
Setelah Rani terbangun dari tidur panjangnya dia memutuskan ingin pergi mengunjungi laut selatan.
"Ayah ayok kita semua pergi berlibur keluarga ke laut selatan", kata Rani.
"Ide yang bagus, kakak ingin membuat dokumentasi keluarga untuk di jadikan album dan video", sahut kak Alfa.
Namun ibu berkata, " tidak sampai Rani benar-benar sembuh."
"Ayolah Bu kita turuti saja kemauan anak-anak", sahut ayah.
Ibu menggerut alis dan melirik. Rani hanya terdiam.
"Ya baiklah besok kita akan berlibur."
Mendengar perkataan ibu, Rani dan kak Alfa tersenyum dan menuju kamar masing-masing menyiapkan koper untuk bertamasya.
Terdengar suara gamelan dari arah kamar. Rani membuka pintu dan dia menoleh ke sekeliling kamar. Tidak ada apapun yang dia temukan disana. Setelah dia menoleh ke atas langit-langit kamarnya, terlihat jelas wajah mahkluk baju hijau yang pernah dia jumpa dari tidur panjangnya. Kembali makhluk cantik itu tersenyum dan menghilang.
...----------------...
Hari berganti dan waktu berlibur pun telah tiba. kami sekeluarga berangkat dari rumah menuju pantai Parangtritis. Sebuah tempat yang terkenal dengan laut birunya yang luas yang berhawa sejuk. Jaraknya dari rumah yang dapat ditempuh sekitar 5 jam berkendara. Kami melewati perbukitan, pepohonan yang rindang dan jembatan yang menjadi jalur alternatif untuk secepatnya sampai disana. Selama dalam perjalanan tampak Tamsi hanya tertidur bawah kaki rani. Mereka melakukan perjalan dengan pemberhentian di sebuah warung tepi Pinggir jalan.
Seorang ibu melayani mereka dengan menyuguhi minuman hangat dan beberapa cemilan, ibu itu berkata, "Mau kemana kalian bu?" dia tersenyum dan melihat Rani.
"Kami akan berlibur ke pantat parang Tritis, cukup jauh sudah dan terasa lama perjalanan yang kami tempuh", jawab ibu.
Sementara ayah memeriksa keadaan mobil sambil memberi makan tamsi. Ibu warung itu hanya terdiam dan berlalu menyiapkan makanan yang kami pesan. kak Alfa mencari toilet namun dia tidak menemukannya di sekitar warung.
"Maaf Bu bolehkah saya meminjam toilet sebentar?" tanya kak Alfa.
"Di belakang sana ada toilet darurat , maklum disini perkampungan yang sudah jauh dari perkotaan", sahut sang si penjual.
Kak Alfa berjalan ke arah belakang menjauhi warung tersebut
"Kenapa toiletnya daruratnya jauh sekali!"
Sebelum membuka toilet itu dia melihat seorang anak kecil menangis tersedu-sedu.
"Hiks, hiks"
"Siapakah kau adik kecil? apakah kau sedang tersesat?", tanya kak Alfa.
"Tunggulah sampai aku siap dari toilet itu", jawabnya.
Setelah kak Alfa keluar dari toilet maka anak itu tidak terlihat sekalipun.
"Dimana anak kecil tadi?" gumam kak Alfa. Dia mencari di sekitar tempat.
"Kak di panggil ayah", jerit Rani.
Kak Alfa berlari dan menuju Rani, wajahnya pucat dan larinya tergesa-gesa.
Rani memperhatikan kak Alfa yang tingkahnya aneh. Selesai makan dan beristirahat mereka bergegas masuk ke dalam mobil.
Jederrr ! suara pintu mobil yang tertutup setelah ayah ingin memutar arah mobil.
"Siapa yang ketinggalan?" kata ayah sambil melihat kaca mobil.
Seisi mobil hening dan saling memandang.
"Kamu anak yang tersesat di warung itu kan?" tanya kak Alfa.
Rani melotot ke arah anak kecil itu dan tamsi mendekatinya.
"Hiks, hikks", tangis sang makhluk kecil.
"Nak siapa nama mu?" tanya ibu.
Namanya makhluk bunian Bu! jerit Rani dalam hati.
"Ayah, putar balik mobil nya ada yang tersesat di dekat warung" ,kata Rani.
kak Alfa memberikan anak kecil itu sebotol air mineral ke anak itu namun anak kecil itu hanya memeganginya sambil menangis.
"Jangan dekati ibuku!" kata Rani.
"Sudahlah kasian anak kecil ini ayo kita antar dia pulang mencari rumahnya"
"Apakah seisi mobil belum tau siapa makhluk kecil itu sebenarnya?" gumam Rani.