
Tamsi yang sudah terlempar oleh Bara, berusaha menjauh lalu bangkit lagi dan menuju Rani. Hampir saja majikannya terkubur bersama tulang belulang Bara. Ibarat panjatan doa yang terkabul mengharapkan hujan bercampur air keberuntungan yang turun dari langit, genangan air hujan tidak menenggelamkan Rani. Tamsi mengangkat Rani keluar dari lubang tersebut. Bara yang tadinya membabi buta kini melepehkan jantung serigala jadi-jadian yang bercampur darah hitam saat melihat Rani yang lemah tidak berdaya.
"Sahabat ku.. "
Perlahan-lahan Bara berjalan ringkih mendekati Rani yang terlihat memprihatinkan.
"Ini semua salahku ! andai aku memilih hidup yang abadi."
Bara meraih tubuh Rani dari pergelangan tangan Tamsi.
"Maafkanlah aku wahai kucing tampan, aku tidak bermaksud menyakiti mu' marahku membuat pandangan ku gelap tidak membedakan semua yang ada di sekitar."
Tamsi membalas dengan mengangguk ,dia sudah terlalu lemah untuk berbicara.
Mereka berniat secepatnya keluar dari tempat itu dan meninggalkan para serigala jadi-jadian bersama jasad-jasad mereka. Dari kejauhan terdengar suara hentakan-hentakan kaki-kaki menuju mereka, para makhluk bunian melihat menyaksikan serigala jadi-jadian yang mati terbunuh secara sadis.Tidak ada saksi mata yang dapat membela Bara, Tamsi maupun Rani.
Hanya ada beberapa sisa serigala jadi-jadian yang hampir tewas di mangsa amukan Bara. Beberapa gerombolan para makhluk bunian seolah tampak murka.
"Wahai engkau penyihir keji ! kau telah menghabisi penduduk mu sendiri ! bukankah para makhluk bunian yang tinggal di tempat ini adalah satu keluarga!"
"Bukankah kau penyihir hebat itu? Bara yang menjadi penjaga tempat tinggal seluruh wilayah bunian dari timur sampai barat! apa yang membuat mu berubah?"
Bara tidak menjawab, sekalipun dia bisa menghabisi semua makhluk penduduk bunian dengan seluruh kekuatannya. Bara pasrah di rantai dan di seret di tengah-tengah hutan untuk di adili. Beberapa makhluk lain melempari Bara dengan benda-benda di sekitar wilayah hutan bunian. Sementara Tamsi sebelumnya secepat kilat meraih Rani dan berusaha membangunkan Rani yang belum tersadar.
"Wahai sahabatku bangunlah ! kita harus keluar dari tempat ini."
"Rani .."
Dia masih pingsan berjam-jam lamanya, tubuhnya pucat dan kakinya kaku. Rani sangat sekarat di hari yang kelam.
...----------------...
"Benar, dia telah menjadi penghianat."
Wajah bara yang sudah lebam mengeluarkan darah hitam akibat lemparan batu dan ranting-ranting kayu berduri. Bisa saja hari aku mengeluarkan bola kristal untuk menunjukkan asal kejadian pada kalian ! tapi aku takut nyawa Rani yang akan terancam karena masuk ke wilayah Bunian tanpa seijin penghuni sini, batin Bara.
"Bakar !"
Lemparan demi lemparan menuju tubuh Bara.
"Hei kau yang mencekik dan mencabut rambut ku waktu di pantai demi menyelamatkan gadis bermata cahaya, kalian semua lihat gadis kecil yang di pegang kucing hitam itu!"
"Bakar juga gadis si pembawa bencana."
Sahut teriakan iblis menyambut kobaran amarah penghuni penduduk bunian.
Dia adalah iblis yang pernah merasuki Nara sahabat satu kampus Rani dan Mia.
"Aku kembali membawa kemenangan, kau lihatlah hadiah dari kebaikanmu yang sia-sia terhadap manusia!"
"Ahahah, matilah kau Bara."
"Aku sudah tidak sabar merenggut hawa murni gadis indigo."
Kegembiraan di wajah iblis itu di selimuti bisikan-bisikan kejahatannya kepada penghuni bunian yang sedang salah paham kepada Bara, Tamsi dan Rani.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk menyelamatkan mu Rani ? jika aku di masukkan ke dalam api abadi. Kau dan Tamsi belum tentu selamat keduanya dari tempat ini" gumam Bara dengan melihat Rani.