Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Di tunda takdir atau pasir waktu?


Kejadian ganjil dan segala serangan atau hambatan yang menjadi pertanda buruk jika melanjutkan rencana. Makhluk yang berdiri di tengah lintas jalan kembali memperlihatkan wujud mengerikan. Tamsi melompat dari jendela mobil dan mendekati makhluk tersebut.


"Tamsi, sini Nis"


Panggilan Rani total di abaikan Tamsi namun yang benar saja. Si kucing hitam adalah kucing ghaib dari Penduduk bunian bukan kucing dunia. Entah kenapa makhluk tersebut berubah wujud mirip sekali dengan nenek, ibu membuka pintu mobil dan berlari memeluk.


"Ibu, Apakah kau ibu?" Isak tangis ibu Aisyah melepaskan rindu pada orang tuanya.


"Tidak untuk mengelabui ibuku, aku tau kau bukan nenek! makhluk jahat!" batin Rani dan melengos kepada makhluk tersebut.


Rani mendekatinya lalu berkata, "Apa yang kau inginkan?"


"Rani, ini nenekmu nak! Hikss."


Rani melingkarkan tangan ke pinggang ibu Aisyah, Rani mengelus pundak ibu dan menekan-nekan jempol ibu.


"Ibu, sadarlah.. ini hanya halusinasi makhluk yang menggangu."


Ayah dan kak Alfa mendekati ibu Aisyah. Mereka tidak melihat apapun selain makhluk yang berdiri di tengah jalan tadi sebelum ibu keluar dari mobil. Sepertinya mereka memang tidak bisa berkunjung ke rumah paman dan bibi yang rumahnya berdekatan dengan bekas peninggalan rumah nenek.


"Ayo semua kita masuk."


Ayah menarik tangan ibu berjalan masuk ke dalam mobil bersama-sama. Setir rute balik arah memutar haluan menuju lintas kota.


Tangis ibu masih pecah, sepanjang jalan tisu berhamburan untuk menyapu air matanya.


"Ayah, kita mau kemana?"


"Apakah ayah mau langsung mendaftarkan Rani?" tanya Alfa mendekati kursi ayah.


Sejujurnya hati ibu sangat berat melepaskan kepergian anak gadisnya bersekolah di negeri orang. Terlebih lagi Rani mempunyai dua dunia yang tidak bisa di pisahkan. Apa jadinya jika Rani jauh dari keluarga?


Pukulan batin seorang ibu jika terjadi sesuatu pada anaknya. Rani dan Alfa adalah permata hati ibu, keputusan ibu sudah tidak bisa di halangi lagi walau rencana agar Rani bersekolah di negeri bunga indah.


"Tidak untuk malam ini menuju asrama, ayah!"


potong ibu yang berusaha mengatur nafasnya.


Mobil mereka terparkir menuju restoran, seharusnya tadi itu jalur seberang sebelum sampai restoran adalah minimarket seorang nenek-nenek yang pernah menolong Rani dan Cika.


"Semua terasa aneh sekali", batin Rani.


Sajian hidangan sea food menyemai berjejer memenuhi meja. Hanya pesanan Rani yang berbeda. Dia sangat alergi dengan makanan laut, suatu ketika satu ekor daging kepiting rebus yang di paksa di telan, alhasil dia keluarkan kembali dari rahang. Rani memang berfostur tubuh ramping, namun selera makannya adalah porsi orang bertubuh gendut. Tidak untuk makam malam Rani tanpa lauk pauk yang meriah, dia meminta untuk memesan nasi goreng, jus alpukat dan beberapa cemilan.


Adegan melihat hantu di hutan Gaharu masih menjadi misteri. Ibu sepertinya tidak berselera untuk makan. Misteri ini harus di pecahkan namun selalu saja misi Rani yang menggebu-gebu di tunda oleh pasir waktu.


Rani ingin membuka suara mengenai penampakan makhluk di hutan rimbun namun melihat keadaan ibu yang masih sedih mengurungkan niatnya.


"Sudah ibu putuskan, kita hanya berlibur disini! tidak untuk melanjutkan sekolah. Ayah dab ibu tidak ingin terjadi sesuatu pada mu."


"Baiklah Bu.."