Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Menembus jalan panjang


Hasrat Okura dan Bulan merah telah menggebu-gebu untuk mendapatkan gadis bermata biru. Setelah kehadiran Bara kembali di penduduk bunian namun mengacuhkan kehadiran Rani yang sedang menatapnya. Sebenarnya itu tidak membuat Bara berpaling dari Rani Sahabatnya. Sebuah rencana Bara agar Okura tidak terlalu curiga kepadanya.


Nama tiga serangkai yang di pahat di batang pohon di wilayah bunian masih tersimpan Rani di balik jubah Bara. Penyihir terhebat sedang mencari cara untuk memusnahkan bulan merah dan menjauhkan Rani dari incaran Okura.


...----------------...


"Sudah cukup semuanya bubar!" tegas Rani.


Perasaan jengkel Rani melihat para makhluk-makhluk anak-anak kecil yang tidak mau berhenti bermain boneka di kamar Rani. Janji telah lunas dan Rani sangat lelah melihat tingkah-tingkah aneh mereka. Rani menelantarkan kondisi kamar yang masih berantakan, sebaran boneka-boneka dan permen gulali. Dia menuju panggilan suara kak Alfa. Langkah Rani terhenti dan mencium bau amis yang berasal dari dapur otomatis memutar haluan jalan Rani mencari sumber tersebut.


Wujud seorang makhluk bunian menghadap ke arah kompor pemasak dengan posisi membelakangi Rani. Wujud yang hampir menyerupai wujud manusia. Terlihat baju makhluk itu berwarna putih, kusut dan kumal. Rani mendekatinya berniat ingin menangkap basah apa yang sedang dilakukan makhluk tersebut.


"Hei siapa kau?" bentak Rani.


Makhluk itu menghilang sebelum Rani mencapainya.Tempat nasi yang masih berisi terletak di atas kompor.


"Huh pantas saja, apakah makhluk bunian itu makan nasi?" batin Rani bingung dan kembali menuju panggilan kak Alfa.


"Rani.. Lama sekali"


Kak Alfa tersenyum melihat tempat nasi yang berisi penuh di tangan Rani. Alfa berdecak menambah siul di depan teras rumah dengan menyorot pandangan menuju depan jalan.


"Rani mau makan? Cepat kakak menunggu"


"Tidak kak" jawab Rani.


"Miaw.." Tamsi mendekati Rani.


Setelah mereka menjemput ibu dan melakukan kegiatan rutin, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hanya ada tiga kursi tersusun rapi.


KRING, KRING.


"Ya baiklah ayah kalau begitu hati-hati" ,kata ibu menyahut panggilan dari telpon.


Rani memperhatikan wajah ibu yang sedikit murung. Ingin rasanya dia melayangkan pertanyaan namun tertahan. Rani tidak mau ibunya bertambah gusar. Makan malam tanpa ayah, mereka melahap masakan ibu dengan nikmat. Tidak ada masakan yang lebih lezat di dunia ini selain masakan ibu.


...----------------...


Setelah selesai makan malam bersama keluarga, mereka melepaskan penat dengan beristirahat masing-masing di kamar.


Malam ini Rani masih saja susah memejamkan mata, dia sedang duduk di atas tempat tidurnya dan melanjutkan menulis diary.


...đŸ“•Diary Rani Indigo...


...Menghitung hari melewati perjalanan penantian panjang. Mata batin yang bisa melihat alam ghaib adalah kisah nyata ku yang penuh misteri....


Cahaya bulan merah berbentuk bulat menerangi setiap sudut kota di malam kelam. Dia kembali hadir setelah tiga catur Wulan. Jika setiap orang terkena cahayanya maka terjadi sihir penggerak setiap jiwa yang menelusup masuk melalui aliran darah. Tahun lalu, nenek yang telah menolong Rani, cika dan tamsi sewaktu mereka berada di negeri teratai putih.


Seorang nenek misterius menyimpan sejuta rahasia yang belum di ketahui oleh Rani.


Dari balik angin yang berhembus, dia menyampaikan bisikan menembus waktu. Siapakah sosok nenek itu sebenarnya?