Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Kediaman wilayah bunian lainnya


Siang terik Rani berjalan di pesisir pantai dengan bergandengan mengayunkan tangan dengan Bara. Dia mengabaikan orang-orang yang datang dan pergi, hiruk dan lirik di kanan dan kirinya. Orang-orang hanya berpikir Rani seperti orang aneh yang berjalan sendirian sambil bertingkah begitu, hanya dia yang bisa melihat Bara. Rani adalah sahabat pertama Bara, dia seseorang yang mengajarkan Bara tentang arti persahabatan yang abadi. Pandangan menerawang jauh ke lepas laut kidul.


Tidak perduli suhu badan bara yang berbenturan dengan Rani. Mereka seperti bumi dan langit yang tidak akan bisa bersatu.


Bara seolah berat jikalau suatu hari dia pergi meninggalkan Rani. Mereka berjalan-jalan menuju perbukitan di belakang gunung dekat tepi pantai. Disana terdapat penduduk bunian yang selalu di lihat Rani sejak pertama kali dia menginjakkan kaki ke laut selatan. Rani yang mulai terbiasa dan sudah menepis rasa kegusarannya tentang keberadaan makhluk lain. Dia tersenyum sambil melirik Bara.


"Baiklah sahabatku, kau memang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka, tetapi karena asal-mula mu bukan seperti mereka maka makanan di pasar ini tampak tidak membuat mu selera, eheheh." Celoteh Rani tertawa pendek di depan bara.


"Aku hanya menikmati suasana disini, sedikit berbeda!" sahut Bara.


Tamsi yang berjalan mengikuti Rani dari belakang memperhatikan kegiatan para penghuni bunian. Beberapa makhluk yang melihat keberadaan Rani, Bara dan tamsi hanya menunduk wajah tanpa menggangu Rani seperti tempo dulu.


"Kenapa sosok Bara begitu menyeramkan di hadapan mereka? semoga Bara tidak ingin menipuku, aku hanya ingin bersahabat dengannya" batin Rani.


Wajah dan rupa para Bunian di daerah itu lebih menyeramkan dari biasanya, Rani duduk di kursi kayu bekas pohon tumbang.


"Bara, aku melihat banyak manusia yang mati mengenaskan di sekitar tempat bunian ini sampai wujud makhluk di kamar villa kami menangis terlihat sangat menderita, apakah para makhluk bunian pelakunya?" tanya Rani.


"Jangan kau salahkan mereka Rani, mereka tidak akan menggangu manusia jika tempatnya tidak di kotori atau di rusak!" tegas Bara dengan wajah marah.


"Ada apa dengan mu Bara? Baiklah, aku tau tidak semua dari mereka baik dan buruk, tapi aku hanya berusaha menghindari darinya" Rani berdiri lalu menghadap Bara.


"Ada ingatan yang terlintas di mataku akan perlakuan manusia jahat. Kau tau ulah manusia yang membunuh ku Rani? jasadku di kubur hidup-hidup."


Tamsi mengantarkan Rani sampai di depan pintu villa, "Wahai majikan ku ,aku akan menjagamu dari luar villa dengan Bara!"


Itulah ucapan kalimat kedua yang keluar dari mulut Tamsi dan dengan senyuman pertama si kucing dengan memamerkan gigi taringnya yang tajam.


"Terimakasih Tamsi tolong lihatlah Bara juga , aku tidak pernah melihatnya selemah ini sebelumnya", sahut Rani .


Kring, kring.


"Rani cepatlah angkat telepon itu nak , dari tadi siang Mia mencari mu" Ibu memberikan telpon kepada Rani.


Rani : "Halo Mia, bagaimana keadaan mu?"


Mia : "Aku baik-baik saja Rani, bolehkah aku bertemu dengan Bara?"


Rani : "Ada apa dengan Bara ? Ya tentu saja aku akan menyuruh Bara menemui mu secepatnya"


Mia : "Terimakasih Rani, aku tutup ya"


Rani menjadi bingung dengan maksud sahabatnya, entah mengapa dia mempunyai firasat yang buruk terhadap Mia. Kemudian dia segera menepisnya dan dia menyalahkan dirinya sendiri atas gambaran yang terlintas di pikirannya.