
Rani dan para makhluk anak penduduk bunian bergandengan tangan di dalam kamar. Mereka sedang beratraksi saling melempar bantal guling bergiliran, sesekali mereka menjerit dan berbalas tawa dengan yang lain. Hari ini kamar Rani menjadi taman bermain para Makhluk bunian. Ini adalah hari kemerdekaan mereka setelah delapan tahun lamanya mereka menanti hari yang paling di tunggu. Bermain dengan anak indigo, tepat di umur Rani jatuh pada tahun ke enam mata batinnya terbuka dapat menembus dimensi ghaib.
Kejadian Rani kecil terulang lagi pada dirinya sekarang, dia tidak menyangka akan bertemu semua anak-anak yang dulu pernah bermain dengannya. Sebelum Rani menempati rumah baru, dahulu kala rumah pertama Rani bersebelahan dengan pohon bendo raksasa. Hanya manusia yang bisa bertambah usia, namun tidak dengan makhluk bunian. Ada banyak sekali rahasia alam yang tidak semua bisa di tembus oleh manusia sekalipun itu anak indigo.
Rani kecil yang dahulu suka bermain bersama makhluk-makhluk bunian di pinggir jurang, bermain ayunan dan saling juga permainan tarik menarik dengan benda yang sejenis dengan goni menuju jurang. Tapi tidak dengan Rani besar, ada batasan yang harus para makhluk bunian ketahui bahwa beberapa ilmu sihir telah menjaga Rani tanpa Rani memintanya.
Kamar Rani sangat berisik, suara tawa renyah sesekali mengerikan terdengar dari dalam ruangan. Kak Alfa yang baru pulang dari kantor mendengar suara-suara aneh dari asal kamar Rani.
"Ribut sekali, apakah Rani mengundang anak-anak masuk ke dalam kamarnya?" gumam kak Alfa.
Alfa berjalan menuju kamar adiknya dan mengamati suara aneh yang terus menerus berbunyi.
"Miaw.."
Tamsi memanggil Rani dari luar pintu kamar. Kak Alfa ikut menyusul Tamsi langsung meraih kucing berwarna hitam itu.
"Kemarilah Kakak gendong" Senyum Alfa melihat Tamsi.
Suara-suara aneh terus menerus timbul dari balik kamar Rani. Tangan Alfa mendaratkan satu ketukan ke pintu kamar Rani dan tiba-tiba. Tidak ada angin dan semacamnya, pintu kamar Rani terbuka sendiri tanpa ada angin atau siapapun yang membuka. Terlihat Rani duduk dengan memegang bantal guling di tangan kanan dan permen di tangan kiri.
"Rani.."
Dia menoleh dan tersenyum melihat kakaknya. Tamsi berlari menuju Rani dan menatap para makhluk-makhluk di sekeliling.
"Kakak mau ikut main?" tanya Rani.
Sekujur bulu kuduk Alfa merinding, sangat merinding bercampur kepala terasa pusing berputar-putar sesuai bola yang berputar.
Rani hanya terdiam dan tidak menjelaskan alur awal kepada kak Alfa.
"Rani tadi main sama teman-teman kak."
"Teman-teman siapa?" arah pandangan Alfa menuju setiap sudut ruang.
...----------------...
Bara dan Okura duduk di tepi sungai di dekat hutan terlarang dengan berdebat panjang saling melempar bola api dari tangan ke tangan yang lain.
"Kenapa kau lepaskan anak itu?"
"Aku tidak melepaskannya, dia hanya kabur saat aku mencoba membela diri dari serangan bulan Merah"
"Sepertinya kau harus lebih memulihkan tenagamu."
Okura menarik jubah hitam milik Bara dan mendorong dengan satu tangan.
"Apa yang sudah kau lakukan sebenarnya? cepat pergi dan bawa dia untuk ku atau kau akan segera menanggungnya sendiri."
Senyum menyeringai Binta bersahut tepukan tangan Okura. Okura berdiri dan menawarkan dua gelas berisi darah kepada mereka.
"Rani dengarlah kali ini aku tidak akan melepaskan mu!" seru Okura melirik sinis.