Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Ular berkepala dua


Sayup-sayup perlahan mata Rani terbuka, dia telah terbangun dari tidur panjangnya. Suara sorak ramai para makhluk di wilayah bunian begitu gaduh dan ribut. Rani menoleh dari sekitar dia tersadar, dimana aku? batin Rani.


Malam bertabur kerlap- kerlip kunang-kunang kuku-kuku setan yang berterbangan. Kadang langit tampak gelap pekat, kadang pula seolah bercak jingga bercampur goresan cahaya dari ufuk timur. Belum bisa terlukis secara garis pikiran manusia, letak lazim warna pasti langit penduduk bunian di sekitar.


Tampak pula tontonan kekacauan yang begitu mengerikan di hadapannya.


Mengapa sampai sampai seperti ini? gumam Rani dengan mengusap genangan manik netra sendu sedan. Rani mengadah kan kedua tangannya dan mengangkat kepalanya ke atas langit. Membisikkan ucapan doa kepada sang pencipta seluruh alam semesta. Bisikan suara hati nurani dengan berlinang air mata, hatinya menjerit pilu dan meratapi hidup yang di lalui dengan penuh cobaan.


Hamba percaya dengan Mu yang Maha Kuasa hanya kepadamu hamba berlindung dan berserah diri, bisik Rani di dalam doa terakhirnya. Kemudian Rani menoleh ke arah Bara dan Tamsi. Wajah-wajah makhluk yang tidak berdosa, bersusah payah mempertaruhkan segalanya demi dirinya.


"Wahai sahabat-sahabat ku maafkanlah aku yang selalu menyusahkan kalian."


Lidah Rani masih terasa keluh dan sulit berucap karena hanya dingin yang menyelimuti tubuhnya hampir menusuk tulangnya.


Tamsi mendekati Rani, " Wahai sahabat ku hanya engkaulah yang bisa keluar dengan selamat dari tempat ini, aku akan menjamin keselamatan mu. Hukum penduduk bunian telah di rusak oleh bisikan iblis yang terkutuk. Cepatlah pegang erat pundakku, aku akan membawamu sampai garis pintu fortal, pintu ini tembus tepat di bukit dekat pantai."


Rani menepis tangan Tamsi dan menjauhinya.


"Tidak jangan kalian buat aku semakin merasa bersalah."


Tap, tap, tap.


Rani berlari menuju Bara yang di kerumuni berbagai makhluk menyeramkan.


"Pergilah sekarang juga aku menyuruh mu untuk pergi dari tempat ini Rani," ucap Bara menyorot kegelisahan yang mendalam.


Untuk yang pertama kali di hidup Bara membentak Rani dengan nada tinggi yang begitu kasar. Bara ingin sekali di hari itu juga Rani membencinya agar secepatnya meninggalkan dirinya dari Penduduk bunian.


Namun Rani semakin mendekati Bara dan menangis.


"Aku kesini bersama Tamsi berniat mencari jasadmu Bara, aku ingin engkau kembali tenang di alam sana, bukankah itu impianmu?"


Rani kembali mengusap wajahnya yang tidak bisa terbendung berlinang air mata, dia ingin sekali menutupi kesedihannya dan berusaha tegar di hadapan Bara.


Bara mengangguk kepala dan tersenyum .


Brugghhh ..


syattt..


Rani di banting salah satu makhluk bunian untuk menjauh dari Bara.


Tamsi meraih Rani dan membawanya keluar batas kerumunan para makhluk.


"Hentikan!"


Okura dan utra datang dengan gumpalan asap tepat di hadapan Rani.


"Okura bantulah aku", rintih Bara memelas kepadanya.


"Ahah, ahahh."


Okura hanya tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Bara yang begitu memprihatinkan.


"Okura sudahlah, kau terlalu menikmati pertunjukan ini!_


seru Utra dengan makanan buah labu kuning di tangan kanannya.


"Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu, akhirnya gadis kecil ini menjadi milik kami", ucap Okura.


"Jangan terlalu terburu-buru , kita harus menutup mulut Bara sebelum mantra tersebut menghanguskan wilayah ini."


Utra mendekati Bara dan menutup mulut Bara dengan daun berduri, namun dedaunan berduri yang telah masuk ke dalam mulut Bara berubah menjadi abu.


" Kau mau melawan ya! aku berani bertaruh bahwa sebentar lagi Penyihir hebat kini akan musnah, kau pikir kami akan selamanya bersikap baik kepadamu tanpa imbalan apapun, ahahah."


Utra mencekik kuat Bara dengan satu tangan.


"Bara!" teriak Rani begitu histeris.