masalah.


"Tamsi.."


Rani memanggil kucing tampan itu di sekeliling wilayah rumah.


Langit sudah hampir gelap dan Rani tetap merasa sendirian.


...----------------...


Dia berpura-pura mengagumi seekor kucing bunian yang di temukan Rani di seberang wilayah perbatasan pintu lubang Fortal hitam.


"Aku yakin Bara pernah berada di sini, tepatnya di kamar Rani."


"Tapi mengapa dia hanya datang untuk Rani?"


Binta telah mencuci pikiran Cika dengan hal-hal jahat untuk menepis bahwa Rani adalah sepupunya. Tepat beberapa waktu lalu, Tamsi menolong Cika dan Rani di rumah nenek mereka. Namun kecemburuan berlarut sampai Cika mendengar seorang makhluk yang bernama Bara. Binta membisikkan sesuatu dari belakang tubuh Cika dan mendekat.


"Untuk menyimpan sesuatu yang engkau tidak ketahui."


Cika mengangguk setuju. "Bisa jadi dan ,aku sekarang lebih yakin dengan semua perkataan mu," katanya.


"Tapi setelah hari ini, kau akan lebih yakin dengan segala hal yang bisa saja terjadi tanpa kau duga."


Binta memutar bola api dari balik tubuhnya memberikan satu kotak dan satu lapis kain hitam.


"Bawa lah dan buktikan segalanya."


Cika terbangun dari tidurnya. Aneh sekali hari ini Rani berputar-putar mencari keberadaan mereka ternyata Binta telah mengelabui mereka.


"Permainan telah di mulai lagi."


...----------------...


Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Rani. Dia mengintip waspada dari balik jendela. Rani melihat jika membukakan pintu untuknya. Tampak Binta turun dan menerima sebuah kotak berlapis kain hitam. Rani yang tampak curiga memperhatikan isi kotak tersebut. Gelagat mereka sangat mencurigakan.