Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
MUSIM KEDUA : Pintu Fortal yang menghilang


Tanda tanya besar masih berputar-putar di dalam pikirkan Rani. Setelah kehadiran Tamsi, dirinya seperti memiliki sesosok malaikat penjaga.


"Kemarin aku bermimpi berada di pasar bunian lagi, berkat Bara kini aku menemukan lampu lentera ku. Lampu pemberian kakek tua di pasar bunian, dia juga sangat baik membantu ku pulang."


"Dia salah satu penunggu bunian", jawab Tamsi.


Di bawah sinar rembulan, wajah kucing itu berubah menjadi sesosok makhluk tampan yang sangat di gemari Bara. Tamsi si kucing Rani yang tampan. Terlintas bayangan Bara dan segala perjuangannya kepada Rani. Perasaan sedih kembali terbayang Sahabat yang sangat menyayanginya.


"Tamsi, apakah Bara akan kembali?"


Tamsi terdiam sejenak dan meraih tangan Rani untuk menuntunnya kembali ke kamar.


" Wahai sahabatku, hanya waktu yang bisa menjawab."


Tamsi pergi dan melambaikan tangan.


Rani kembali ke meja belajarnya dan menulis sambungan diary.


Catatan Rani :


Berawal dari pintu Ghaib misterius.


Perjalanan dunia yang ku alami menjadi penuh misteri. Kini lubang pintu fortal hitam telah tertutup. Apakah pintu fortal itu hilang?


Yang tersisa hanyalah Tamsi, si kucing penjaga Rani di dua dimensi.


Setelah menulis diary dan berdialog lewat email bersama Mia. Rani tertidur pulas memeluk buku yang ada di meja belajar.


KRREKKK.


Ibu membuka pintu kamar Rani dan mendapati anaknya duduk tertidur di meja belajar.


Belaian lembut ibu membangunkan perlahan Rani yang masih menggeliat dalam kantuk.


"Rani sayang..."


Rani membuka matanya dan melihat senyum merekah sang ibu.


"Rani sudah bangun bu."


"Kamu tidak kuliah?"


Ibu membuka tirai gorden dan jendela. Tamsi melompat dari atas atap dan mendekati kaki ibu Aisyah.


"Kucing kesayangannya Rani kenapa tidak tidur di ruang keluarga seperti biasa? malah tidur di atas kamar Rani."


Rani membuntuti ibu dari belakang dan tertawa kecil melihat ekspresi lucu Tamsi.


"Dasar.. kucingku yang aneh"


Sebelum pergi Rani menuju halaman belakang rumah. Dia mengamati pintu fortal yang masih tertutup. Dunia akan terus berputar walau cobaan silih berganti. Rani sangat merindukan kehadiran Bara kembali di hidupnya. Rani tidak bisa terpuruk dan berlarut dalam kesedihan karena dia juga harus menjalani hidup di dunia nyata.


Setelah selesai sarapan dan berpamitan kepada orang tuanya. Hari ini Rani bergegas menuju kampus menyelesaikan proposal penelitian. Dia berlari menuju gedung dua untuk mengejar tanda tangan dosen sastra.


"Aduh.."


Rani tersandung pot bunga yang tersusun di dekat anak tangga. Kertas Rani bertebangan terbawa tiupan angin yang kencang. Kertas Rani tersangkut wajah seorang pria yang berjalan beberapa jarak darinya.


"Permisi, bisakah kau memberikan kertas itu kepadaku?"


"Kertas ini?" sahut pria tersebut dan memberikannya kepada Rani.


"Terimakasih."


Mia berlari menujunya Rani dan melambaikan tangan, seperti melewati satu abad lamanya mereka baru bertemu kembali. Mia memeluk erat Rani dengan balasan senyuman yang manis Rani untuk Mia.


"Eh.. ada Binta", Mia melirik Binta dengan tatapan sinis.


"Salam kenal aku Binta."


Wujud aneh itu menawarkan jabatan tangan kepada Rani. Mia menepis tangan Binta yang sedikit lagi Rani membalas jabatannya. Pandangan Rani memberikan bahasa isyarat kepada Mia atas sikapnya kepada Binta. Balas mata Mia melotot dan menarik tangan Rani berlalu. Di ruang kelas hari ini para mahasiswa sibuk mengumpulkan tugas kepada dosen killer mereka.


"Terimakasih semuanya selamat siang."


"Siang pak."


Sorak ramai sahutan anak-anak yang berada di dalam ruang kelas.


"Mia.. Lo kenal Binta?"


Mia melirik menunjuk ke sudut kelas dan ternyata disana ada Binta. Murid pindahan yang berteman dekat dengan Nara.


"Hufffh.."


Mia menghembuskan nafasnya.


"Apakah kamu masih ingat tentang Nara?" lanjut Mia.