Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Penghianat itu orang yang paling kau percaya


Dan seiring berjalannya waktu perlahan kebaikan dan kejahatan akan di jawab oleh waktu. Hanya perlu lebih bersabar dan mencoba menerima kenyataan akan segala rintangan menghadang.


Sinar bulan telah tertutup kabut malam. Rasanya sekujur tubuh Rani sakit sekali, benar-benar sakit sampai dia harus merebahkan tubuhnya dan tidak berselera makan malam.


"Rani sayang, sini ibu suap."


Cika melirik Rani dan menarik atas sudut bibirnya. Persaudaraan persepupuan yang menyimpan perasaan dendam yang tidak beralasan. Hati Cika seakan membantu, rasa sayangnya terhadap sepupunya itu seakan hilang setelah kehilangan ibunya.


"Sebentar lagi Rani makan Bu"


Rasanya tulang kering Rani hampir lepas. Rani berusaha bergerak perlahan menuju keluarga besarnya. Sudah menjadi tradisi keluarga, makan malam yang nikmat itu adalah kebersamaan duduk bersama keluarga, tanpa harus ada meja makan, semua terasa bahagia asal bersama-sama itulah kehangatan keluarga besar Rani.


"Cika, kamu yakin tidak ingin bersekolah di negeri kuning?"


Ibu menyodorkan segelas air Kepada Cika.


"Terimakasih Bu, akan Cika pikirkan lagi."


"Yasudah ibu tidak mau memaksa."


Total hanya tujuh suapan yang bisa Rani telan. Dia benar-benar ingin mual, suhu badannya juga sangat panas. Rani tidak ingin menceritakan kepada orang tuanya bahwa dia sedang kurang sehat. Di tambah lagi rasa sakit di kepalanya kembali mengganggunya. Setelah makan malam bersama usai, Rani kembali menuju kasur dan merebahkan badannya.


"Hihihih"


Suara lengkingan itu serasa memenuhi gendang telinga Rani. Rani menutup telinganya dengan bantal dan memejamkan mata.


"Tidak untuk sekarang! aku benar-benar ingin beristirahat."


...----------------...


Rani berlari di sepanjang jalan hutan yang lebat dan lembab. Hanya ada penerangan lentera yang ada di tangan kanannya. Dia melihat kucing tampan itu berlari menuju Fortal hitam. Sulit sekali Rani mengejar dengan kakinya yang tidak beralas. Kakinya telah terkena duri rumput liar.


"Kemana perginya kucing hitam itu. Tidak jangan kesana! jangan tinggalkan aku sahabatku."


Air mata Rani mengalir deras tanpa bisa di bendung. Itu adalah pertanda mimpi yang paling buruk sepanjang mimpi atau penglihatan keduanya dari bawah alam sadar.


"Miaw, miaw."


Rani membuka matanya kembali dan melihat Tamsi di bawah tempat tidurnya.


"Tamsi kenapa kau bisa masuk?"


Jendela kamar penginapan telah terbuka. Keberadaan ibu tidak terlihat, ini sudah tengah malam. Rani keluar dari kamar mencari kak Alfa dan ayahnya. Semuanya kosong dan keadaan ruangan bercahaya remang-remang. Cika dan ibu juga tidak ada, dia masih bertanya-tanya dalam hati apa yang sudah terjadi. Tubuh Rani yang masih lemas dan sakit mencoba mencari dimana Sahabatnya tadi.


"Tamsi, kemarilah.."


Tamsi berlari menuju Rani. Kaki Rani yang sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya kini dia terjatuh dan pingsan sebelum mendapatkan kucing kesayangan.


...----------------...


"Dasar wanita lemah! kau tunggu saja kematian kucingmu! ahahahah"


Binta melihat Rani dan buku api Utra yang berada di penduduk bunian. Entah perjanjian atau kesepakatan apa yang telah mereka lakukan sehingga mereka sepertinya saling memanfaatkan satu sama lain. Binta menuju dapur, Bara yang dahulu tempat pembuatan minuman atau Rafika untuk dirinya. Dan sepertinya sayembara Binta untuk merampas Rani dari Bara dan Tamsi. Rani kembali membuka matanya dan mendapati tamsi sedang tertidur sambil bawah kakinya. Ini adalah kejadian seperti mimpi di atas Mimpi yang seakan menjadi nyata.


...----------------...


"Cika, sebenarnya Kaka mengetahui apa yang sudah kau lakukan selama ini!"