Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Alur berdarah


FLASH BACK


Di waktu lalu telah tertulis dalam ramalan buku sejarah bola api. Perjalan dua dimensi Rani bertemu makhluk jahat yang selalu mengikuti langkah Rani untuk mencelakakannya telah di ubah dengan kehadiran Bara, sesosok penyihir hebat penguasa seluruh wilayah bunian. Tragedi pertumpahan darah hitam, penyelamatan Bara si penyihir hebat menewaskan kepala suku pimpinan dari para gerombolan makhluk serigala jadi- jadian.


Hal itu membuat para makhluk serigala jadi- jadian menyimpan dendam kesumat kepada Rani.


Sifat Bara yang begitu kasar berhati keras terlebih lagi kebiasaannya meminum air darah segar dan daging- daging mentah kini berangsur perlahan berhenti seiring berjalannya waktu. Efek yang timbul akibat berhentinya kebiasaan Bara membuat salah satu kekuatan Bara sirna dari tubuhnya.


Wajahnya mengelupas dan kulitnya menjadi keriput. Bara seharusnya bersemedi di hari-hari tertentu untuk mengasah ilmu atau kekuatannya, kini berpaling menjadi aktifitas rutin mendampingi Rani setiap waktu.


Alur yang rumit


"Sahabatku, apa yang sedang terjadi pada dirimu?"


Rani menyentuh pipi Bara yang terkelupas menampakkan urat tulang pipih tengkorak berwarna hitam. Bara dari awal sudah menyadari perubahan pada dirinya. Bara bercermin di wadah milik sang penyihir wanita yang mereka singgahi.


"Ya.. Aku sudah tau hari buruk ini akan terjadi" bisik Bara.


Dia terus-menerus memandang kulit tangan dan kaki yang keriput.


"Sahabatku, aku tidak bisa menemanimu meneruskan perjalanan dan mengantarmu pulang "


"Apa yang sudah terjadi kepadamu?"


Rani menahan air darah yang berwarna hitam dari pipi Bara dengan syal. Sebuah syal Rani penuh air mata Bara, keadaan Bara di hari itu begitu kacau dan menjadi aneh. Bara berjalan mendekati Bubu dan membisikkan sesuatu.


'Dengarlah, selagi majikan mu sedang meracik ramuan untuk Rani, kau lakukanlah pesanku" bisik Rani.


"Seperti itu permainanmu Bara? Ilmu kau telah padam dan akan habis jika topi itu tidak melekat di kepala mu! Apakah kau juga akan menyerahkan kekuatanmu yang tersisa untuk sang gadis?"


Amarah sang penyihir memuncak meraih cermin raksasa memamerkan wajah Bara.


Bara membalikkan tubuh dan menutup wajah dengan jubah hitam.


"Aku sudah terlanjur menyayanginya sedari dulu, saat aku pertama kali tinggal di penduduk bunian, bahkan ketika mendengar kabar kelahiran anak yang malang itu kekuatan yang di anugerah kan menjadi incara semua makhluk."


"Apakah kau yakin bisa menyelamatkan nya?"


"Tidak, aku hanya berusaha semampuku."


Perdebatan panjang antara dua penyihir tidak berujung. Bara telah mengubah garis bola kristal di masa lampau.


"Mungkin saja jika kau tidak menyelamatkan anak kecil dari mangsaan para serigala jadi-jadian"


"Cukup hentikan semua sindiran mu"


Okura dan Utra telah mengkhianati Bara. Berbeda dengan sang penyihir yang di hadapan Bara , kemarahannya yang menggebu-gebu karena tidak ingin kehilangan Bara sang penyihir hebat penunggu seluruh wilayah bunian. Sang penyihir menggelengkan kepala. Di depannya masih tertutup pengunci raksasa. Masih pula tersusun dalam bentuk simbol Tengkorak. Dia berbalik menatap Bara . Bubu tidak ada disitu, Rani juga tidak ada. Sang penyihir menggelengkan kepala lagi.


"Aku tidak tahu mereka dimana."


Hatinya nelangsa teriris bak tersayat sembilu. Bara mencoba mengalihkan pandangan sang penyihir topi runcing untuk mengincar Rani.