Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Menolong Mia


"Lihat dengan seksama disana dialah yang mengikuti mu selepas kepulangan kita dari desa itu Mi. Lihatlah di cermin dengan seksama perubahan yang jauh dari biasanya", kata Rani.


Mata Rani melotot menunjukkan ekspresi wajah amarah, spontan Mia terheran dan berjalan ke kaca di dekat lemari, perlahan dan lebih dekat dia memandang diri sendiri di cermin.


"Engkau hampir saja mirip pucat nya dengan adik kecil!" tutur Rani.


Rani menoleh ke arah jendela dan menunjuk ke pohon dekat rumah Mia.


"Pohon di salah satu Rantingnya menjadi tempat tinggalnya sekarang!" kata Rani.


Terlihat hal yang tidak wajar karena hanya satu dahan yang bergoyang seakan melambaikan tangan ke arah mereka. Mia menutup jendela dan menarik tangan Rani keluar dari kamar


Ting tong, Ting tong. (Suara bel berbunyi)


Mia berjalan membuka pintu dan terlihat sebuah bungkusan plastik yang sedang di pegang oleh seorang kakek tua.


"Ada keperluan apa ya kek?"


Mia bertanya sambil membukakan pintu rumahnya dengan lebar.


"Ini pesanan anak kecil yang merengek sambil menangis mau permen, setelah kakek mau berikan malah dia berlari ke sini, saya kakek yang berjualan di samping halte", sahut kakek itu.


"Adik yang mana kek? saya tidak punya adik karena saya adalah anak tunggal", kata Mia dengan kebingungan sambil matanya ke arah plastik itu.


"Ah yang benar saja. Adik kecil berambut pirang itu baru saja membuka pintu rumah ini dan menutupnya kembali, nah itu kakek lihat dia balik kaca", sahut kakek.


"Apakah isi dari bungkusan ini kek?" Detak jantung Mia seperti sedang lari maraton dan keringat bercucuran dari keningnya ketakutannya kian menjadi-jadi.


"Sebungkus permen kata adikmu nanti kakak Mia yang bayar, apakah kamu yang bernama Mia?" kata kakek itu sambil memberikan bungkusan plastik itu ke Mia.


"Ya benar sekali kek, nama saya Mia",


Mia menerima bungkusan plastik dengan gemetaran.


Ada Rani yang baru saja berdiri di belakangnya. Tamsi yang sibuk berlari kesana-kemari seperti sedang bermain dengan makhluk lain.


Kakek itupun pergi meninggalkan mereka. Mia membuka plastik berisi permen gulali merah muda.


"Ahah, itulah incarannya selama ini Mi. Enak banget permen buatan dunia ya. Ahah", kata Rani.


"Aku beneran takut! Aku hendak menelpon Aska biar dia ikut mampir kesini ya."


Mia meletakkan bungkusan plastik itu dan pergi ke kamarnya.


Makhluk tersebut mendekati Rani, perlahan-lahan dia terbang dan ingin menggapai permen yang Rani pegang. Terdengar bunyi suara plastik yang mau di rampas sang makhluk. Rani berdiri tegak dan menatap tajamnya.


"Kenapa kau membohongiku? sudah kita sepakati kalau kau tidak menggangu sahabat ku lagi setelah ku berikan beberapa permen itu!"


"Huah, Hiks, Hiks." (Suara tangisnya melengking menusuk gendang telinga Rani).


Genangan air mata menumpahkan darah hitam.


Rani berjongkok sambil menutup kedua telinganya erat-erat. Tamsi berlari menghampiri Rani dan melompat ke atas pintu. Mia yang barusan tiba setelah menelepon Aska dari kamarnya mendadak menjatuhkan segelas air minum dari tangan. Dia sangat kaget melihat anak kecil itu lagi. Rani berjalan menghampiri Mia dan menggenggam tangan Mia.


"Dia adalah sahabatku, jika kau masih terus mengganggunya berarti kau juga menggangguku!" kata Rani.


Anak kecil itu terdiam dan menunjuk permen yang ada di tangan Rani.


"Aku tidak akan mempercayai mu untuk kedua kalinya. Kau sudah membuatku murka ! Lihat apa yang sudah kau lakukan pada sahabat ku! Wajahnya begitu pucat fasih seakan telah kau hirup hawa murninya!", kata Rani.


Makhluk kecil itu berpindah pandangan ke arah Tamsi.


"Kakak, aku berjanji tidak akan mengganggunya lagi", katanya ke Rani.


"Baiklah ini untuk mu dan pergilah secepatnya dari hadapanku!" bentak Rani.


"Terimakasih", sahutnya.


Dia sekejap menghilang bersama tiupan angin yang sangat kencang.