Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Kegundahan Rani


Rani melangkah mundur saat menghadap lubang hitam. Dia tidak mau masuk pintu ghaib ini karena aku pasti akan tersesat tidak tau jalan pulang.


Tek, tek, dugh ( suara lemparan biji jambu dari mahkluk).


"Hei kau dengar tidak tadi kataku?" bentak Rani.


"Hiks, hiks. Kakak kenapa kau membentak ku? aku hanya ingin mengatakan bahwa kucing itu sakit karena menolong mu", kata sang makhluk sambil mengusap air mata.


"Aku tidak mau tertipu dengan air mata buaya. Kali ini aku benar-benar sangat murka!" bentak Rani lagi.


Anak kecil itu memberikan selendangnya ke Rani dan berkata, " Aku meminjamkan ini untuk kucing mu yang tadi menelan ular hitam di balik bantal tidur mu saat kau keluar!"


"Apa maksudmu ular hitam yang mana? Baiklah karena kau memang bersungguh tidak menipuku aku tidak akan memarahi mu lagi", kata Rani.


Sosok makhluk mengulurkan selendang putihnya dan meletakkannya di atas tangan Rani dan berkata, "Aku tadi waktu main-main kerumah kakak, ada teman Kaka masuk kerumah saat ibu kakak membuat teh untuknya."


"Siapa maksud mu? Para sahabat ku tidak pernah berhianat padaku. Sudahlah aku sedang khawatir akan keselamatan kucingku ini! pergilah kau dengan selendang kain kafan mu ini!" kata Rani sambil mengembalikan lagi selendang yang di ulurkan makhluk itu ke tangan Rani.


"Aku tidak berbohong, masuklah kerumah dan tanyakan pada ibumu!" ucap sang makhluk meyakinkan.


"Baiklah sekarang kau tunggu lah aku disini", sahut Rani.


Rani bergegas masuk ke dalam rumah sambil menggotong Tamsi.


Well, aku harus menghangatkan Tamsi di dekat lampu ! barulah menemui ibu , batin Rani.


Rani meletakkan kucing hitam di atas keranjang pakaiannya dan membalut tubuhnya dengan kain tebal di dekat lampu kamar.


"Aku selalu mendoakan mu di setiap sujud ku Tamsi sembuh dan bangunlah. Kau seperti bukan kucing penduduk bumi, tapi kau selalu berusaha menyelamatkan ku!" kata Rani.


Rani menggerut alis dan menahan gejolak sesak didalam hati, dia sangat kecewa jika memang Mia adalah pelakunya.


"Tidak sayang, yang datang tadi namanya_ Aduh lupa ibu, Nah siapa tadi ya?" jawab ibu.


Ibu terlihat sangat sibuk, akan ada acara keluarga di rumah malam ini dan seharian ibu menyiapkan sendiri di dapur.


"Nara ya Bu? apa Nara tadi yang datang kerumah Bu?" tanya Rani.


Jantung Rani berdetak kencang dan dia begitu terkejut saat mengatakan nama Nara.


Ibu menyusun piring dan gelas kaca di atas meja makan sambil berkata, "Ya benar nak namanya Nara, barulah ibu ingat. Akhirnya selesai sudah tugas ibu hari ini, ayok cepat siap-siap sebentar lagi keluarga pada berdatangan dan ayah juga Alfa akan pulang."


"Ya Bu", jawab Rani.


Ibu berkata, " Oh iya Ibu sudah konsultasi ke dokter hewan lewat telepon tadi, pengiriman resep obat akan sampai beberapa jam lagi ya ".


"Terimakasih Bu", sahut Rani.


Dia menuju kamar dan mengangkat bantal-bantalnya. Namun dia tidak menemukan apapun.


Aku tidak percaya pelakunya adalah Nara karena Mia begitu percaya padanya. Akan aku tanyakan padanya besok ! batin Rani.


Rani memperhatikan Tamsi dan mengelusnya, dia hampir lupa dengan janjinya pada sang makhluk. Rani melangkah kaki lagi menuju halaman belakang rumah. Terlihat penampakan sosok makhluk menyeringai dan tertawa terbahak-bahak sampai air matanya mengalir deras berwarna hitam.


"Ahihih, ahah" ( tawanya begitu keras).


Rani hanya terdiam memperhatikan tawa makhluk itu, tampak di sekeliling makhluk itu bermunculan bunian lainnya yang mendengar pembicaraan kami. Rani memutar arah dan berlari menuju pintu rumah. Kemudian Rani membanting pintu dan menuju kamar.