Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Serigala jadi-jadian selalu mengincar Rani


Belum sempat Rani meraih tali pembatasan jembatan. Tepat di pinggir tebing dekat rerumputan, kaki kiri Rani menginjak lumpur hidup.


"Arrgghhh", jerit Rani.


Tidak sampai hitungan detik, setengah badan Rani sudah tertelan lahapan lumpur hidup.


Rani berusaha meraih benda apa saja yang ada di dekatnya. Suara akar gantung yang menjulur ke tangan Rani. Sebuah bantuan dari makhluk yang menolong Rani tadi. Hampir saja lumpur hidup melahap tubuh mungil. Sang makhluk tersenyum kepada Rani dan menawarkan dua pilihan syarat untuknya.


"Wahai gadis manis ,mari aku antar engkau pulang sebelum engkau tertinggal bus hantu , atau mari berkeliling ikut bersama ku."


Rani memandang isyarat dua bola mata coklat sang makhluk.


"Lantas, apa imbalan yang engkau peroleh jika engkau membantuku?"


Beberapa langkah Rani menjauh darinya. Walau bagaimanapun dia masih terasa asing bagi Rani.


"Jika aku ingin imbalan dari mu, seharusnya aku sudah memintanya waktu dahulu aku pernah pernah menyelamatkan mu"


Aungan suara serigala semakin dekat terdengar di telinganya. Mata sang makhluk yang bersama Rani seakan meletakkan rasa siapa dari sudut kewaspadaan.


"Mmhhh.. tidak ada pilihan selain terus maju untuk mendapatkan lampu lentera ku kembali", bisik Rani.


Ibarat orang yang sudah mandi sekalian basah. Atau niat menyelam harus langsung berenang tanpa menunda rencana awal.


"Cepat, naiklah ke atas kendaraan ku", kata sang makhluk.


Dengan menginjak pedal sepeda angin bersayap yang tampak aneh di mata Rani. Tiba-tiba salah satu makhluk menghentikan mereka dengan tersenyum bijak.


"Ah tapi peraturan adalah peraturan yang harus di sepakati."


"Sampai kapan kalian ingin memperebutkan manusia yang tidak berdosa ini?"


Sang makhluk yang bersama Rani berdiri seakan menghalangi makhluk tadi agar tidak menyerang. Makhluk si penghalang rencana Rani berbisik merdu.


Mereka berjalan menembus pohon besar yang mempunyai seribu cabang.


"Kenapa cengkrama mereka lama sekali", bisik Rani.


Rani sudah tidak mempunyai waktu yang banyak lagi.


"Kali ini aku harus tetap berpegang teguh pada niatku", gumam Rani.


"Arghh, arghh"


Jeritan seorang anak kecil di iringi lari-lari kecilnya menuju Rani.


"Kakak, tolong bantu aku bersembunyi dari kejaran para serigala disana."


Rengek anak kecil itu menarik kuat pucuk baju Rani. Dia menatap penuh iba dan berlari membawa anak yang baru di kenalnya bersembunyi menuju pohon besar tepat dia melihat jejak dua makhluk yang tadi.


"Rani sahabat ku.."


Suara Tamsi Sayup-sayup terdengar di telinga Rani. Rani ingin berlari menuju ke arah sinar suara sahabatnya. Namun tertahan oleh anak kecil yang menyelipkan tubuhnya di dekat pohon besar. Genggaman tangannya terasa dingin, berhias kuku-kuku hitam runcing . Alangkah terkejutnya Rani melihat anak kecil itu berubah menjadi makhluk mengerikan dengan tetesan air liur kental di sudut bibirnya.


Auwwwhh


Suara jeritan aungan panjang serigala jadi-jadian itu masih hafal jelas dalam pikirannya. Sepakan kaki mungil Rani tepat di arah mulut sang serigala. Tampak wajah serigala jadi-jadian yang paling mengerikan sepanjang hidup Rani. Rani mengambil batu Padas dan melempar tepat mengenai mata sang serigala. Bola mata serigala berubah berwarna merah darah dan menghempaskan tubuh Rani ke atas tanah.


"Kini kau hanyalah daging segar."


Sang serigala menangkap Rani sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


"Tamatlah riwayat mu", kata sang serigala.