Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Perjalanan mistis ke hutan sebelum mencapai Fortal


Kejadian demi kejadian aneh menimpa hidup Rani mengapa demikian tetapi demikian takdir seseorang yang mendapat anugerah indera ke enam. Namun masih menjadi nasib baik Rani sampai saat ini walaupun dia setiap hari mengalami dua dimensi perlu di garis bawahi dia masih bisa selamat dan memiliki seorang pendamping kucing hitam yang misterius.


Setelah mendapat informasi dari teman-temannya mereka semua berkumpul di satu titik keputusan, ya mereka akan kembali ke hutan itu lagi untuk memecahkan misteri akan makhluk-makhluk yang mengikuti mereka tempo hari. Tidak hanya gerombolan lima serangkai lagi selain Mia, Aska, Geri, Rani dan tamsi. Kini kak Alfa ikut bersama mereka untuk berpetualang, terlebih lagi dia ingin menjaga adik kesayangan.


...Setelah menembus alam gaib di perkotaan atau perkampungan wilayah penduduk bunian, perjalanan Rani dan lainnya menjelajah misteri lebih dalam di pulau itu. Masih tanda tanya besar suasana gaib apa yang terjadi di sana....


Pulau yang terdapat pedesaan terpencil yang menyimpan misteri dan fenomena gaib yang tersimpan. Tak mengherankan jika warga setempat kerap kali mengalami hal-hal yang ganjil.


"Ada kepentingan apa lagi kalian berkunjung di desa berhantu ini?"


Pinta nenek yang pernah beberapa hari kami tinggali rumahnya.


"Ada tugas kuliah yang harus kami selesaikan nek, mohon bantuannya" kata Aska.


"Permisi nek, kami sebenarnya selepas kepulangan dari tempat ini di ikuti oleh makhluk-makhluk yang mengganggu kami" ujar Rani.


"Aku tau yang kalian maksud, seperti nya mereka ingin bersemayam atau menjadi pendamping yang menyesatkan salah satu di antara kalian" kata nenek.


"Apa yang harus kami lakukan nek? kami sangat ketakutan" ucap Mia.


"Beristirahatlah dulu di rumah nenek, esok hari pergilah bersama kakek untuk menyusuri hutan."


"Terimakasih banyak nek, perkenalkan saya kakaknya Rani" Alfa mencium punggung tangan sang nenek. Aroma anyir tercium menelisik rongga hidung, hampir saja Alfa melepaskan bersin di dekatnya.


KEESOKAN PAGINYA.


"Banyak jejak-jejak sejarah di pulau itu yang belum sepenuhnya terungkap. Karena itulah harus membuat persiapan yang cukup untuk perjalanan ke sana. Bukan hanya perbekalan makanan dan fisik" kata kakek.


Kak Alfa berbisik kepada Rani, "Agaknya yang dia maksud adalah bekal batin kita."


Seperti biasa, perjalanan di mulai dari rumah kakek. Nenek memberikan kami suguhan sarapan ciri khas pedas manis dan membawa kan kami bekal yang begitu banyak.


Alangkah baiknya nenek ini gumam Rani.


"Anak-anak, kita harus mengambil jalan pintas dengan menaiki perahu motor karena perjalanan menyusuri hutan terdalam itu memakan waktu sekitar empat jam. Lalu, perjalanan juga harus di lakukan dengan berjalan kaki selama tiga jam. Perjalanan merambah hutan tengah di lakukan untuk mencapai titik sasaran atau area lokasi penjelajahan", seraya kakek memberikan begitu banyak petuah pada mereka.


Semua perlengkapan mereka bawa dan perbekalan sudah di persiapkan secara matang. Mereka menuju dermaga kecil untuk menyusuri hutan.Tetapi saat mereka melewati dengan perahu kecil, Rani melihat makhluk penduduk bunian juga ikut melakukan perjalanan melewati jalan dengan menggunakan sampan dari kayu yang panjang.


Tepat pukul 19.00. Mereka sampai di titik tengah lokasi, hawanya sangat lembab dan dingin. Keadaan alam sekitar pun nampak sunyi mencekam. Sesekali terdengar suara burung hantu di tambah nyanyian serangga malam ganti berganti. Angin berhembus kencang menggoyang-goyangkan pucuk pepohonan. Mereka langsung mencari mayat yang tersusun di letakkan di atas penyangga bambu yang pernah mereka lewati.


"Kalungnya sudah kembali kepada pemiliknya lagi", kata Geri sambil menunjuk ke arah mayat yang tergantung.


"Misi selanjutnya Kita harus secepatnya mencari gubuk derita itu lagi untuk mengembalikan bunga bangkai yang pernah di pungut disana", ucap Rani menegaskan ucapannya.