
Rapat meja bundar membahas permasalahan sepekan lalu. Mia menceritakan ayah dan ibunya Rani. Perihal Rani tidak mau membuka suara kepada Cika. Kejadian pemukulan tembok di halaman belakang Rumah. Rasa keingintahuan Cika dan kecurigaan goresan luka pada tangan Rani. Ayah, ibu, kak Alfa, Cika dan Tamsi duduk membentuk lingkaran mengelilingi Rani.
“Hufffh.. aku yakin sekali pasti hal ini tentang kabarku yang tidak sadar diri di halaman belakang,” gumam Rani.
“Ayah, ibu. Apakah Rani harus duduk di dalam lingkaran seperti ini?”
Wajah Rani menggerut masam nan kecut.
“Ceritakan saja semuanya kepada kami”, seru Cika.
Sebenarnya keluarga Rani sudah memahami dua dimensi yang di lalui Rani. Hanya saja Cika berpikir kejadian tadi harus di beritahukan kepada om dan ibu Aisyah. Cika yang meminta keluarga Rani berkumpul untuk membicarakan hal yang membuat Rani pingsan. Rani berdiri menghadap Cika.
“Cika, mengapa kau seperti ini?”
Ayah meninggalkan tempat perkara di susul oleh ibu untuk membantu ayah berkemas.
“Ayah, hari ini ada pertemuan dengan klien, apakah ibu ingin ikut?”
“Tidak, berita Rani harus ibu selesaikan terlebih lagi Rani harus ibu nasehati agar tidak terhanyut dengan dua dimensinya.”
Ibu Aisyah merapikan dasi suaminya dan membantu merapikan dokumen-dokumen penting ke dalam tas menuju mobil.
“Sudahlah jangan repot-repot seperti ini bu, ayah bisa melakukannya sendiri. Tugasmu sudah terlalu berat setiap hari mengurus rumah dan anak-anak."
Ibu Aisyah tersenyum dan merangkul ayahnya Rani.
...----------------...
Cika berdiri menghadap Rani dan melipat tangan ke depan dada.
"Maksudmu?"
Rani spontan mengambil selangkah mundur dan tiba-tiba merasa tidak bisa menduga apa yang di lakukan Cika. Rani juga tidak mengira Cika membentak dengan suara keras.
"Kenapa kau berubah seperti itu? Ibu kandungku saja tidak pernah mendikte di hadapan semua orang", bisik Rani.
Kak Alfa melerai perseteruan mereka dan memegang pundak Rani.
"Adikku sayang cepat minta maaflah kepada Cika."
Mengalah bukan berarti kalah, akan tetapi sikap Cika sudah benar-benar keterlaluan.
"Aku berusaha bersikap baik sebagai sepupumu, tidak perduli betapa aku mencoba membantumu untuk melakukan sesuatu yang baik. Semuanya tidak pernah cukup ! Kau adalah sepupuku yang sudah aku anggap adik sendiri, tapi tetap saja kau memperlakukanku seperti pemeran antagonis. Terakhir kali ku ingat permintaan terbesarku padamu adalah untuk mengadopsi Tamsi. Kak Alfa katakan bahwa aku tetap salah dalam hal ini!"
Cika memegang tangan kak Alfa lalu dia menyapu air mata. Kak Alfa beralih mendekati Cika dan menepuk-tepuk pundak.
"Dan akhirnya terakhir kali kau menyuruhku duduk di tengah posisi lingkaran, hal yang membuat hidupku menjadi sulit", sahut Rani.
Cika berhenti bicara dan air matanya menyapu lantai. Seolah-olah sedang mencari cara mengekspresikan luapan hati. Rani masih bingung dengan sikap sepupunya itu, hal apa yang sudah merubah hati dan pikirannya kepada Rani. Setelah bertemu dengan Binta, hal-hal aneh semakin merusak hari-hari baik Rani. Masih menjadi misteri siapa sosok Binta sebenarnya. Di situasi sulit seperti ini, keadilan apa yang Rani dapat atas pembenaran Cika untuk dirinya sendirinya. Rani menemui ibu di dapur, kali ini dia harus menjelaskan semua.