
Hari ini adalah hari Kepulangan mereka dan Cika tidak ikut dengan Rani, kak Alfa dan orang tua mereka. Cika ingin selalu berkunjung ke makam ibunya. Akhirnya dia menyesal akan perkataan dari si peramal misterius. Cika tinggal bersama paman dan bibi. Dia memutuskan pindah sekolah disana dan mencoba memulai hari tanpa sosok ibu.
Ayah, ibu, Rani, kak Alfa berpamitan dan juga Tamsi ikut di bawa mereka pulang. Mereka memeluk Cika dan meyakinkan lagi atas keinginan mengurungkan niat agar tidak tinggal disini dan ikut bersama mereka pulang.
"Cika mulai sekarang anggaplah ayah dan ibunya Rani juga kak Alfa ini adalah orang tua mu", kata ibu.
"Rajin-rajinlah mengirim kabar dan jangan sungkan jika membutuhkan pertolongan kami", ujar ayah mengerutkan dahi.
Kak Alfa meletakkan sebuah telepon genggam baru ke tangan Cika.
"Terimakasih semuanya", sahut Cika sambil meneteskan air mata di pipinya.
SESAMPAINYA DI RUMAH.
Tanpa beristirahat sejenak merekapun bergotong royong membenahi rumah yang mereka tinggal beberapa pekan. Hanya halaman yang bersih karena tukang kebun selalu membersihkan setiap pagi hari.
"Rani ada surat untuk mu, ibu menemukan nya di kotak surat depan rumah", kata ibu dari dapur.
"Benar bu, Rani akan mengambil nya setelah siap menyapu rumah", sahut Rani.
Ketika Rani membuka surat itu, tampak tanggal dan hari nya sudah berminggu-minggu baru sampai di tangan. Sebuah kertas berwarna coklat berbentuk persegi membuat dia begitu terkejut.
From : Geri
Date : Januari 01, 2020 11:00 PM
To : Maharani
...----------------...
Gawat, Geri sedang dalam bahaya! Gumam Rani.
Dia pun langsung mengirimkan pesan singkat lewat ponselnya ke Mia dan Aska.
Sambil memandangi kucing hitamnya yang sedang tertidur itu. Entah kenapa bisa terbesit di pikiran dan benak dia tidak sanggup membayangkan jika kehilangan sahabatnya.
"Rani.. ada telpon dari Aska", kata Alfa.
"Halo Rani, aku harus menyusul Geri ! jujur dari lubuk hati terdalam bahwa makhluk itu juga membuntuti ku !" kata Aska.
"Miaaaw, ggrh."
Rani berlari mencari suara Tamsi. Kucing hitam yang seakan mengetahui segala keberadaan makhluk ghaib. Terdengar suara ledakan dari belakang rumah namun Rani bersusah payah membuka gembok pintu belakang.
"Kak Alfa buka pintunya kak"
"Ayah dan ibu sebelum tidur berpesan sama Kaka bahwa harus secepatnya mengunci pintu rumah karena hari mulai malam dan kita baru saja pulang", kata kak alfa menerangkan sambil menyeruput kopi hangat. Dia berjalan berlalu menuju kamarnya dan meninggalkan Rani.
"Tamsi!" jeritan Rani memanggil si kucing hitam.
Jejak tamsi menghilang tidak terlihat di setiap sudut ruangan.