Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Tamsi kucing hitam penjaga


Rani menegakkan tubuhnya dan memandangi mereka satu-persatu. Dia mengamati bentuk-bentuk mereka satu persatu. Di dalam benak Rani, dia tidak terima akan pernyataan yang terlontar mengenai manusia di kalangan asumsi para makhluk bunian.


"Apa kata mu tadi? jangan kau dan bangsamu pikir semua perbuatan kalian tidak cukup buruk kepada Manusia, aku melihat hanya beberapa saja yang mempunyai kebaikan di dalamnya", ucap Rani.


Dia berusaha tegar tanpa berjalan mundur ke belakang atau goyah dengan kalimat tajam para makhluk yang seakan mengancam nyawa Rani. Salah satu makhluk itu mendekati Rani, di mengelilingi tubuh Rani sambil mengendus mencium aroma tubuh Rani.


"Darahmu kenapa berbeda dengan kebanyakan manusia lain?"


Salah satu dari mereka memegangi kedua tangan Rani. Makhluk itu mengikat Rani di bawah pohon dengan akar-akar pepohonan.


"Kalian akan menyesal memperlakukan ku seperti ini, karena aku tidak berniat jahat pada kalian semua?" bentak Rani.


"Besar sekali nyali mu berani membentak kami!" ucap sang Makhluk yang memegangi bahu Rani.


Mata Makhluk memerah melotot dan mengeluarkan cakar di sela jari-jari kaku. Sebelum kuku menembus menusuk leher Rani, bola api terbang ke arah Makhluk itu dan membakarnya.


"Argh.."


Makhluk seketika langsung lenyap menjadi abu yang berterbangan tertiup angin.


Beberapa makhluk lain menyeret Rani dan sedikit lagi Rani terlempar ke arah jurang. Tamsi datang dan melompat ke arah Rani, mata yang berubah menjadi warna hijau menyala. Tamsi mengangkat Rani dan membawa Rani terbang ke luar penduduk bunian. Rani di turunkan oleh kucing hitam itu di tepi pantai, malam itu cahaya rembulan menyinari wajah.


Apakah Tamsi sejenis kucing siluman? batin Rani.


Dengan tergopoh-gopoh Rani berjalan dan meraih sepotong kayu di dekat.


"Wahai Sahabatku, Bara sedang merundingkan masalahnya di penduduk bunian dekat Fortal hitam, sekali lagi jangan pernah mendekati wilayah bunian di perbukitan pantai Parangtritis tanpa aku dan Bara",


"Baiklah, aku sedang tersesat. Apakah engkau tau dimana ayah dan ibu?" tanya Rani.


"Wahai majikan, engkau sudah di alam dunia. Mari kita pulang", jawab Tamsi sambil tersenyum.


Rani dan Tamsi berjalan menuju villa untuk menemui keluarga Rani. Saat di jalan, Rani masih bertanya-tanya di dalam hati siapakah sebenarnya kucing peliharaan yang sekarang selalu membuntuti. Tamsi bisa berubah menjadi kucing hitam dan berwujud lain menjadi manusia yang utuh. Gigi taring yang sedikit keluar dan bentuk goresan matanya yang tajam menambah kesan misterius di hati Rani.


"Terimakasih Tamsi, kau selalu menjaga ku."


"Wahai majikan ku, aku akan menjagamu sekuat tenaga ku, aku di utus dari negeri seberang."


"Negeri seberang mana yang engkau maksud Tamsi?"


Dia hanya diam, seakan suatu ikatan perjanjian yang penuh misteri di hidup Rani.


"Aku sangat rindu pada Bara, aku merasa sepertinya kami akan segera berpisah", ucap Rani.


Tamsi hanya terdiam mendengar pengakuan majikannya yang begitu sayang kepada makhluk halus.


"Wahai majikan ku sayang, aku sudah menemukan jasad Bara yang jaraknya beberapa jam perjalanan dari tempat ini, apakah engkau siap menuju kesana dengan menaiki bus hantu?"


"Apakah katamu tadi Tamsi atau bus hantu? aku jadi teringat kejadian tahun lalu. Ahahahhh itu adalah pengalaman pertamaku menuju penduduk bunian."


"Waktu liburan kita hampir selesai, besok pagi-pagi sekali kita akan berpetualang", ucap Rani untuk yang kedua kalinya dengan memegang kepala kucing nya.


Tamsi berubah menjadi wujud kucing lagi, setelah sampai di depan pintu villa.