Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Makhluk jahat


Hari ini Rani sedang terserang demam tinggi, suhu tubuhnya sangat panas. Dia seharian berbaring di kamar sambil di rawat oleh ibu. Entah mimpi apa dia tadi malam sehingga mendadak sakit menyerang. Mata Rani begitu berat untuk di buka, Tamsi memperhatikan dan menemaninya di bawah kasur tanpa bergerak sedikitpun.


"Semoga cepat sembuh ya gadis kecil ibu!" kata ibu sambil tersenyum dan mengecup kening Rani.


Namun Rani melihat ada makhluk yang memperhatikannya di sudut kamar. Malam ini ibu tertidur di samping Rani, suasana malam terasa aneh dan mencekam. Seisi ruangan terlihat di penuhi dengan kabut.


"Hiks, hiks." (Tangis Rani).


Rani bermimpi berjalan sambil menangis di tengah lorong yang sangat panjang. Dia sendiri an dan begitu ketakutan, seseorang menghampirinya lalu Rani berlari Sampai sesosok makhluk dapat menghentikan langkah kaki Rani.


"Kau menjadi rebutan kami, aku yang akan mendapatkan kekuatan mu!" maklum tersebut sambil tertawa terbahak-bahak.


"Akik, ahihih."


(Tawanya lalu menyeringai menatap tajam ke arah Rani).


"Argh, argh."


(Suara jeritan Rani).


Makhluk aneh itu berubah lagi menjadi begitu menyeramkan, dia meremas jantung Rani.


Kukunya yang tajam seolah ingin mencabik-cabik dan mengeluarkan jantung Rani hidup-hidup.


"Argh, Tamsi!"


(Rani begitu kesakitan)


Muncul lah seorang makhluk lain menyelamatkan dirinya, sedikit lagi kuku-kuku tajam itu menembus jantungnya. Dia sangat mirip dengan Makhluk yang pernah menyelamatkan ku Waktu lalu. Sekejap dia melepaskan anak panah tepat di atas kepala makhluk wanita yang mengerikan.


"Tunggulah pembalasan ku !" ,


kata makhluk mengerikan dan menghilang bersama hujan debu.


...----------------...


Rani membuka matanya sambil menangis terisak-isak memeluk ibu. Seperti mimpi seakan sangat nyata di hadapi. Ibu mengambilkan segelas air dan menyelimuti Rani. Namun belum sempat bercerita kepada ibu, Rani kembali tidur lagi. Manik netra gadis bermata biru sangat berat dan dia begitu mengantuk.


 BERSELANG KEESOKAN HARINYA.


Sinar pagi menembus dinding-dinding kamar Rani. Hari ini dia bergegas pergi kuliah dan demamnya kemarin sudah tidak di rasanya lagi.


Aku merasa sangat aneh, bisa cepat sakit dan dengan mudah secepat itu pula sembuh! Gumamnya.


"Kamu mau kuliah atau absen ijin aja dik? Masih sakit kan?" kata kak Alfa.


"Rani jangan masuk ke kampus masih sakit kan, nanti siapa yang repot kalau tambah drop?" kata ibu dari dapur.


"Sebentar saja boleh ya Bu, Rani mau kumpul tugas ke dosen", sahut Rani.


"Baiklah biar kak Alfa yang antar sekaligus pergi ke tempat kerjanya"


"Rani pamit Bu." Rani bergegas mencium punggung tangan sang ibu.


Tamsi mengejar Rani dari balik pintu ruang tamu.


...----------------...


Seperti biasa Susana kampus ramai akan aktivitas para mahasiswa. Mereka berlalu lalang dengan berjuta kesibukan. Setelah selesai dengan urusan para dosen tiga rangkai sahabat itu duduk di tepi pohon biro kampus.


"Rani, nenek gue kirim salam tuh karena dengar cerita kamu. Aku suka curhat ke nenek tentang lu" kata Aska.


"Salam Rani buat nenek juga ntar kalau ada waktu lagi aku kerumah sama Mia ya!" sahut Rani.


Tawa mereka hari itu sangat lepas dan menjadi obat kegelisahan Rani akan mimpi di malam mencekam. Kak Alfa datang menjemput dan merekapun bubar barisan dengan bersalaman.


"Semoga kita bersahabat selamanya ya", gumam Rani menatap Mia dan Aska.