
Rani masih belum menerima tentang Mia dan kejadian yang menimpa para sahabat.
Apakah akhirnya aku di takdir kan untuk hidup sendirian? batin Rani tidak menentu tanpa tentu arah.
Dia seperti kapal yang kehilangan dermaga untuk berlabuh. Semua isi hati dan kebahagiaan berbagai suka dan duka bersama bagai mimpi di siang bolong. Atau hanya bayangan mereka yang tampak cuma satu hari. Waktu perpisahan dengan sahabat -sahabatnya satu -persatu cepat berlalu.
Dari awal Bara sudah mengetahui niat busuk anak bunian yang mengikuti Rani sampai ke villa. Dia masih diam dan memantau sejauh mana keberanian makhluk itu kepada Rani.
Saat dia mendengar niat makhluk itu untuk mencelakakan Rani. Seketika Bara menjambak rambut makhluk bunian yang sedang bercengkrama dengan Rani.
"Ampun sakit, aku tidak akan mengganggunya lagi"
Suara Isak tangisan makhluk itu meronta- rontah merasakan sakitnya tarikan rambutnya yang hampir melepaskan semua isi kepala. Darah berwarna hitam hampir bercucuran di batok kepalanya.
"Kau sudah pernah menipuku waktu aku masih menumpang di dunia bunian dan belum jadi peramal hebat, nyawa wanita dahulu yang tidak berdosa itu sudah pernah kau rampas dan kalian bertukar posisi. Kau merayu okura dan utra untuk menyesatkan ku. Lalu setelah mereka sadar dan membantu ku menjadi penyihir hebat kini kau tidak bisa mengelabuiku lagi!" ucap Bara menekan nada keras melempar percikan api ke arah makhluk tersebut.
Isi kepala makhluk bunian itu satu persatu berlepasan dan urat kepala yang berisi akar menjulur tertarik berwarna hitam memuntahkan nanah dan ulat belatung.
Rani terhentak memegang tangan bara dan berkata," Lepaskanlah dia Bara, aku sudah memaafkannya."
Hanya Rani yang bisa meluluhkan hati Bara, dia tidak pernah selemah ini. Hati yang dahulu membatu kini perlahan meleleh seperti bongkahan gunung es di kutub Utara dengan di Sinar matahari, atau seperti batu karang di tengah lautan yang terkikis oleh lautan.
Tepat tengah hari, pada waktu matahari naik setinggi-tingginya. Karena bara bukanlah manusia lagi, hanya tengah tampak bayangan Rani di tempat itu.
"Aku jadi bimbang ingin melepaskan mu Rani ", tatap Bara dengan tajam.
"Sudahlah Bara, jika memang takdirnya aku mati di tangan makhluk halus maka aku terima jika memang sudah waktunya tiba", jawab Rani.
"Aku akan selalu memantau mu , akan aku pastikan kau baik-baik saja. Aku benar-benar masih belum siap melepas mu , aku pamit sebentar ke penduduk bunian. Urusan ku dengan makhluk tadi belum selesai."
Bara menghilang bersama hempasan angin kencang. Deru ombak air laut menghempas tepi pantai, Tamsi berjalan mendekati Rani dan memberikan botol minum untuk Rani.
"Terimakasih Tamsi, aku masih ingin menyendiri."
Mendengar perkataan Rani, maka kucing itu menghilang dari pandangan Rani.
Rani berdiri menghadap Lautan lepas pantai, dia masih penuh tanda tanya dengan dirinya sendiri dan dua dunia yang di alaminya.
Rani melihat satu persatu penghuni bunian muncul dari dalam air , berbagai macam bentuk mengerikan yang berbeda jauh dari yang dia lihat sebelumnya.
"Maafkanlah aku yang tidak bisa membuat mu sendirian, Wahai majikan ku tidak semua yang engkau lihat laut sana adalah makhluk bunian, ada juga beberapa dari mereka makhluk sebangsa jin dan iblis."
Tamsi kembali menghampiri Rani dan merubah wujudnya menjadi kucing. Rani menoleh ke arah Tamsi sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih atas semua kebaikan mu" Batin Rani kepada si kucing tampan.