
Sayup-sayup terdengar langkah suaranya memanggil Rani. Dia adalah makhluk penjaga pintu Fortal menuju dimensi lain.
"Rani, aku menunggumu"
ucapnya seraya melambaikan tangan dengan sepasang biji bola mata yang berlubang.
Rani kecil menghampiri makhluk tanpa rasa takut dia membalas lambaian tangan dengan kedua jari-jari mungil.
"Anak pintar, kemarilah sayang. Aku mendapatkan mu"
Rani kecil menghilang bersama lubang Fortal yang dia masuki dengan makhluk tersebut. Di sisi lain seisi rumah gempar akan kehilangan Rani yang sudah berjam-jam belum mereka temukan. Rani kecil hanya sebentar saja di tinggal ibunya untuk mengambil air minum, kini berselang beberapa menit telah menghilang.
"Kenapa sekarang kau tidak becus mengurus anakmu sendiri!"
Seumur hidup selama pernikahan mereka, tanpa sengaja ayah menaikkan nada yang tinggi.
Ibu hanya terdiam menangis tersedu-sedu, sambil mengusap air matanya dia terus mencari putri di setiap sudut luar dan dalam rumah. Pintu gerbang terkunci dan tertutup rapat, sedangkan sendal Rani kecil masih tertinggal di ayunan yang letaknya di dekat pohon beringin.
"Anakku dimanakah engkau nak ! oh putri kecilku yang malang"
Isak tangis ibu sangat pilu Meratapi segala praduga tentang nasib sang anak.
"Aisyah sudahlah maafkan aku ! kemarilah minum air putih ini ,aku akan segera mencari pertolongan"
Pelukan ayah mendarat kepada ibu, ayah sangat bersalah akibat ego yang menyalahkan istrinya.
Saat Rani kecil di bawa ke dimensi lain, dia di turunkan makhluk itu di dekat tepi danau yang sangat indah. Semua mata tertuju kepadanya, tidak terkecuali para makhluk astral berbagai macam wujud seolah ingin menyentuhnya namun di larang sang wanita.
"Perkenalkan wahai penduduk bunian, dia adalah temanku. Dia berbeda dengan manusia pada umumnya. Lihatlah dia bisa melihat kalian "
Wanita berbaju hitam itu dengan bangga memamerkan Rani kecil kehadapan para makhluk di alam bunian.
"Aku menyukainya darahnya sangat harum dan segar. Kemarilah aku ingin menggendongnya ",
ucap makhluk bertubuh langsing yang mempunyai paras wajah cantik dengan goresan alis yang menyatu di keningnya.
Semuanya memperebutkan Rani kecil, kesalahan fatal wanita itu Membawa Rani ke penduduk bunian. Tampak wujud hewan jadi-jadian bertaring dan berkuku panjang juga menginginkan Rani kecil. Sesekali mereka melompat mendekati Rani namun wanita itu menghempaskan. Akibat semua makhluk itu berebut maka Rani kecil terjatuh dari gendongan wanita itu dan kakinya tertarik serigala jadi-jadian.
auw, auww..
Suara mereka bersahut-sahutan seakan mendapatkan daging segar yang siap menjadi santapan mereka.
"Tidak jangan argh"
Wanita itu tidak berhasil meraih tubuh Rani kecil sehingga kaki Rani tertarik oleh gigi yang tajam.
"Aduh sakit, hiks, hiks ibu."
Rani kecil di seret makhluk jadi-jadian itu dengan bergerombol sampai masuk ke dalam hutan terlarang.
"Sudahlah hentikan! mau bagaimana pun dia sudah menjadi bagian dari kita ! kau sangat keterlaluan kike", kata makhluk halus lain yang sedikit kasihan kepada wanita itu.
Akhirnya Rani kecil di kerumuni para gerombolan serigala jadi-jadian dengan lidah yang menjulur ke bawah dan air liur yang berjatuhan.
"Hiks ibu, Rani takut Bu."
Serak-serak suara Rani kecil memanggil ibunya.
Kakinya sudah luka-luka dan darahnya mengalir deras membasahi dedaunan kering . Para serigala sudah tidak sabar ingin memangsanya. Saat seekor serigala membuka mulutnya dan mencengkeram erat tubuh kecil Rani dengan kuku tajamnya, Tiba-tiba seekor kucing raksasa berwarna hitam mengibas serigala itu dengan satu pukulan.
Auuww..
serigala tersebut tidak gentar dan menggigit ekor kucing Raksasa dengan disusul kerumunan serigala lainnnya. Rani kecil berlari dan bersembunyi di balik Ranting pohon yang sudah tumbang.
"Ibu, Rani takut. Hikks.." .
Anak kecil itu sangat ketakutan di tambah lagi rasa sakit di kakinya yang sudah tidak tertahankan.
Perkelahian kucing raksasa dan para serigala itu berakhir sangat tragis. Para serigala yang tersisa hanya dua ekor saja dari dua puluh serigala yang menyerangnya. Namun sayangnya kucing raksasa itu sudah sekarat akibat serangan kerumunan para serigala buas itu. Sekujur tubuhnya penuh luka parah dan dia terbaring lemas tidak berdaya. Rani kecil yang sudah tidak menghiraukan ketakutannya kepada para serigala itu mendekati kucing raksasa dengan jalan yang tertatih- tatih.
"Kasian kucing yang manis..", kata Rani kecil sambil mengelus kucing raksasa yang memperhatikan.
Seperti ada kekuatan yang mengalir di dalam tubuh kucing raksasa itu setelah tatapannya kepada Rani kecil. Kucing itu kembali berdiri tegak, secepat kilat dia mengangkat tubuh Rani dan berlari kencang menjauhi para serigala. Saat para serigala jadi-jadian mengejar mereka namun jejak kucing raksasa bersama Rani kecil sudah menghilang.
Brugghhh .. Rani kecil terlempar ke luar lubang Fortal hitam bersama kucing raksasa itu. Namun saat kucing raksasa melintasi keluar dari dimensi bumi, tubuhnya berubah menjadi kucing berukuran biasa seperti kucing penduduk bumi. Rani kecil pingsan di bawah pohon beringin bersama kucing hitam yang sudah menyelamatkan.
"Ayah kemarilah, itu Rani kenapa jadi seperti ini!" jerit ibu.
Dengan susulan ayah dan para warga di sekitar rumah ikut menyusul menyaksikan Rani kecil dan seekor kucing hitam yang berlumuran darah. Pada sore hari itu juga Rani kecil di larikan ke rumah sakit dan sebelum kucing hitam itu di angkat warga tubuhnya sudah menghilang bersama tiupan angin yang kencang.
"Bagaimana keadaan anak kami Dok!" tanya Ayah kepada dokter yang menangani Rani.
"Kakinya seperti habis akan di mangsa oleh Makhluk buas, saya akan menyuntikkan anti rabies kepada anak anda ! Mengapa bisa anak yang masih kecil ini mengalami hal seperti ini?"
"Anak kami ini baru menghilang dan kami temukan tadi sore pak dokter, kami langsung membawa ke sini", sahut ayah.
"Baiklah, sebaiknya kalian lebih waspada dan berhati-hati menjaga anak yang masih usia dini, kalau begitu saya permisi", tutur dokter sambil berjalan meninggalkan mereka.
Ibu dan ayah masuk ke ruang UGD melihat keadaan putri mereka. Ibu mencium kening Rani kecil dengan beruraian air mata.
"Ayah sudah menitipkan Alfa kepada nenek tetangga kita di depan rumah, akan ayah jemput Alfa kesini dan kita semua akan bermalam disini", kata ayah kepada ibu.
Ibu hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil menutup pintu ruangan kamar dan melihat ayah yang sedang berjalan pergi keluar kamar. Rani terhentak terbangun dalam tidurnya, dia merasa terlalu lama mimpi mengenai dirinya, Tamsi dan Bara.
Benarkah gambaran mimpiku tadi? batin Rani.