
Selepas pulang dari rumah Mia pekan lalu badan Rani menjadi lemas dan tertidur sampai malam hari. Ibu, ayah dan kak Alfa melarikannya ke rumah sakit dengan penuh rasa cemas dan khawatir. Ayah mengendarai mobil dengan laju kencang. Sesampainya disana langsung para dokter dan perawat menempatkan Rani di ruang ICU. Malam itu belum ada tanda-tanda akan kabar baik dari Rani. Dia masih saja belum sadar, sampai tiba doker mengatakan bahwa Rani mengalami koma.
Malam yang panjang tidak ada yang menyadari bahwa Tamsi telah menembus pintu ruangan kamar Rani. Ayah, ibu dan kak Alfa duduk bersandar di kursi luar ruangan karena dokter belum mengijinkan siapapun masuk. Tamsi tidak mendekati Rani, dia naik ke atas jendela dan memandang luar. Gelagat yang aneh terus menerus menatap dengan tatapan setajam belati.
Hari berganti hari namun Rani kembali drop dan sakitnya masih membawa tertidur koma terlalu lama. Tamsi juga bagai hewan yang tidak dapat di lihat oleh siapapun di ruangan itu. Pada saat nenek Aska dan neneknya menjenguk. Tampak manik mata nenek menunju ke arah jendela.
"Nenek melihat ada kucingnya Rani di ruangan ini", kata nenek.
"Apa yang sedang di lihat kucing itu di depan jendela nek?" sahut Aska.
Nenek Aska berumur satu abad, jalannya sudah membungkuk dan bersusah payah dia tertatih sampai di pinggir Jendela.
"Ada apa dengan Rani?" batin nenek.
"Aska, Rani di atas ayunan!" tambahnya.
Aska berlari mendekati jendela namun tetap saja Aska tidak bisa melihatnya dan menembus penglihatan di luar batas kewajaran manusia.
"Rani, bangun nak nenek datang!" teriak nenek dengan bersuara lirih.
Nenek mengguncangkan badan Rani. Akan tetapi Rani tidak sadar juga.
"Aku seperti mengenalnya, mereka adalah para makhluk bunian yang pernah aku temui waktu lalu."
Mereka berbondong-bondong menaiki perahu dan berlabuh menjauh dari dermaga. Rani berjalan ke arah pantai tersebut dan ada yang mendorong Rani dari belakang.
Seraya tubuhnya terjungkal ke dalam laut dan masuk tenggelam ke dasar yang sangat dalam.
"Aku sendirian. Tamsi mana? aku sangat ketakutan."
Rani seperti sedang terpisah atau di pisahkan oleh dua dimensi dan tersekat. Tamsi tidak datang dan mencari-cari dimana pun dia tidak menemukannya. Rani terdampar di dalam dasar laut, dia berjalan dan berjalan menyusuri akar, terumbu karang dan rumput-rumput laut di dasar air. Dia sampai disebuah istana yang sangat megah. Rani masuk ke dalam lorong berbentuk pilar -pilar yang sangat panjang dan lebar. Ada lapisan-lapisan emas yang terpahat di dinding-dinding nan megah itu. Rani berdiri di antara pilar dan datanglah deru ombak di dalam laut, airnya membenturkan dinding tersebut.
Aneh namun nyata, ombak yang menggulung berputar di dalam dasar air tidak tersentuh oleh Rani sedikit pun. Rani bagai terlindungi saat berdiri di depan dekat pilar itu.
krincing.
Ting, ting, ting ( Bunyi suara hentakan kaki kuda)
Rani melihat dari kejauhan ada sesosok wanita cantik yang tak pernah dia jumpai sebelumnya. Dia beranjak dari kereta kuda kencannya dan menghampiri Rani sambil tersenyum.
"Siapa wanita cantik itu?" batin Rani membelalak terkejut melihat makhluk yang sangat berbeda dari penduduk bunian.