
Ada banyak keajaiban dan rahasia yang tak sanggup di pecahkan dan di tuntaskan di dunia. Begitu pula dengan nasib dan takdir Rani, dirinya merasa ini adalah beban dengan penglihatan indera keenam. Sebuah bongkahan batu besar yang harus di pikul seolah menjadi batu karang di lautan. Dia hanya menginginkan kewajaran dan hal layak kehidupan seperti manusia pada umumnya. Namun tak bisa di pungkiri dia menjadi orang yang berbeda.
...🔥🔥🔥...
Sebut saja indera ke enam atau mata Matin yang menembus ruang dan waktu yang berbeda. Tepat di malam pergantian tahun dia berdiri di hadapan dunianya yang lain. Kini di usianya yang menginjak 17 tahun telah melayangkan pandangan dan keruwetan pola pikir sejuta bahkan ribuan pertanyaan.
"Siapakah aku?"
Raut goresan wajah yang tajam, rambut semakin panjang, bola mata yang besar dan tubuh yang ramping semampai seakan menjadi bahan perbincangan khalayak ramai di dunia nyata maupun dunia gaib. Kadang ada juga beberapa peramal dan para orang terdekat yang suka mendatangi rumahnya perihal menanyakan yang ada mereka ingin tau masalah makhluk gaib di sekitar mereka. Bahkan ada pula yang ingin mengajukan kerja sama dengan Rani namun ibu Rani menolak.
...----------------...
Saat ini di sedang berdiri di depan seorang penyihir yang berusia ribuan tahun lama, seorang wanita tua yang berparas cantik jelita karena meminum darah segar para gadis remaja yang dia bunuh secara sadis demi kepentingan hidupnya yang abadi. Penyihir menyeduh hasil teh buatan di atas bara api.
"Suatu kehormatan aku bisa berjumpa dengan mu, oh adik kecil", kata wanita itu yang menyuguhkan secangkir teh pada Rani.
"Silahkan di minum teh hangat ini",
kata wanita itu sambil melengos ke Tamsi.
Rani seketika kaget akan perubahan sikap yang di tuju. "Apakah dia sedang menipu ku?" batinnya.
Si kucing hitam berjalan menaiki meja dan meminum air itu sampai kilat. Lalu Tamsi turun mendekati majikannya lagi.
"Ahah, sudah ku duga dia akan mendekati mu, dia adalah kucing yang setia sampai akhir kematiannya!" seru sang penyihir.
"Apa maksud dengan hal kematian yang kau bicarakan itu?" kata Rani.
"Ah aku hanya mendengar ramalan, ya dia lah yang menyelamatkan mu dari bulan merah raksasa. Tidakkah kau mengingat? beberapa waktu lalu dia menampakkan cahaya padamu!" sang kata penyihir dengan berjalan mengelus kepala tamsi.
"Aku ingin mempersilahkan mu tinggal disini dan pulanglah sesuka mu"
"Demikian pula aku yang tidak tega melihat darah manusia yang tak berdosa, aku hanya berniat mampir sebentar saja", ucap Rani.
"Hanya ada dua pilihan wahai adik kecil, kucing kesayangan mu yang kau jadikan jimat atau kau biarkan dia mati karena menyelamatkan nyawa mu!"
"Apa maksud mu wahai penyihir? ucapan mu terdengar sangat menakutkan", kata Rani.
"Baiklah aku akan memberikan mu waktu", si penyihir meraih segelas darah minuman sehari-hari.
"Lezat sekali air teh darah segar ini!" kata penyihir.
Dia meletakkan kembali kepala tengkorak yang ada di tangan. Gadis-gadis belia adalah korban dari kecantikan abadi.
"Tolong. Hiks, hiks."
Rani mendengar jeritan para roh yang bergentayangan bergema di sekitar ruangan.
"Baiklah, aku akan memutuskan yang terbaik untuk kami!" ketus Rani.
"Ya aku akan yang lebih awal dari bangsa makhluk lain yang memegang peringatan kembali setelah sekian lamanya", kata si penyihir.
"Hahah, ahah!" Wanita itu mendekati Rani.
"Aura biru, ya itulah wujud asli seorang anak indigo. Kemarilah sayang!"