
Geri telah berkhianat untuk yang kedua kalinya, mereka semua sudah bersusah payah. Arti kata bersusah dan payah disini adalah teman-teman yang sudah mempertaruhkan nyawa mereka masing-masing antara hidup dan mati untuk sampai disana dan pulang dengan selamat pula. Bunga raksasa yang mereka petik dari gubuk derita itu telah mereka kembalikan dan misteri akan makhluk yang masih mengikuti mereka masih belum terpecahkan.
Di tambah lagi mengenai Geri ,dia seseorang yang teramat tamak dan tak bisa memegang kata-katanya akan pantangan atau larangan yang di langgarnya ketika di alam Bunian tersebut. Berhari-hari tim SAR mencarinya namun tanda-tanda dari Geri belum di temukan. Rani juga sangat bingung, misteri apa yang membuat Geri menghilang dan kucing Rani mengacuhkan kata-kata Rani untuk menolong Geri. Setelah berpamitan kepada kakek dan nenek serta mengucapkan terima kasih akan kebaikan warga disana maka para remaja itu berpamitan pulang tanpa bersama Geri.
...----------------...
Aska pulang dengan di ikuti arwah anak kecil yang tempo hari pernah mereka temui di kota bunian itu, sementara Mia di ikuti makhluk bunian lainnya. Rani berpesan pada para sahabatnya untuk memberikan mereka hadiah permen dan peralatan dapur sebagai tanda oleh-oleh pada para Makhluk itu agar berpulang kembali.
Sesampainya di rumah Geri.
Kring, kring.
"Halo!" Rani mengangkat telpon rumah.
"Halo? Dengan siapa disana?" Rani kembali bertanya.
"Hiks, hiks, Hiks" , pekikan suara tangisan membuat bulu kuduk Rani merinding.
( Panggilan terputus)
"Dari siapa nak?" kata ibu sambil menghidangkan masakan.
"Tidak ada sepatah katapun Bu ,terdengar menyeramkan!" kata Rani.
"Sudah ayo sini gabung dengan ayah dan kak Alfa" , ibu meletakkan piring dan gelas di atas meja makan.
"Ayah,Rani penasaran akan cerita kerajaan zaman dulu mengenai silsilah keluarga dari pihak ayah."
Rani membisikkan kalimat itu kepada ayah dan fokus melihat ayah.
Rani hanya diam membisu usai penjelasan ayah. Makan malam di akhiri dengan pertanyaan yang berputar-putar di atas kepala Rani. Ibu menemani anak gadisnya tidur malam itu, namun malam itu adalah malam yang panjang bagi Rani.
Dia belum juga terpejam hampir dini hari. Dia mendengar suara berisik dari ruang tamu, perlahan dia membuka pintu kamar agar tidak membangunkan ibu. Ada Geri yang berdiri di sudut ruangan, namun kepalanya penuh darah dan kedua tangannya telah terpotong-potong. Rani begitu ketakutan. Dia berlari menuju kamar tanpa jeritan yang seperti biasanya dia lakukan saat bertemu dengan makhluk halus lainnya. Nafasnya Rani terengah-engah, keringat dingin dan rasa takutnya itu bertambah besar.
"Miaw, miaw."
Rani membukakan pintu untuk Tamsi dan tamsi berjalan mendekati bawah tempat tidur Rani.
"Aku yakin itu Geri. Namun kenapa dia seperti sudah terpisah dari tubuhnya!" gumam Rani berkecamuk.
KE ESOKAN HARINYA.
kring, kring(bunyi suara telepon)
"Halo."
Kak Alfa mengangkat telepon dan memanggil Rani.
"Rani, Aska mau ngomong nih!" kata kak Alfa.
"Ya ada apa dengan Aska?" air mata Rani membanjir pipi, betapa terkejutnya dia akan hal yang dia lihat tadi malam benar adanya.
Mayat Geri di makamkan di sekitar wilayah penduduk itu karena jarak pemulangan kerumah tidak memungkinkan. Telah di kabarkan jasad tubuhnya telah terpisah-pisah, pihak keluarga Geri juga sangat histeris menyaksikan tragedi anak mereka akan sepeninggalan yang tidak wajar.
"Selamat jalan sahabat."
Air matanya menetes dan pikiran Rani menoleh kebelakang akan kejadian yang sudah di alami.