
Dalam bingkai waktu dua dimensi yang berbeda. Ada jurang pembatas yang masih sangat jauh untuk bisa Rani ketahui sepenuhnya. Kadang yang nampak seperti nampak dan sebaliknya. Rani dan sang wanita duduk di atas tikar yang terbuat dari anyaman bambu. Pepohonan yang rindang dengan sekeliling taman-taman bunga melati menebar keharuman di sekeliling halaman rumah. Wanita itu menghidangkan minuman dari batok kelapa yang berisi akar-akaran.
"Kau tidak suka dengan teh buatan ku?" tanya sang wanita tua melirik tajam.
"Bawakan saja sebagai oleh-oleh untukku nek", jawab Rani.
"Mmhhh.. Kau memang tidak pernah berubah."
Umpatan wanita tua yang selalu menghiasi telinga Rani.
Wanita tua itu beranjak meraih keranjang dan memetik melati-melati tanpa menghiraukan.
"Harap maklum saja lah", bisik Rani.
Dia mengikuti langkah sang wanita tua dan membantunya memetik melati.
"Jangan yang sudah terjatuh."
Suara seraknya samar-samar terdengar oleh Rani. Dia mengangguk dan kembali memetik, lalu pandangan Rani tertuju pada batu kerikil besar yang sangat membuatnya penasaran.
"Ckckck."
Sang wanita tua berdecak
"Apa yang ada di balik batu besar itu nek?" bisik Rani.
"Pelankan suaramu atau pak Thomas akan marah", sahutnya.
"Apakah pak Thomas pemimpin upacara yang ada di belakang rumahku?"
Rani mencium bau yang sangat menyengat di dekat batu kerikil besar yang berwarna hitam keabu-abuan. Bau sekali sampai Rani ingin mengeluarkan semua isi perut.
"Itu adalah kuburan anak pak Thomas, jadi.."
Tiba-tiba terlihat ada seorang yang menatap Rani dari balik pintu. Sang nenek tua yang meletakkan tangan di pinggulnya dan melengkungkan tubuhnya. Dia tersenyum menyeringai kepada Rani. Pintu kamar Rani yang tadi terbuka lebar kini tertutup tanpa ada sapuan angin yang menutup. Bola mata Cika melotot sesekali memastikan apakah pintu akan terbuka atau tertutup lalu menatap Tamsi. Rani sedikit geli bercampur ngeri melihat Cika dan Tamsi saling menatap. Rani berlari mengejar makhluk tersebut keluar ruangan.
"Rani, Tunggu!" jerit Cika.
Lari terhenti kaki bertumpu pada ujung pot di depan pintu halaman belakang. Bunga melati bermekaran subur berpita putih.
Suara menggema terngiang menuju Rani, "Tanamlah bunga itu di samping makamnya."
"ihihihih , kakak apakah kau tidak berniat membongkarnya?"
Makhluk kecil penghuni wilayah bunian memegang boneka pemberian Rani berdiri di dekat Rani.
"Aku sudah terbiasa dengan wujud mu anak kecil , pergi dan bawa melati ini", ketus Rani.
Dari awal pertemuannya dengan makhluk perempuan itu seolah Rani enggan mendekat atau berlama-lama di dekatnya. Dia menghilang setelah Tamsi berdiri tepat di belakang Rani.
"Tamsi, ku mohon carilah Bara. Aku sangat menghawatirkan nya."
"Tugasku hanya menjagamu wahai sahabat ku."
Rani tidak menghiraukan perkataan Tamsi dan berjalan menuju Fortal hitam. Lubang hitam menembus dimensi ghaib menghilang tidak tersisa.
"Apa yang sedang terjadi?"
Rani memukul-mukul pagar halaman belakang rumah tanpa henti. Pukulannya semakin kuat membentuk goresan luka pada telapak tangan Rani. Cika melihat sepupunya yang bertingkah aneh dan menghampiri Rani. Tamsi tidak ingin wujudnya di ketahui oleh Cika, dia hanya menggigit ujung baju Rani seolah menariknya agar berhenti.
"Kamu kenapa Ran!"
Rani seperti orang yang sedang kehilangan akal, dia terus saja memukul pagar halaman tanpa henti. Disana ada Bara Sahabatnya yang masih tertinggal di alam dimensi lain.