Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Tuan thomas


Cahaya lampu dari kamar Rani berkedip-kedip melewati badai hujan di tengah malam.


Namu suara ketukan dari balik masih terdengar jelas di telinga. Kuatnya angin menggoyang pepohonan seakan menerbangkan lambaian kapas bertebaran.


BUUMM! Dahan-dahan pohon patah di dekat kamar Rani. Di dalam rumah tingkat itu yang ada hanya Rani, kak Alfa dan Cika.


Kak Alfa keluar dari kamar dan memeriksa di sekeliling wilayah rumah. Alfa berjalan di tengah kegelapan bersama lilin di tangannya. Suara seretan langkah kaki di sekitar ruangan.


Kak Alfa memeriksa di setiap sudut namun keheningan menyelimuti hawa merinding tubuhnya.


Setelah hari ini Alfa kaget bukan kepalang melihat makhluk aneh bergerak mengikutinya. Dia ingin teriak, Alfa ingin berlari menuju kamar Rani namun tertahan. Belum sempat Alfa melihat keadaan Rani, dia berlari kembali ke dalam kamar dengan tubuh menggigil. Makhluk yang pernah menempel di dinding kamar Rani kini menampakkan wujud ke hadapan Alfa. Kembali Alfa melangkah Keluar dari kamar dan memastikan apakah makhluk menyeramkan itu masih mengikuti.


"Rani" Alfa mengetuk pintu kamar adiknya dengan pandangan mengawasi sekitar. Suara guyuran hujan bercampur angin menenggelamkan suara Alfa.


Rani dari dalam kamar kini mendengar suara ketukan pintu.


"Hei jangan di balas ketukannya !" seru makhluk dari balik jendela.


Ketukan dari balik dinding berkali dua ketuk dan ketukan pintu tiga ketuk. Kamar Rani sangat terang dengan lilin-lilin dan lampu Batre yang selalu di persiapkan untuk menghadapi malam. Mengingat ketraumaan dahulu menghadapi listrik yang padam membawa sesosok makhluk berjubah hitam.


"Kakak maaf tadi tuan Thomas memanggilku"


Rani mendekati makhluk itu dan berbisik, "Sampaikan pada tuan Thomas kalau aku minta ijin ke wilayah Bunian tanpa di ganggu penduduk disana."


"Hihihih"


Hal yang paling tidak Rani suka dengan makhluk itu adalah keanehan pada mereka.


Rani mengetuk-ngetuk dagunya. Kedua ketukan itu membuat rasa penasaran Rani.


"Kak Alfa!" teriak Rani.


Alfa menghentikan aktivitas dan terduduk membisu. Di benaknya ingin sekali bercerita kepada Rani tentang makhluk yang di lihatnya tadi, akan tetapi Rani sudah terlalu terbebani dengan kehadiran makhluk yang lebih mengerikan sepanjang hidup.


"Kakak kenapa? apa yang terjadi?"


Kak Alfa menggelengkan kepalanya, Rani melihat makhluk di belakang Alfa yang menatap tajam mereka.


"Kakak tadi ketemu hantu?"


Tanpa menjawab pertanyaan, Alfa hanya menelan ludah masih merasa sekujur tubuhnya sangat merinding.


"Ayo kita lihat Cika dimana kak"


Susah sekali Alfa menjawab perkataan Rani, seumur hidupnya baru itulah dia bertemu makhluk mengerikan.


Tidak lain makhluk itu adalah anak kecil yang meninggal di rumah Rani. Kuburan yang tertanda batu kerikil besar tepat di depan halaman rumah Rani. Dua dimensi Rani telah menunjukkan pada Rani, Jauh sebelum menempati rumah mereka. Rumah mereka dahulu adalah rumah bekas bangunan rumah Belanda. Tuan Thomas adalah ayahnya.


Rani memutar bola matanya, dia mengingat-ingat dan menyatukan setiap kejadian dua dimensi yang di lalui.


"Aku sudah menduga bahwa makhluk menyeramkan ini adalah anak tuan rumah!" batin Rani. Tampak Rani dan Alfa berjalan ke kamar Cika.


Tok, tok, tok.


"Cika buka pintu!"


Sudah beberapa kali mereka mengetuk pintu. Kemanakah Cika pergi?