Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Ketulusan Api Bara


Kepada penduduk bunian


Sambungan rantai ghaib tidak terbatas


Di sana keajaiban yang mengerikan


Dunia yang penuh tanda tanya


Aku sendirian, melintasi dua dimensi


Kadang aku terjatuh dan berdiri sendiri


kehidupan berbagai makhluk halus,


penuh misteri


Tempat yang harus menempa jantung baja


Kalau boleh memilih,aku hanya ingin hidup yang normal


Menikmati rotasi bumi tanpa berpindah haluan


para makhluk yang menyeramkan


Hutan terlarang yang mengisahkan penderitaan


Bagaimana pendapat kalian tentang hari ini?


Aku seolah di ujung kematian


Siapa lagi yang akan menambah tepukan riuh bahagia di atas kesakitan?


Seharusnya aku tidak hidup, atau seharusnya aku tidak melihat dua dimensi


Apakah kepergian yang terbaik saat ini?


Aku sendiri...


Sekalipun engkau menghilang selamanya. Dunia akan terus berputar. Segala aktivitas dan kegiatan lalu Lalang di muka bumi ini akan terus berjalan. Serbuk bunga teratai para gadis indigo bermata biru akan berganti tumbuh.


Apakah yang kau rasakan saat detak jantung mu melemah dan terasa ingin terhenti? Sekujur tubuhmu akan kedinginan, lidahmu keluh, ubun-ubun terasa dingin seperti ingin tercabut. Bagaimana dengan rambut? rambut terdengar berbunyi aneh.


Kritik..krik..kritik. Sangat aneh sekali bukan?


Tidakkah kau tau bahwa rambut juga bernyawa? ini adalah rahasia alam semesta.


...-Rani-...


...----------------...


Ternyata suara sahabat yang telah lama menghilang di hidupnya. Bara? Rani mendengar segala perkataan Bara.


"Katakan sekali lagi bahwa seharusnya aku tidak mengenalmu?"


Bara melihat Rani dari kejauhan dan kembali meneteskan air mata darah hitam. Miris sekali, seharusnya hati penyihir penduduk bunian itu telah menghilang ribuan tahun lalu bersama keras dan ketamakannya dahulu.


Apakah jiwa manusia telah kembali bersama bangkitnya jasadnya? Perjuangan Rani yang ingin mengubur jasad Bara pada waktu itu telah di hentikan oleh pasir waktu. Bara duduk di atas meja potabel dengan mengamati Rani. Ayah tidak mengetahui keberadaan Bara, dia kembali menutup pintu untuk menuju ke ruang Alfa.


...----------------...


"Ayah"


Panggilan suara Alfa lirih sayup mata dengan tangan yang berusaha dia angkat.


"Alfa, sudah bangun nak? tunggu ayah panggil ibu ya"


"Tidak tunggu ayah, Rani.."


"Rani masih pingsan,kenapa bisa seperti ini?"


"Alfa!, kamu sudah sadar nak?"


Ibu Aisyah berlari memeluk Alfa. Dia mencium kening anak bungsunya.


"Maaf ayah, ibu semua salah Alfa"


"Tidak! anggap saja semua ini adalah cobaan hidup manusia", jawab ibu.


"Tapi lain kali hati-hati, harus fokus!" ayah memotong pembicaraan.


...----------------...


Bara memutar tangannya dan mengeluarkan asap putih yang menggumpal. Dia mengarahkannya tepat di kaki Rani. Ini adalah pengorbanannya yang terakhir kali sebelum bulan merah menghancurkan penduduk bunian. Ancamannya seolah nyata, Bara tidak bisa berlama lagi di dunia nyata.


"Alam kira berbeda Sahabatku", bisik Bara di telinga Rani.


Bara melilitkan asap putih itu di kaki Rani yang seharusnya di operasi hari ini. Tidak ada yang mengetahui sihir apa yang mengikat kaki Rani di malam itu. Kaki Rani yang dingin perlahan hangat, seolah aliran darahnya kembali lancar sedia kala.


"Bangunlah Rani, sampai kapan kau tertidur? Apakah sihir ku sia-sia?"


Bara sudah tidak mempunyai waktu lagi. Sang penyihir bunian langsung merapikan selimut Rani.