Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Tabu


Pemberhentian mobil mereka menuju warung yang sudah singgahi sebelumnya.


Tin Tinn (bunyi suara klakson kendaraan).


Waktu sudah hampir malam dan warung sudah tutup.


Tok, tok, tok (Bunyi suara ketukan pintu).


"Permisi Bu!" kata kak Alfa.


Ibu tersebut membuka pintu warung dan terlihat bingung melihat mereka.


"Ada perlu apa ya?" tanya ibu pemilik warung.


"Kami melihat anak kecil tersesat dan mengikuti kami Bu, apakah ibu tau anak tersebut?"


"Anak kecil mana yang kalian maksud? sepanjang pinggir jalan hanya terdapat tiga warung yang hanya dapat kalian temui dan semua pemiliknya tidak ada beranggotakan anak kecil", jawab sang pemilik warung. Ayah Mencari ke sekeliling akan tetapi anak kecil itu namun tidak ada di sekitar.


"Bu, anak kecil itu menghilang", kata ayah.


"Mungkin dia makhluk penghuni dekat bukit hutan belakang rumah", sahut ibu pemilik warung itu.


"Ya sudahlah kami sudah ikhlas mengantarkannya kesini lagi Bu!" kata ibu kepada sang pemilik warung.


"Menginap Lah kalau kalian berkenan, hari sudah malam", kata ibu pemilik warung membuka pintu lebar pintu rumah.


"Terimakasih banyak bu tapi kami orang asing yang melintas, apakah ibu tidak takut kepada kami?"


"Kalian sudah di pusingkan oleh penghuni dekat sini, itu makhluk bunian yang mirip seperti manusia, sepertinya dia memilih kalian untuk di perlihatkan", kata pemilik warung itu.


Ayah dan ibu memutuskan bahwa mereka menginap semalam di tempat tersebut. Perjalanan di tunda dengan kedatangan makhluk bunian yang menggangu.


"Miaww"


Tamsi naik ke atas pundak Rani. Rani mengangkat kucing kesayangan pindah ke atas meja tulis. Malam itu mereka semua tertidur di ruang tamu ibu pemilik warung itu beralas tikar, beberapa bantal dan selimut. Kamar ibu sang penjual hanya mempunyai satu kamar, apalagi tempat tinggal yang berada di pinggir jalan letaknya berjauhan dari warung satu sama lain. Ketika semua telah terlelap, Rani bermimpi sangat mengerikan. Rani tiba-tiba melihat nenek Aska duduk di sampingnya.


"Nenek, Rani baru pulih. Nanti pasti Rani main kerumah ya nek", ucap Rani lirik dengan nada serak menahan rasa sakit yang tersisa.


Namun Rani melihat sesosok nenek Aska tidak seperti nenek sedia kala. Dia tidak menjawab dan hanya mengangguk kemudian pergi melayang menjauhi Rani. Nenek melambaikan tangan dan seolah berharap Rani membalas lambaian. Rani pun membalas lambaiannya dan akhirnya nenek menghilang bersama senyuman di sudut bibir.


"Ada yang berbeda dari nenek, pertanda apa ini?"


Rani bangkit dan terbangun dari tidurnya.


kring, kring ( Bunyi suara telepon rumah).


"Rani, ini Aska telpon gih!" kata kak Alfa.


Rani bergegas menerima telepon tersebut.


"Halo Aska, ada apa?" kata Rani.


"Halo Rani ada kabar duka. Nenek meninggal, hikss" , tutup Aska.


Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Rani segera berbenah dan meminta kak Alfa mengantarnya menuju rumah Aska. Hari ini adalah hari libur panjang sampai sepekan. Rencana Rani di urung berpergian mengajak keluarganya untuk berlibur ke Yogyakarta. Ibu memutuskan untuk pulang kerumah meningkat perihal anak kecil yang mengikuti Mereka. Pesan pemilik warung bahwa mereka harus memutar laju pulang agar tidak di ganggu makhluk halus itu lagi.


"Rencana berlibur sampai lusa kita tunda ya", kata ayah.