Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Detak dunia berpindah


Diary Indigo:


Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi, atau mentari yang indah itu hanya untuk manusia yang normal saja?


Ckckck, manusia bermata biru itu jika di bilang tidak normal bukan berarti gila atau tidak waras. Yang tidak normal hanya ketidaknormalan sebagai manusia dalam perbedaan dua dimensi dalam kehidupannya.


Persepsi yang berbeda adalah hak setiap masyarakat dalam memberikan suaranya. Berpendapat lah yang sewajarnya sebagai manusia yang masih memiliki hati nurani.


Di kehidupan ini, pasir waktu akan berhenti sesuai kehendak takdir garis tangan masing-masing.


...-Rani-...


Bara sepertinya tidak memperdulikan suara jeritan Rani. Hujan api yang berasal dari campuran gumpalan semburan api rahang Bara hampir saja terkena oleh Rani dan membakar tubuhnya.Tidak ada yang bisa menghentikan amukan Bara.


"Rani, awas!"


Si kucing hitam terus saja menjerit dan berusaha menggapai Rani. Mereka tersungkur di tepi sungai, Tamsi membawa Rani keluar dari wilayah bunian. Rani kembali berdiri dan melangkah masuk menuju wilayah bunian. Akan tetapi Tamsi menarik lengan baju Rani dan mengajaknya menjauhi wilayah Penduduk bunian.


"Hei! bersahabat dengan makhluk seperti kami, menyenangkan bukan? Ahahahh."


Nenek pemakan sirih menatap Rani," jadikanlah aku pendamping mu."


Tangannya yang panjang menjulur seakan ingin menggapai tangan Rani. "Ahihihh."


Tamsi mengigit tangan makhluk itu, nenek pemakan sirih sontak menghilang bersama sisa suara kunyahan biji pinang dan daun sirih.


Dari kejauhan suasana di wilayah bunian masih menampakkan suasana langit yang berwarna merah menyala.


Seolah itu bukan hanya kobaran api yang membara.


"Apakah itu pertanda bulan merah?" bisik Rani.


Peperangan Bara dan Binta yang sesungguhnya telah di mulai membekas pertanda api abadi yang tidak bisa padam di atas tanah bunian.


"Tamsi, apakah bulan merah akan membunuh kita semua?"


Kucing hitam itu hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Rani.


Dari sisa tadi malam banyak tampak abu serpihan Bakaran bertebaran di atap rumah. Setelah keluar dari wilayah bunian, Rani sangat mengantuk dan masih tertidur di kursi meja belajarnya sambil menatap yang berada di dekat jendela. Sementara di ruang tamu, pria yang pernah Keluarga Rani jumpa secara tidak sengaja itu bertamu ke rumah dengan membawakan seorang anak kecil. Adik kecil yang pernah pria itu cerita kan kepada Rani. Dia juga bisa melihat makhluk halus.


"Silahkan di minum, ibu tinggal sebentar ya."


"Terimakasih Bu."


Hari ini di rumah hanya ada ibu dan Rani. Ayah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali bersama kak Alfa. Adik kecil itu berlari mengejar Tamsi yang sedang berdiri di depan pintu.


Dubragh.


"Hiks, hikkks." Tangisnya memecah keheningan rumah. Rani dari kamarnya melihat keributan di belakang rumah.


"Anak siapa itu? lalu apakah pria tersebut adalah pria yang di negeri teratai putih?" gumamnya.


"Ya Bu, Rani turun."


"Halo, kau ingat aku? dan ini adalah adikku yang pernah aku ceritakan."


Anak kecil yang malang, badannya kurus dan raut wajahnya menguning sangat pucat. Rani meraih adik kecil dari lengan pria tersebut dan menggendongnya.


"Adik kecil, apa yang sakit?"


Dia menunjuk kepalanya, itu adalah rasa sakit kepala yang terlalu sering di alami oleh anak indigo.


"Bukan hanya sakit, adikku suka bermain dengan seseorang yang tidak terlihat."


"Tidak bermain, akan tetapi ingin di culik oleh wanita yang sekarang mengikuti mu dari teratai putih."


Rani berjalan melangkah mundur membawa anak kecil itu. "Fara, mau kau bawa kemana adikku?"


Sesosok makhluk yang terlihat oleh Rani dari balik tubuh pria itu terus saja mendekati Rani. Rambutnya panjang dan melayang di udara. Bekas mata yang bolong seperti tercungkil mengeluarkan darah dan belatung.


"Bukankah hantu seharusnya takut dengan matahari! jenis makhluk apa dia? jangan dekati aku atau aku akan memanggil Sahabatku!"


Tamsi melihat dari atas pohon dan terus saja menatap pria tersebut. Hari ini kucing tampan itu sepertinya lebih suka memanjat di atas pohon. Namun pandangannya selalu menjaga Rani.


"Batu berwarna ungu yang tidak sengaja aku temui di kota bunga indah, apakah ini di balik semuanya?"


"Ya, kau kembali ke jepang dan letakkan benda jahat itu pada asalnya."


"Aku tidak berniat mencuri nya, aku menemukan nya saat berpatroli di hutan."


"Tidak ada Waktu lagi, pergilah."


...----------------...


Setelah berpamitan dengan ibu dan Rani. Pria itu pulang bersama sang adik dengan terburu-buru. "Ibu, anak kecil tadi juga bisa melihat makhluk halus."


"Kasihan sekali, wajahnya sampai pucat seperti itu akan tetapi dulu juga Rani kecil tidak kalah pucat wajahnya dan sering menangis."


"Eheheheh."


Rani merangkul pundak ibu dan berjalan menuju dapur. "Seperti biasa Bu, Rani mau mencuci alat dapur sebelum ibu pakai buat memasak."


"Penduduk bunian lah pelakunya."


"Ahihihh." Tawa ibu dan Rani sangat keras sampai terdengar menuju wilayah bunian.


"Rani..."


NB: Apapun benda yang engkau temui tanpa sengaja, bisa jadi itu adalah pemilik makhluk ghaib. Kemungkinan mereka sengaja meletakkannya, atau kemungkinan mereka ingin menunjukkannya kepadamu. Waspadalah, waspadalah, mereka mengintai dan selalu memperhatikan mu.