Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Bara Menebas buluh serumpun


Angin Muson dari samudera fasifik arah barat menyapu wilayah penduduk bunian. Membawa uap air menurunkan hujan deras gulungannya membanjiri daerah yang belum pernah mendapatkan fenomena alam yang mengerikan. Tidak ada lagi yang memikirkan kejadian kerusuhan yang hampir menewaskan mereka.


"Bara bangunlah!"


Rani berusaha membuka ikatan akar dedaunan berduri yang melilit Bara. Usaha yang gagal hampir menghanyutkan dirinya sendiri. Tamsi menangkap tubuh Rani. Bekas luka di kakinya yang terjadi di masa lalu kembali terluka lagi.


Kulit kaki Rani tersobek sampai ke mata Kaki.


"Ah perih sekali!"


Rani berusaha sekuat tenaga menyeret paksa kakinya agar tetap tegak dan berjalan.


Sesosok makhluk mengikuti Rani dari belakang dan menjilati darah Rani yang bercampur air hujan. Terdengar renyah duara kunyahan Bara yang melahap habis makhluk bertubuh kerdil.


"Bara kau sudah sadar? kenapa kau melahap habis makhluk itu?"


"Dendam dan amarahku bercampur menjadi satu di sini, berani sekali si cebol merasakan darah sahabat ku! argghh"


"Hei mau kabur kemana kamu Bara! gadis ini sudah menjadi milikku!"


Teriak Okura memegang tangan kiri Rani.


"Lepaskan dia atau aku habiskan wilayah bunian!"


Balasan teriakan Bara menggema.


"Ahahah, ada banyak wilayah bunian lain yang bisa kami singgahi."


Sementara Utra datang memegangi tangan kanan Rani.


"Jangan buat kesabaran ku habis, aku tidak menyangka kalian berhianat kepada ku."


Bara memutarkan tangannya searah jarum jam dan membentuk lingkaran bola api yang menyala-nyala. Tamsi menggigit leher Utra dan membawanya lari menuju bukit terjal di dekat hutan.


"Tamsi!" teriak Rani.


"Hiya mati lah kau menjadi abu!"


Bara melemparkan bola api tepat di kepala Okura, seketika tangannya melepas Rani dan perlahan dia Okura meleleh besi yang di bakar di dalam tungku api. Bara Membawa Rani keluar dari penduduk bunian di kejar oleh Tamsi dari belakang.


"Kucing pintar, aku pikir kau dapat di kalah kan. Tapi kau perlu ingat bahwa Utra mempunyai bisa racun yang mematikan. Setelah mengantar Rani akan aku obati lukamu".


"Tapi Bara kau sudah membunuh kerabatmu sendiri , pasti Utra akan menyimpan dendam".


"Ahahah, tidak usah risau wahai kucing tampan. Sudahlah hal itu adalah urusanku. Aku sudah berencana membinasakan mereka semua setelah penghianatan mereka kepada ku , sekarang kita pikirkan saja keselamatan Rani.


...----------------...


"Rani sayang buka pintunya ! kita harus bergegas pulang!"


Panggilan ibu membuka pintu kamar anaknya dan mendapati Rani masih tertidur pulas.


"Kenapa wajahnya terlihat pucat?" bisik ibu.


Ibu mengompres Rani dan memeriksa dengan termometer. Suhu tubuh Rani berada pada 38° Celcius, kemudian ibu memberikan minyak angin dan membalut tubuh Rani dengan selimut rapat-rapat.


"Apakah anakku ini kembali berjalan-jalan di dua dimensinya?" batin ibu berkecamuk.


"Alfa kemarilah, tolong ambil resep obat ini di apotik."


"Apakah ibu sedang sakit? ayo Bu biar kita ke dokter."


Alfa menarik tangan ibunya dengan wajah cemas.


"Tidak-tidak nak adikmu sedang sakit, suhu badannya panas, pergilah Carikan obat untuk Rani"


"Alfa pamit Bu"


Dengan sigap Alfa mengambil kunci motornya berjalan keluar.


...----------------...


"Rani sahabat ku.."


Suara panggilan yang memekik dan menggema. Rani perlahan membuka kedua matanya tanpa memperdulikan suara panggilan menyebut namanya, Rani masih mengingat kejadian yang di alaminya. Dia membuka selimut tebalnya dan mendapati kaki mulusnya seperti bekas luka yang sudah mengering di tutupi dedaunan berwarna oranye.


"Rani sahabat ku , apakah engkau telah hilang ingatan?"


Rani menoleh dan mendapati Tamsi melayang di luar jendela Rani yang tertutup.


"Sahabat ku, kenapa kau tidak masuk saja?"


"Tidak Rani, saat aku berubah menjadi kucing maka aku bebas keluar masuk rumahmu, namun setelah pertempuran itu sepertinya energi ku sedang habis dan aku belum bisa merubah wujud"


"Ahahah, haha Tamsi! apapun wujud mu engkau tetaplah kucing ku."


Tawa Rani renyah seakan dia telah melupakan kejadian pahit yang di alaminya.


...----------------...


Seolah Tamsi tau bahwa akan ada yang mau memasuki kamar Rani , secepatnya dia menghilang dari hadapan.


"Rani sayang sudah bangun?"