
Rani berdiri di dekat pembatasan tempat. Dia melirik Tamsi dengan pandangan yang tajam.
"Kau adalah sahabatku dan sudah menjadi bagian dari keluarga ini tapi aku masih melihat banyak kejanggalan dan rahasia dari dirimu wahai kucing hitam", kata Rani.
Tamsi hanya menunduk dan meninggalkan Rani sendirian di belakang rumah.
"Aku paham akan batas rahasia makhluk dan alam ini , aku hanyalah manusia biasa yang tidak mau melewati batas kewajaran!" gumam Rani. Terlintas suara makhluk berdiri di belakang Rani.
"Siapa disana?" gumam Rani sambil menoleh ke sekeliling halaman.
Makhluk yang seperti sedang mempermainkan Rani, tampak dia sedang berdiri di belakang Rani dan kembali menghilang darinya.
"Ahah, hei", sang makhluk seakan mengajak Rani untuk bermain.
Dia sesekali tertawa dan menarik rambut Rani.
Sampai akhirnya seekor anak ular mendatangi Rani dan si kucing hitam berlari mencengkeram ular tersebut dan menggigit. Tamsi mencabik -cabik ular yang menggangu sampai sekitar rahang mulut berlumuran darah.
"Tamsi jangan!" jerit Rani.
Namun kucing tersebut terus mengunyah sampai habis. mata Tamsi hari ini sangat sangar dan tajam. Seketika sesosok makhluk kembali menampakkan diri di hadapan Rani.
"Sudah cukup anak kecil. Aku ingin mengadu kekuatan denganmu!" kata sang makhluk.
Makhluk tersebut kembali mengunyah Bangkainya tikus mati di atas piringan daun kering dengan penampilannya memakai lipatan sarung di pinggang. Atas kepalanya ada serabut di lingkari anak-anak ular yang bergeliat mengerumuni rambut.
"Kekuatan apa yang kau maksud? jangan menggangguku karena aku tidak menggangu mu!", ucap Rani.
"Hiya!" setelah terucap jeritan dan mantra dari sang makhluk serentak angin kencang dan tanah bergetar. Rani terjatuh, dia sangat ketakutan. Badannya lemah dan sangat gemetar.
"Tamsi!" jeritnya dalam hati.
Kemudian Bara datang di hadapan mereka dengan mengarahkan tangannya ke langit dan menggulung angin begitu dahsyat.
"Bara dia membantu ku! penyihir yang aku temui di tempat makhluk bunian," batin Rani.
Bara mencekik leher makhluk tersebut dan mematahkannya.
"Dasar kau nenek peot. Pergilah kau!" ucap bara.
Tubuh bara melayang mengangkat makhluk itu dengan satu tangan.
Bunyi tulang-tulang leher yang patah dengan cengkraman kuku panjang hitam menjulur mengikat ular-ular. Seketika makhluk pun hancur binasa dan ular-ular yang melingkari kepalanya berhamburan ke tanah. Tamsi melompat ke bawah kaki Rani lalu binatang melata itu berpindah haluan ke Bara. Bunyi desis bara kepada ular itu disertai mata melotot. Dari arah tempat bunian, mereka berjalan dan mengerumuni Rani. Mata Rani merah dan air matanya terus mengalir. Dia sangat ketakutan dan sempoyongan.
Bara memegangi Rani menuju kamar.
"Hanya kau yang bisa melihatku Rani. Keluarga mu sedang sibuk di luar rumah, panggil saja aku dalam hatimu maka aku akan datang, bahkan aku akan sangat senang jika bisa selalu di dekatmu", kata bara.
"Terimakasih bara akan tetapi biarlah aku seperti ini apa adanya , aku tidak mau menambah dan mengurangi apa-apa yang sudah menjadi garis mu", sahut Rani dengan mata membinar.
Bara memegangi tangan Rani dengan sangat hati-hati. kuku-kukunya yang panjang itu masih belum kembali sedia kala. Tubuhnya dingin seperti air salju dan wajahnya sangat pucat. Dia adalah penyihir pertama dari bangsa bunian yang menyelamatkannya.