
Rani menoleh di samping halaman dan ternyata disana sangat ramai.
"Untuk apa mereka mengundang ku?" batin Rani penuh tanda tanya.
Rani memasuki semak belukar di luar halaman dan Susana seketika berubah menjadi dingin dan menakutkan. Lorong antara pembatasan dunia manusia dan makhluk bunian di jaga oleh dua makhluk yang jangan bersebelahan dan satu makhluk yang mengambang terbang di tengah antar mereka.
Ah untuk apa aku mengikuti keinginan mereka? batinku.
"Tapi aku harus menjaga perdamaian di antar kami karena aku yang mengetahui kehadiran mereka disini. Aku juga tidak melupakan kebaikan beberapa makhluk bunian diantara mereka yang pernah membantuku untuk pulang kerumah naik bus berhantu itu," semua gumam terucap di benak Rani.
"Kenapa kamu tidak membawa lampu mu itu?" kata makhluk itu kepada Rani.
" hihihih",
suara ketawa makhluk aneh yang mendekati Rani.
"Pemimpin kami sedang menjelajahi tempat lain dan pendampingannya mengadakan perkumpulan dengan menghidangkan ramuan spesial kepadamu! okura sangat menyukai mu!" kata makhluk itu lagi sambil menarik tangan Rani ke arah kerumunan.
"Miaw!" Tamsi datang lalu menggigit tangan sang makhluk.
"Argh, argh.." suara jerit mengerang sang makhluk yang tidak terkendali.
Bola matanya melingkar hitam pekat dan menetes darah berwarna hitam. Makhluk itu menatap tajam si kucing hitam dan mengangkat Tamsi dengan satu tangannya. Lehernya seolah ingin di patahkan oleh makhluk itu karena sudah menggigitnya.
"Dasar makhluk pendendam! ayo lawan dia Tamsi," gumam Rani.
Seolah Tamsi mendengar suara batin Rani yang dalam sekejap kembali mengeluarkan api berwarna hijau yang menyala di tangannya dan makhluk bayangan hitam itu datang lagi mendekati Rani.
Masih menjadi misteri pakah Tamsi juga jelmaan bayangan hitam tersebut yang membunuh makhluk jahat saat tragedi berdarah di rumah nenek bersama Tante Ela dan anaknya dulu. Makhluk itu sangat mirip dengan makhluk yang pernah menyelamatkan Rani. Seketika kabut dan asap tebal di sekeliling membentuk wanita cantik memakai gaun berwarna hitam.
"Aku okura pendamping pemimpin dari bangsa kami, sudah hentikan pertarungan ini. Kami hanya mengundangmu untuk menjalin hubungan baik, mari kita bersulang", kata sang makhluk.
"Aku akan meminumnya setelah aku sampai rumah saja ,bawakan saja minuman itu untuk bekalku!" jawab Rani.
"Aku tau kau sangat meragukan kami dari dulu Rani bahkan saat kau masih kecil juga kau hampir membenci kami", ucap sang makhluk itu.
"Ketahuilah aku pernah di tipu oleh beberapa makhluk sebangsa kalian perihal sahabat-sahabat ku!" kata Rani melirik penuh arti.
"Ahahahahhhh ! apa kau yakin diantara itu bagian dari kami ! ingatlah hukum alam kami hampir sama dengan kalian , kami tidak akan mengusik dan sebaliknya", kata makhluk itu.
"Mungkin itu cuma firasat ku saja okura!", jawab Rani.
"Ingatlah Rani, ada banyak makhluk dan bagian makhluk yang masih menjadi di dunia nyata dan tidak nyata", kata sang makhluk sambil meminum air nya kembali.
"Silahkan kau nikmati perjamuan ini dan kau boleh memilih pendamping penyihir setia di antara kami", kata makhluk tersebut.
"Tidak terimakasih aku hanya saja melihat-lihat", jawab Rani.
"Ahahah, kau tidak pernah berubah. Itulah rumor yang beredar di dunia kami tentang mu. ahahah", kata makhluk itu sambil tertawa.
"Baiklah aku akan membuka buku ramalan tentangmu."
Makhluk tersebut sambil membalik buku-buku yang ada di atas meja.
"Ini adalah kali kedua aku menyampaikan pesan yang sama! ya bulan merah itu mengincar dan mencari mu untuk menghancurkan mu Rani bersiaplah", kata makhluk itu.
"Jangan bilang kau juga ingin membahas si kucing tampan ku. Maka aku akan langsung pergi dari sini", ketus Rani.
"Aku akan menunggu sampai kau siap Rani."
Setelah dia melewati penyihir penduduk bunian lainnya ada sesosok wanita penyihir lain menawarkan sesuatu.
"Rani kemarilah, aku mempunyai sebuah labu untuk mu! ini adalah labu yang isinya butiran kekuatan ku!",
ucap wanita memakai topi penyihir di samping okura.
"Terimakasih akan mengambilnya saat aku benar-benar membutuhkan",sahut Rani.
"Sebut saja namaku utra dan bakarlah sebuah Ranting pohon kering maka aku akan datang kepada mu", kata sang wanita bertopi penyihir.
Rani hanya diam dan mengangguk kepala dan berjalan melewati wanita-wanita tersebut.
Ada susunan Masakan mereka dengan asap mengepul. Sementara Rani masih bingung kenapa suasana berubah-ubah membuat manik netra biru muda sulit mengartikan. Rani berjalan terus melewati mereka dengan memperhatikan segala kegiatan mereka.
Akhir dari keramaian disana dia bertemu seorang wanita yang mengaduk tempat masakan mereka.
Makhluk itu berkata, "Aku adalah Bara. Apa kau tidak berniat memilihku? aku mempunyai kekuatan paling mengerikan dari diantara kami bertiga, akulah si penyihir tanpa menggunakan syarat."
Rani kembali menggelengkan kepalanya sambil berjalan melewati sang penyihir.
Sekejap bayangan laki-laki hitam mengangkat Rani menuju keluar tempat menyeramkan .
"Kau ini jelmaan Tamsi atau makhluk lain?" batin Rani.