Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Kedatangan Cika


Rerontokan dedaunan yang di terpa angin kencang di halaman belakang rumah seakan menyambut Rani. Setelah mengantarkan Rani lewat topi penyihir milik Bara, bubu kembali masuk ke fortal hitam.


"Bara, aku sangat menghawatirkan mu!" gumam Rani.


Rani berjalan langkah terbata sangat lemas menuju rumah, dia terus menerus mengusap air mata di pipinya. Dia kembali membalikkan badan dan menuju Fortal. Jalan Rani berhenti tepat di depan dan kembali memikirkan Bara.


"Rani, Astaga dari mana saja sih? ibu sepanjang hari mencemaskan mu" teriakan kak Alfa mengagetkan lamunan Rani.


Kak Alfa menarik tangan Rani masuk ke dalam rumah. Tampak terhidang segelas susu coklat hangat dan sepiring nasi goreng yang tersaji di atas meja makan.


"Duduklah, ibu berpesan sebelum pergi agar tidak lupa menghidangkan ini untuk mu."


"Terimakasih kak, akan tetapi dimana ibu?"


"Ibu dan ayah pergi menjemput Cika di bandara", sahut kak Alfa.


"Hufffh.. kenapa tidak mengajak Rani."


Cubitan kecil mendarat di pipi Rani, wajah Rani cemberut dan melirik kak Alfa.


"Duh kali ini Rani akan membongkar rahasia kecil!" kata Rani bertegas memantas kan pendiriannya.


"Rahasia apa?" tanya kak Alfa.


Rani mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga kak Alfa.


"Jika setiap kali Tamsi mendekati kakak, berarti Kaka sedang di dekati makhluk lain. Jujur saja pasti Kakak akhir-akhir ini sedang di ganggu si wanita gembira."


Kak Alfa menggerut kan dahi,menutup telinga dengan kedua tangannya rapat-rapat dan pergi menuju kamar.


...----------------...


Cika hadir ke rumah keluarga Rani dengan membawa segudang hal misteri. Guratan tentang lembar sendu sendan membawa kabut hitam.


"Rani!", senyum Cika memeluk erat Rani.


"Duh rindu, kenapa tidak memberi kabar?" tanya Rani protes.


Cika rindu sosok wanita yang sangat menyayanginya lebih dari apapun di dunia ini. Kepergian Tante Ela yang masih menjadi misteri. Kebakaran di rumah nenek membuat mereka trauma yang berkepanjangan selama hidup mereka. Rani dan Cika duduk bersama sambil melihat orang-orang berlalu lalang. Pohon duku yang semakin tinggi melewati kamar Rani menambah suasana rindang.


Tamsi mendekati Rani, tampak pita rambut Cika yang sedang tergigit olehnya.


"Kucing yang baik kembalikan pita ku!" senyum tipis Cika memandang si kucing hitam dan mengambil pita dari gigitan Tamsi.


"Rani.. bolehkah aku mengadopsi kucing mu?" tanya Cika sambil tersenyum memandang dengan mata yang berkaca-kaca.


"Semua milikku boleh kau ambil asal jangan kucing tampan ku!" balas senyum Rani kepada Cika.


...----------------...


Tepat jam 8 malam mereka beristirahat dan kembali bercerita di atas tempat tidur.


"Bambu kuning ini sudah terbakar", kata Cika menunjukkannya kepada Rani.


"Hantu mana yang sudah kau lempar?" tanya Rani.


"Aku pikir benda ini hanya gurauan mu saja ! tetapi setelah aku di ganggu makhluk berbaju putih aku melemparkan benda ini dan..."


"Kau berhasil membakarnya ?" potong Rani .


"Hahahh, ahahah", serentak tawa mereka memenuhi ruang kamar Rani .


"Miaw, Miaw" Tamsi keluar dari kamar Rani.


"Selamat malam kucing peliharaan ku!" kata Cika mengelus kepala tamsi.


Cika mengejar Tamsi yang keluar dari kamar Rani. Rani tersenyum lebar mengintip Cika dari balik pintu kamar yang asik mengejar Tamsi yang tidak mau berhenti berlari.


"Rani..."


Panggilan suara dari dalam kamar Rani .