
"Tamsi .."
Rani memanggil Tamsi sekali lagi.
Ada hal yang mengganggu pikirannya. Bara belum kembali dan sekarang Sahabatnya menghilang. Rani menuruni tangga dan berdiri di depan pintu rumah. Dia menatap Binta penuh curiga berfokus pada isi dalam kotak berlapis kain hitam.
"Tidak sepertinya ini hanyalah pikiran buruk ku saja.Cika adalah sepupu ku yang sudah aku anggap sebagai saudara kandung ku, akan tetapi kenapa hari-hari ku semakin buruk setelah bertemu Binta!"
Situasi semakin rumit dan tidak tau pasti siapa yang dapat menolong Rani.
Binta menyeringai dan melemparkan senyum gigi taring kepada Rani. Setelah memasukkan kotak hitam itu ke dalam mobil seakan Cika tidak menghiraukan kehadiran Rani menuntun Binta berjalan menuju rumah.
...----------------...
"Bulan merah akan segera melenyapkan Rani, bagaimana kau akan menolongnya?" kata Okura mendekati Bara.
"Pergilah kau, aku tidak ingin melihat mu lagi."
"Seandainya saja dahulu kau tidak menyelamatkannya dari para kejaran serigala jadi-jadian, atau tidak menjadikan hal yang berharga bagi mu"
"Diamlah bawakan saja aku darah segar."
"Jika aku membantu mu memulihkan kekuatan mu maka sebagai imbalannya berikan sang gadis indigo"
"Ya dengan senang hati", jawab Bara.
...----------------...
"Hai Rani.. Apa kabar?"
Rani hanya terdiam dan menarik tangan Cika masuk ke dalam rumah. Kali ini tidak dengan pertengkaran atau adu otot leher. Hanya saja Rani mencoba lebih berbesar hati dan menerima segalanya.
"Cika, apakah kamu sedang transaksi dengan Binta? oh iya, Tamsi mana?"
Cika menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahu. Namun firasat Rani lebih tertahan dengan melihat bahasa tubuh mereka yang sangat mencurigakan. Cika meninggalkan pembicaraan dengan Rani dan duduk di sofa bersama Binta. Rani ingin sekali mengetahui isi dalam kotak, dia berjalan ke belakang rumah dan mencari makhluk bunian. Tampak seorang makhluk anak kecil sedang ayunan di antara pepohonan, nenek tua yang seperti biasanya juga sibuk makan daun sirih dan buah pinang.
"Mmhhh..aku harus cepat ! mana yang harus aku tanyakan?" Batinnya.
Setelah sekian lama Rani menatap anak kecil itu, kini dia berbalik melempar senyum dan berjalan menuju Rani.
Rani berjongkok di dekatnya dan membisikkan sesuatu.
"Kakak mau main hanya sebentar saja, tapi dengan satu syarat."
Makhluk itu mengangguk paham dengan penjelasan yang di bisikkan oleh Rani.
...----------------...
Rani menunggu informasi sambil bersembunyi di samping pohon dekat pagar pembatas rumah. Makhluk itu berlari menuju Rani dan menangis.
"Kau kenapa?"
"Aku takut dengan bulan darah, aku tidak berani."
"Apa sebenarnya isi kotak itu?" Mereka saling berbisik.
"Apa? Tamsi ada di dalam sana", bentak Rani.
Tanpa pikir panjang Rani berlari menuju Binta yang masih duduk bersama Cika di ruang tamu.
Pragh..
Lima jari tangan Rani tergambar di pipi Binta.
"Kembalikan kucing ku dan kau Cika lebih baik sekarang jelaskan padaku kalau kau tidak berhianat."
"Siapa yang lebih berharga, Kucing itu atau aku? kini kau sudah banyak merahasiakan segalanya padaku," pembelaan diri Cika bagai pedang menghunus dada.
Sang makhluk yang selalu membuntuti Binta menarik rambut Rani dan mencekik.
"Rani, ada apa denganmu? kenapa kau bertingkah aneh seperti itu?"
Cika tidak bisa melihat makhluk yang berada di samping Binta.
"Semua sudah berakhir, terimakasih Cika, aku pamit pulang."
Binta berjalan menuju ke mobilnya.