Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Masih suasana rusuh nan mistis


Kak Alfa mengguncang lengan adiknya dan memberikan sebotol air minum ke Rani yang masih histeris akibat jeritan-jeritan di telinga nya. Matanya Rani melengos ke atas ranting pepohonan dan melihat makhluk tersebut.


Sebuah botol air minum tumpah membasahi tubuh ramping tersebut. Seketika Rani terhentak dan sangat terkejut.


"Kakak, lihatlah di atas pohon sana, ada anak kecil yang mengganggu ku"


Kak Alfa mengamati sekeliling namun tidak melihat apapun yang terjadi. Dia berjalan kesana- kemari sampai beberapa meter jarak ke semak-semak hutan belantara namun tidak menemukan apapun.


"Kakak tolong jangan terlalu jauh", jerit Rani.


Namun kakaknya tidak mendengarkan perkataan adiknya.Tampak sangat gelap suasana hutan itu walau terbilang sudah siang hari. Dia melihat pohon yang sangat besar di dekat kak Alfa sampai membuat suasana gelap yang misterius.


Dia terhentak dan pandangannya sejenak dan berkata, "Lihatlah aku menemukannya aku yakin disana letak pohon Fortal."


Kakek, Aska, Mia dan Geri mengamati pintu pohon Fortal.


"Manakah pintu nya?" kata Geri.


Kak Alfa berlari ikut mengamati Fortal itu. Dan menyentuh setiap batang pohon bendo.


"Aku rasa kita sudah tidak bisa leluasa seenak jidat keluar masuk pintu ghaib ini", kata Aska.


"Ya mungkin saja akan tetapi aku merasakan hawa yang sangatlah panas kenapa pintu itu seperti mendidih?" ujar Rani.


"Seperti itulah suhu tubuh manusia jika bergesekan jarak dan waktu oleh makhluk lain, tidak semua bisa mereka terima sebaiknya kita menghindari lubang Fortal untuk memastikan apa yang terjadi selanjutnya", tutur sang kakek.


"Tapi kek kami tidak melihat jurang yang seperti biasanya kami lihat menuju dunia gaib", kata Mia.


"Ya benar karena bukan hanya satu saja pohon bendo tumbuh di dunia ini",


Rani meletakkan lentera yang biasa dia bawa saat keluar rumah.


Sifat manja yang kolot kembali muncul akibat sang kakak berada di samping.


"Engkau adalah adikku yang paling manja"


Rani hanya merespon Perkataan kak Alfa dengan memasang wajah cemberut. Semua teman-teman Rani menertawakan Rani mendengar celoteh kak Alfa. Sementara kakek memasang tenda di bantu Geri dan lainnya. Ada dua tenda yang berdiri disana dan satu toilet darurat yang berjarak beberapa mil dari tempat mereka. Kakek memilih lokasi yang strategis untuk mendapatkan sumber air. Tidak di sangka perkemahan Rani di dekat sungai yang mengalir deras. Suara percikan dan gemuruh melengkapi suasana di ufuk senja.


Salah satu makhluk sosok adik yang berbaju hitam mengamati mereka. Anak kecil berlarian mengelilingi salah satu di antaranya tidak seseram yang lain.


"kakak, haha..."


"hahah..."


Rani mendekati salah satu dari anak kecil itu.


Dan memberikan sekantung plastik permen.


Anak kecil itu tersenyum dan berbisik.


"Aku akan membantu mu membukakan pintu itu."


"Tapi bagaimana bisa dia mengetahui isi hatiku? Ya sebangsa jin sedikit banyak mengetahui setiap isi hati manusia dan tidak jarang mereka bisa menelusup ke jantung dan meracuninya dengan dusta", gumamnya.


"Rani.."


Terdengar suara yang memanggil.


Ada Tamsi yang tidur di depan tenda. Rani merogoh kantong dan mencari-cari sekantung permen yang di dalam mimpinya di berikan kepada sosok anak kecil. Namun benda yang berisi makanan manis tiba-tiba menghilang tidak di temukan.