
Seharian ini Rani masih bersama ibu di dapur. Waktu sudah menunjukkan pukul 16:00 WIB. Persiapan perjamuan pertemuan rekan-rekan kerja kak Alfa di mulai satu jam lagi.
Rumah yang sudah rapi bersusun piring-piring,gelas dan peralatan makan lainnya di atas meja di tambah sentuhan bunga tulip putih dengan sekeliling lilin-lilin aroma terapi membuat kesan yang hangat.
Rani tidak ikut di dalam acara tersebut setelah membantu ibu. Dia bergegas menuju ke depan biro kampus untuk mencetak tugas liburan musim dingin yang di berikan oleh dosen. Tugas yang setumpuk bersama libur panjang yang mengharu biru. Rani pergi secepat kilat setelah berpamitan dengan ibu. Ada rasa ngilu pada bagian dengkul dan lutut Rani pasca tragedi kecelakaan itu. Walau bagaimanapun Rani sembuh dengan sebuah keajaiban. Akan tetapi Rani masih butuh istirahat yang lebih untuk proses pemulihan sakitnya.
Dari kejauhan dia melihat Mia yang sedang tertawa di bawah pohon di dekat Biro bersama Nara.
"Bahkan hari ini, Mia tidak memberi kabar kepada ku bahwa dia sedang di depan percetakan depan kampus!" gumamnya.
Disana seharusnya tempat favorit Mia, Rani, Geri dan Aska.
"Kenapa sekarang hanya ada Mia dan Nara?"
Akan tetapi Rani sudah tidak memperdulikan sama sekali kekecewaan dan semua penghianatan itu. Dia melangkah pergi dan berbalik arah meninggalkan mereka. Dari sudut halaman belakang rumah Rani mendengar sorak ramai para penduduk bunian.
"Setelah kejadian pada Waktu itu, apakah pasar bunian sudah kembali buka?" celoteh batin Rani.
Setelah meletakkan tugas kuliah dia mencari-cari keberadaan si kucing hitam. Sampai larut malam, Rani tidak melihat batang hidung Tamsi.
"Ibu, apakah ibu melihat Tamsi?"
"Kucing itu? tadi sore sewaktu Rani masih di luar, ibu melihat si kucing hitam bolak balik mengeong dan mondar-mandir di depan pintu kamar Rani."
...----------------...
Angin kencang membawa dedaunan berguguran. Terkadang angin itu bersemilir syahdu. Terkadang pula seakan membawa gemuruh mematahkan ranting-ranting dan dahan pepohonan. Tadi malam Rani berjalan-jalan ke dua dimensi di alam bawah sadarnya. Dia sangat terlelap. Disaat jarum jam berganti, hal pertama ketika dia membuka mata di pagi ini adalah mencari kucing kesayangannya.
Kemana perginya Tamsi? selalu saja Rani bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri.
Dengan piyama tidur dan sendal bermotif boneka beruang, Rani berjalan menuju halaman belakang rumah berdiri mengamati jalan masuk ke wilayah Bunian.
"Pesan terakhir kucing tampan itu padaku adalah jangan pernah menuju ke sana tanpa Tamsi atau Bara, akan tetapi disaat seperti ini.."
"Tamsi"
Seolah angin telah menjawab panggilan Rani dengan melambaikan dedaunan.
"Gadis kecil, kemarin malam nyawamu hampir melayang, kenapa kau tidak terbangun?" ucap wanita tua pemakan sirih & pinang.
Hari ini dia tidak menggangu Rani. Makhluk itu juga berbicara dengan mengambil jarak lima meter dari titik asal Rani berdiri.
"Apa maksud dari perkataan mu?"
"Ahihih.."
Makhluk yang aneh itu menghilang dari pandangannya.
Angin selalu saja bertiup kencang tanpa henti. Langit yang mendung membawa kabut putih bersama deras hujan dari arah selatan.
Pemadam listrik hari ini mengingat Rani pada awal ceritanya yang lalu, akan kesendiriannya tanpa Tamsi yang di selimuti oleh hanya ketakutan. Gangguan makhluk itu masih tergambar jelas dan teringat di dalam pikirannya. Sebelumnya tidak ada Bara ataupun Tamsi. Di hari yang semakin berbeda ini, Rani menanti kucing hitam kesayangannya. Rani berdua di kamar bersama ibu yang sudah terlelap. Ayah dan Kak Alfa masih lembur di kantor.
"Tamsi, kau dimana!"
Di keheningan malam keringat Rani mengalir deras menggumpal di dahinya. Alam bawah sadar yang gelap dan menyeramkan.
"Tidak, tidak! dimana lentera ku!"
Rani berjalan sendirian di tempat yang belum pernah dia lalui.
"Arrgh.."
Suara lengkingan jeritan suara tepat di telinga Rani, mengangetkan nya untuk terbangun dan membuka mata.
"Arrgh, argh."
Tok,tok.
Tuan Thomas mengetuk dinding kamar. Rani beranjak dari ranjang dan menyalakan lilin untuk berjaga jika makhluk ghaib menjahilinya dengan menantikan lampu.
...----------------...
📃 SURAT TERAKHIR RANI
Sudah satu Minggu kucing tampan ku menghilang. Bagi siapa saja yang menemukannya tolong balas email dariku. Aku bisa hilang kendali memikirkannya. Tamsi bukan hanya hewan peliharaan, namun dia adalah sahabat ku. Aku berniat mencari di wilayah bunian. Namun pesan terakhir Tamsi masih membuat ku tidak boleh mengingkari janji. Hal yang memusingkan pikirkan ku adalah amukan Bara di saat itu ternyata dia sedang melawan Bulan merah.
Apakah menurut mu, Bara mati dan lenyap di bunuh oleh Bulan darah?
Bersahabat di dunia ghaib penuh dengan misteri. Kini aku setiap hari mencari kucing tampan mu yang pergi entah kemana. Aku berniat menyebar selebaran pencarian kucing yang hilang. Kemungkinan ini adalah surat terakhir dariku untuk para pembaca. Jangan lupa doakan keselamatan Ku
^^^TTD. Rani indigo.^^^
...----------------...
"Ibu, untuk apa koper-koper dan kardus-kardus besar ini?"
"Ibu lupa memberi tahu kepada Rani, kira-kira satu bulan lagi kita akan pindah rumah.
"A..pa? pindah rumah Bu?"
"Ya sayang..."
Rani berlari menuju belakang halaman rumah dan memanggil lagi kucing kesayangannya
"Tamsi,Tamsi."
"Tamsi, Tamsi."
Sudah dua jam Rani berdiri di depan jalan masuk wilayah bunian.
"Kakak, ahihihih."
"Hei adik kecil! kemarilah tolong Carikan kucingku."
"Ahihihih." Makhluk kecil itu menghilang meninggalkan Rani dengan suara tawanya yang masih terdengar jelas.
"Kikikik, ahihihh."
Syuh, pyuh. Lelehan biji pinang dengan sepasang biji bola mata yang hampir lepas menatap tajam Rani.
"Rani, kamu di panggil ibu."
Kedatangan kak Alfa membuat makhluk tersebut menghilang bersama angin yang kencang.
Pemindahan rumah yang sudah di putuskan oleh kedua orangtuanya tidak bisa di ganggu gugat. Rani hanya terdiam dan sesekali menganggukkan kepala mendengar perkataan ibu mengenai penjelasan rumah. Semua rangkuman ini tidak lain karena pemindahan tugas ayah ayah yang membuat mereka harus bermutasi ke kota lain.
"Rani paham kan sayang?"
"Ya Bu.."
Di dalam kamarnya, Rani masih saja keras kepala bertekad menemukan Tamsi sebelum mereka benar-benar pindah.
...----------------...
"Hei!! kucingmu itu telah tiada."
"Tidak mungkin! itu sangat tidak mungkin! aku tidak percaya itu."
Rani beradaptasi di suatu wilayah yang cuacanya seperti tampak siang hari. Seekor kucing berwarna abu-abu yang sedang berbicara padanya. Di sebelah kucing berwarna abu-abu itu ada kembaran kucing dengan warna yang sama yang telah kamu dengan darah yang mengalir di kepalanya.
Apakah yang sedang berbicara kepadaku kini adalah seekor arwah kucing? gumamnya.
Tidak hanya satu kucing dan sepertinya pertanyaan Rani keliru. Ada beberapa para arwah kucing-kucing yang seolah ingin menunjukkan sesuatu.