Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Berteman dengan makhluk bunian


Rani dan Mia jatuh tersungkur di antara pepohonan. Mia tercampak dan tubuhnya membentur batang kayu, dia tidak sadarkan diri. Sedangkan Rani kakinya di tarik Nara.


Nara yang kerasukan makhluk itu berkata; "Anak ini punyaku, aku akan membawanya kepada Raja di pohon bendo!"


"Biar ku lukai dulu tubuhnya baru kau bawa dia kesana, aku juga ingin sekali mencicipi kekuatan di keningnya" ucap makhluk bertanduk.


Rani seketika memukul tanah sebanyak tiga kali. Angin berhembus kencang, pepohonan ambruk dan tumbang. Petir mengggelar, kilatan demi kilatan menebas memporak porandakan tempat itu.


Syat, syat, bum. Petir dan halilintar mengamuk dan makhluk bertanduk itu menghilang. Nara yang masih di kuasai makhluk lain, menarik tangan Rani dan mengangkatnya terbang. Terdengar suara dentuman kembali menjadi-jadi. Dari gumpalan kabut asap hitam muncul bara. Dia menatap tajam Nara dan memercikkan air ke wajahnya. Rani dan Nara terjatuh bersamaan. Bara menarik Rani dan Mia pergi menghindar dari tempat tersebut


Mereka terbang lalu menghilang di bawah kilatan cahaya petir dan hujan yang deras. Mereka turun dan memasuki wilayah makhluk bunian, lalu bara mendudukkan mereka di salah satu bangku yang berada di bawah pohon itu.


Bara menidurkan Mia dan mengobati luka-lukanya. Kemudian dia memberikan Rani dan Mia kain. untuk mengeringkan badan mereka.


Bara menatap Rani dan tersenyum lalu berkata, "Aku tidak perlu mengobati mu Rani, kau akan sembuh dengan sendirinya."


Wajah Mia pucat dan ketakutan, "Siapa kau?"


"Aku adalah Bara, salah satu teman Rani", jawab Bara menyuguhkan dua cangkir air panas yang terbuat dari bambu.


"Bara, kenapa kau lupa bahwa aku tidak suka minuman bangsa kalian, seperti biasa bawakan untukku dan Mia sebagai bekal perjalanan pulang", jawab Rani.


Bara duduk di samping Rani dan mengatakan; " Kau sudah mengetahui kekuatan yang ada pada dirimu sendiri , bagaimana dengan kekuatan dari tanah yang kau pukul ke tanah tadi?"


Rani melamun mengingat-ingat kejadian tadi, dia tanpa sadar melakukan hal demikian.


Setelah obrolan panjang mereka melakukan perjalanan pulang kerumah masing-masing dan di antar bara dengan melewati batas Fortal alam lain.


...----------------...


Terdengar suara Tamsi sambil membuka pintu belakang rumah. Rani menggendong Tamsi masuk dan tersenyum dan berkata," Oh Sabahat ku! aku baru saja selamat dari kematian hari ini dan aku hampir di bawa genderuwo ke tempatnya".


"Miaw"


Rani masuk ke kamarnya dan mendapati makhluk kecil yang mengikuti memporak porandakan kamar.


"Baiklah Waktu bermain di kamarku bersama teman-temanmu telah habis, cepat rapikan dan pulang lah ke asal kalian!" kata Rani sambil mengulurkan kantor plastik berisi permen dan gulali.


Setelah merapikan tumpukan boneka Rani kembali mereka tersenyum sambil membagikan permen dan gulali itu di kamar Rani.


"Ahah, ihih, hihh."


Suara lengkingan tawa mereka memenuhi ruangan kamar.


Rani menarik salah satu anak kecil itu dan berkata , "Sudah keluar lah tidak ada permen lagi selamanya."


Para makhluk bunian itu pergi keluar dengan teratur dan menutup pintu Rani. Tampak Tamsi memperhatikan mereka dari ruang keluarga yang bersebelahan dari kamar Rani.


"Aku akan menyusul mu di ruang keluarga nanti sore ya Tamsi , aku sangat lelah", kata Rani sambil menutup kembali pintu kamarnya.