
Suara desis ular-ular sangat menggangu. Dalam tatapan nenek itu yang kejam dia mengisyaratkan dua hal antara menggertak atau ingin mengatakan sesuatu yang begitu penting.
"Ingatlah payung raksasa ini adalah perbatasan antar wilayah kami, siapapun tidak bisa sembarangan mencabutnya", kata nenek tua dengan lahap memakan bangkai-bangkai tikus.
"Anak yang istimewa, wangi darahmu juga segar!" lanjut perkataannya lagi.
"Tolonglah Jangan menggangguku nek!" kata Rani.
"Beberapa dari sebangsa kami sangat menyukai mu, betapa tidak? penglihatan indera keenam sangat berguna untuk kekuatan kan."
Wujud nenek itupun berubah. Kakinya menjadi bentuk ekor ular yang menjulur sampai ke tembok belakang rumah. Langkah Rani sontak mundur ke belakang dan terjatuh. Rani berdiri lagi dan menguatkan diri mengatakan sesuatu pada nenek tersebut.
"Aku tidak mau mengusik ketenangan mu atau merencanakan sesuatu seperti kalian. Jadi janganlah mengganggu ku!" Rani menghentakkan kaki.
Ekor ular yang itu mengibas ke arah pagar halaman rumah.
"Oh ternyata kamu yang menimbulkan bunyi suara berisik setiap hari!"
"Ya benar disini lah rumah ku sebelum kalian yang terlebih dahulu menempatinya beberapa tahun lalu"
Setelah dua sosok penampakan telah menghilang. Muncul kembali penampakan asing yang menyeramkan.
"Kamu lucu sekali kak, ahahah" tawa makhluk kepada Rani.
"Kenapa kamu menertawakan ku adik kecil?"
"Ya kau masih tetap seperti dahulu kak polos dan gampang tertipu!"
"Pulanglah ibumu sudah memanggil, pesanan Kaka kepada ibumu jangan suka mengotori piring dan meletakkan di kamar mandi pada dunia manusia. Bukankah batas penduduk bunian sudah di tetapkan!" kata Rani menekan nada kuat.
Rani memperhatikan kulit-kulit makhluk kecil itu seakan terkelupas dan telapak kakinya meninggalkan jejak-jejak lumpur.
"kenapa mereka tidak seperti hantu lainnya? aku melihat ketika siang hanya kalian para penduduk bunian yang tidak takut dengan sinar matahari!" gumam Rani.
"Rani, ada Mia datang!" kata kak Alfa.
"Iya kak rencana Rani mau menginap dirumahnya Mia malam ini dia sendirian kak orang tuanya lagi pergi ,Mia sudah minta ijin ke ibu."
Begitulah Rani menjabarkan panjang kali lebar kepada kakaknya agar tidak khawatir terhadap adiknya.
SAAT DI RUMAH MIA.
"Jujur nih, selain minta di temenin, gue mau tanya tentang isi rumah juga tempat-tempat yang menurut kamu angker" , kata Mia sambil menggandeng tangan sahabat Rani.
"Baiklah sekarang Waktunya memberikan makan Tamsi!"
Rani menurunkan bungkusan nasi putih dan sayuran untuk si kucing hitam.
Tamsi adalah kucing sejenis karnivora dan herbivora, dialah kucing yang sangat langka sayur selain ikan. Mia tersenyum mendekati Tamsi dan mengelus kepalanya. Beberapa saat kemudian, Rani dan Mia berjalan melewati ruangan demi ruangan.
" Gimana Ran menurut kamu? jujur gue merasa lebih nggak nyaman di rumah selepas kepulangan dari tempat study tour ", tanya Mia penasaran.
Rani hanya diam dan meninggalkan Mia di ruang tamu. Dia berdiri seperti patung di antara gang rumah pembatas ruang kamar tidur.
"Ran, kamu kok diam aja disitu?" Mia mengeraskan suara dan tampak gelisah.
Rani berbalik dan menuju kamar Mia.
"Aku tau penyebabnya. Jangan mengganggu sahabat ku. Kenapa kau mengikutinya? kata Rani bercakap-cakap sendiri.
Mia tidak melihat apapun di sekeliling itu, dia ketakutan dan perlahan mendekati Rani.
"Rani, jangan buat aku mati ketakutan dong!" Mia memegang kuat pundak Rani.