Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Masa yang terlupakan


Angin menggulung Membawa gumpalan kabut hitam. Sesosok makhluk yang bersembunyi di balik jubah hitam besar kini perlahan menampakkan wujud. Bola mata yang tidak seperti biasanya, Bara menatap tajam di sekeliling dengan pancaran mata merah dan gigi taring panjang bagai harimau yang siap memangsa. Dahulu wilayah bunian sungguh permai tanpa perseteruan panjang atau peperangan bercampur dendam dan penghianatan. arwah yang kosong beralas pembalasan hadir membawa sejuta ingatan nestapa dari kehancuran. Keegoisan dan hasrat yang dahulu meredam kini bangkit tanpa bisa cegah.


"Hiya.."


Bara memutar kepala makhluk pendamping bulan merah seakan putaran mesin giling mengeluarkan perasan air hitam dari batok kepala.


Krass, krass, krass..


Sepuluh detik berlalu,kunyahan Bara menelan makhluk menelan dengan sorot mata mencari mangsa baru. Sudah terlalu lama Bara terpuruk mencari jalan keluar sampai akhirnya Okura datang. Okura menunggu janji Bara dengan memasang kuda-kuda untuk siap menyambar Rani.


"Penyihir licik! kenapa kau belum jadi abu di dalam neraka!"


Binta melibas Bara dengan Percut api dan mengejar Bara keluar dari hutan terlarang.


Okura sudah tidak sabar lagi untuk mendapatkan Rani.


"Arrgghh"


Tamsi menggigit tangan Okura dan membawa lari Rani keluar dari wilayah bunian.


"Bara cepat tangkap mereka!" sergah Okura mengejar Rani dan Tamsi.


Lika-lika ini menggambarkan keriuhan makhluk-makhluk pemangsa yang tidak pernah lelah mengincar Rani. Di alam ghaib sana, hanya beberapa makhluk bunian yang rela berkorban demi gadis bermata biru. Panggilan suara Rani memanggil-manggil bara masih terngiang. Bara tidak menoleh akan tetapi dia sedang berusaha mengelabui Okura agar tidak menyentuh Rani.


"Bara!" panggil Rani.


...----------------...


"Kenapa Bara tidak mau menatapku?"


Tamsi menuntun Rani menuju pintu masuk. Tubuhnya masih terasa sakit akibat hantaman pasukan Bulan merah. Rani memperhatikan Luka di punggung Tamsi.


"Sahabatku tunggu disini aku akan mengobati lukamu"


"Tidak usah sahabatku, sebenarnya luka ku ini akan sembuh jika sudah memakan dedaunan obat di wilayah bunian"


Rani mengangguk dan mengelus kepala tamsi. Sahabat adalah dia yang rela berjalan bersama mu melewati hujan badai. Tidak perduli dengan gelapnya malam, dia akan tetap bersamamu walau sekalipun bayanganmu meninggalkan dirimu sendiri. Tamsi kucing bunian yang sangat menyayangi Rani lebih dari apapun.


...🔥🔥🔥...


"Kak, kau tidak jadi main denganku?"


Makhluk kecil menagih janji kepada Rani. Dia telah berjasa membantu Rani mencari keberadaan Tamsi di sungai. Kaki Rani yang masih terasa pegal akibat perjalanan di penduduk bunian mengharuskan dia kembali tegak menjawab perkataan makhluk itu.


"Baiklah kau mau main apa? bukankah hadiah permen untuk mu sudah aku berikan?"


"Aku ingin kakak ikut main petak umpet dengan ku, teman-teman ku sudah menunggu kita disana"


Rani terkejut melihat anak-anak dari makhluk misterius menunggunya untuk bermain bersama. Memorinya masa kecilnya terputar mengingat dia pernah melakukan hal yang sama saat kecil dahulu. Rani pernah bermain bersama makhluk-makhluk di jurang dekat pohon bendo.


"Jadi kalian dulu teman-teman yang pernah bermain dengan ku?


"Ahahah, ayo Rani!" teriak makhluk bunian menarik tangan Rani.