
Rani istirahat lagi di tendanya sambil meneguk minuman yang di berikan kak Alfa. Di sisi lain Mia berbenah dan Aska mencari jamur-jamur di sekitar tenda.
"Sepertinya aku mendapatkan jamur-jamur ini lagi", kata Aska.
"Tidak salah lagi pintunya memang disekitar sini, tapi kenapa sampai saat ini kita belum menemukannya juga? aku sudah hampir gila di ikuti makhluk-makhluk itu", kata Mia.
Untuk yang kedua kalinya mereka memasak jamur yang mereka dapatkan. Sementara di dekat sungai tampak kakek dan kak Alfa membetulkan sampan yang sudah bocor.
"Kak Alfa apakah kakak tidak melihat dimana teman kami Geri?" tanya Mia.
"Kakak rasa dia sedang mencari kayu dan serabut di dekat sini", sahut kak Alfa.
"Tolong! Tolong!"
Geri terjebak masuk ke dalam lubang. Namun teriaknya itu tidak ada yang mendengar.
Tamsi yang terus menerus mengeong ke arah Kak Alfa yang sedang sibuk mengambil daun dan ranting kering.
"Tolong! Aargh!"
Sepertinya Tamsi memberikan saluran suara yang ke pendengaran kak Alfa sampai Kak Alfa bisa mendengar jeritan Geri. Kak Alfa mengikuti arah suara jeritan dan menemukan Geri masuk ke dalam lubang monster.
"Geri, raih tanganku!" jerit kak Alfa.
Sekuat tenaga kak Alfa menarik Geri yang hampir saja jadi santapan hewan raksasa ganas dan liar.
"Hei Rani kemarilah." (panggilan suara makhluk halus).
Rani mencari sumber suara itu lagi yang beberapa waktu lalu hampir memekakkan gendang telinga.
"Rani cepat kemarilah, aku sudah lama mencari mu."
"Siapa kau! jangan macam-macam dengan ku!" kata Rani.
"Anak buah yang aku utus untuk berbicara padamu tampaknya kau sangat ketakutan bertemu dengannya bukan?'' lirih suara wanita yang aneh bermahkota hitam dengan kuku runcing panjang.
"Untuk apa kau menemui ku?"
"Aku ingin meminta bantuan padamu agar menyelamatkan salah satu penghuni alam bunian di dasar laut sana", kata wanita itu yang tidak mau memalingkan wajahnya.
"Kau mempunyai indera ke enam yang dapat menembus lapisan makhluk yang tidak semua orang bisa melihat kami. Tolong lah
Aku akan menawarkan keinginan untuk mu", kata sosok wanita menyeringai.
"Miawww, Gggrrrr."
"Aku tidak berniat jahat karena kalian juga tidak merusak batas hutan zona bunian dan para jin atau tempat tinggal kami. Sang Putri duyung sangat menderita dan ekornya terikat namun kekuatan ku tidak bisa menembus ke bawah sana, tolonglah dia!" jelas kata si wanita itu.
"Baiklah kalau begitu sebagai imbalannya tolong kau jagalah kami dari makhluk misterius selama kami di pulai ini. Maksud ku adalah kami semua"
Setelah perjanjian di sepakati, Rani masuk ke dalam air dan mencari sang putri duyung.
"Dingin sekali!" ujarnya.
"Mengerikan sekali makhluk-makhluk yang ada di bawah sana", Gumamnya melihat ke dasar bawah air.
"Aku Akan mati sia-sia jika di tangkap seperti mereka."
Rani pun melanjutkan sampai ke dasar laut dan melihat duyung itu. Ekornya terlilit besi yang sangat berat. Sekuat tenaga Rani melepaskan akar berduri yang melilit ekor sang putri duyung.
"Tapi kenapa makhluk duyung yang membawa senjata itu menghampiri ku?"
Bum, bum ( Suara kilatan dari senjatanya).
Darah hitam menggumpal di antara air. Ekornya terlepas dan senjatanya patah. Makhluk aneh yang membuntuti ku dari belakang itu membunuh salah satu di antar mereka.
Terimakasih banyak! Batin Rani.
Seakan-akan dia mengetahui isi hati Rani dan berbalas dengan anggukan kepala.
Setelah berhasil melepaskan putri duyung dia langsung tersenyum dan pergi meninggalkan Rani. Tampak ekornya penuh darah akibat dari bekas besi-besi. Saat Rani ingin naik ke atas, ada putri duyung yang lain menarik kaki.
"Tolong, siapa saja tolonglah", jeritnya dalam hati.
Dia sudah hampir kehilangan oksigen akibat terlalu lama di dalam air. Lalu Tamsi datang mendekati Rani dan merubah dirinya menjadi wujud yang sedia kala pernah dia lihat.