Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Dunia yang berdampingan dari penduduk bunian


Sesosok makhluk yang tidak asing merangkak kini menempel tepat pada dinding kamar Rani.


"Siapa kau sebenarnya?"


Dia perlahan mendekati makhluk yang sangat mengerikan itu. Suasana kamar Rani berubah menjadi kabut pekat yang tebal. Tidak ada setitik celah yang bisa Rani jangkau untuk mendapatkan seberkas cahaya.


"Itu lampu lentera ku!"


Benda ghaib yang berada tepat di atas meja belajar di dekat bambu kuning Cika. Lentera kini kembali kepada sang pemilik. Putri duyung telah membalas pertolongan Rani yang pernah menyelamatkannya dari perangkap akar berduri di dasar laut. Lampu masih persis sama, tidak ada bertambah dan berkurang sedikitpun. Rani memegang dengan sangat hati-hati melewati jalan lorong-lorong panjang yang kosong.


"Tunggu dulu apakah kini aku sedang bermimpi?" batin Rani bergejolak memikirkan semua.


Setelah dia berjalan pada ujung pintu, Rani melihat di depannya berdiri sebuah bangunan tua yang mirip dengan rumah Rani. Yang sedikit berbeda hanya pada bentuk ornamen dengan ciri autentik bernuansa sedikit klasik. Rumah bercat putih mirip bangunan lama berpilar penopang kokoh nampak mewah dengan sentuhan air mancur.


Rani memandang di sekeliling halaman depan , ada yang menarik dari pandangannya. Sebuah batu kerikil besar menjadi penghalang bunga-bunga melati yang tumbuh di sekeliling. Rani mendekati batu itu dan berniat ingin mengangkat.


"Jangan bangunkan dia!" teriak sang wanita tua dari balik pohon Pinus.


"Mmhhh ada sosok tamu yang tidak di undang!" lanjutnya.


Rani memperhatikan bentuk wajah wanita tersebut, berciri khas kebaya zaman dahulu dengan lipatan sarung di pinggang.


"Wanita tua yang memakai konde itu tidak asing bagiku!" gumam Rani.


Rani mengingat wanita tua yang berada di belakang rumahnya. Seorang makhluk pemakan daun sirih dan buah pala, wanita tua penghuni dekat pintu Fortal hitam. Makhluk tersebut pernah di Jambak oleh Bara ketika ingin mengganggu Rani.


"Gadis kecil, sekali lagi aku ingatkan padamu jangan pernah menyentuh.."


Belum sempat wanita tua itu melanjutkan perkataannya, dari dalam rumah ada seorang lelaki yang memanggilnya. Terdengar samar-samar sekali suara lelaki itu di telinga Rani bahkan tidak bisa terdengar apa isi perkataannya. Lemparan batu kecil yang tepat mengenai kaki Rani lalu dia menoleh siapa sang yang pelaku.


"ihihihh, eheheh" , tawa sang anak kecil berlari dan bersembunyi di balik pagar rumah.


Rani mengejar anak kecil itu, kencang sekali lari anak tersebut seperti lari seekor kancil.


"Hei Tunggu!" jerit Rani.


Debugh.. Bugh


Rani terpeleset dan tangannya di raih oleh wanita tua yang tadi di jumpai oleh Rani. Dia menopang tubuh Rani hanya dengan satu tangannya.


"Kamu Ceroboh sekali", kata wanita tua.


Rani dan wanita itu duduk di atas rerumputan yang beralas tikar yang terbuat dari anyaman bambu. Pepohonan yang rindang dengan harum semerbak sekeliling bunga melati. Wanita itu menghidangkan minuman dari batok kelapa yang berisi akar- akaran. Rani tertegun heran dan merasa janggal dengan aroma yang anehnya menusuk di indera penciuman.


"Kau tidak suka dengan teh buatan ku?" tanya sang wanita dengan lirikan yang tajam.


"Bawakan saja sebagai oleh-oleh untukku nek " Jawabannya.


"Kamu memang tidak pernah berubah", umpat sang wanita tua.