
Api menyala di dalam kalbu, ganas membakar tiada terhingga. Bara si penyihir hebat menangis tersedu-sedu mengenang duka berputus asa. Bara menggandeng Rani memasuki wilayah tenggara bunian. Pohon-pohon bendo yang berjejer seakan bergerak memberi jalan mereka.
"Aku memutuskan lagi wahai gadis bermata biru "
"Mata ku berwarna hitam wahai penyihir menyebalkan", batin Rani.
Kucing-kucing loreng yang berada di rumah si penyihir seakan ikut ruang gembira melihat kembali kehadiran Rani. Salah satu kucing di luar tampak sedang mencari-cari seorang tamu lagi yang belum memasuki rumah.
"Bubu, apakah apakah kau sedang mencari kucing tampan itu?"
Ucap si penyihir tersenyum mengangkat kucing loreng itu masuk. Rani teringat sahabatnya Tamsi yang belum menjumpainya sampai detik ini.
"Aku sedikit khawatir tentang kabar mu wahai sahabatku", gumam Rani.
"Hmmm.. Rasa canggung yang berlebihan."
Desak sang penyihir wanita yang pernah di temui Rani. Kemudian dia berjalan dengan gaun hitam yang menyeret kaki menuju teko raksasa dan di letakkan di dekat perapian.
"Apakah kalian sudah saling mengenal?"
Bara menggeret kursi rotan ke arah Rani dan perlahan menyodorkan kursi itu kepada Rani.
"Terimakasih Bara."
Sang penyihir menghampiri Bara dan Rani menuju meja bundar.
"Jauh sebelum engkau mengenalnya, mari bersulang."
Tiga gelas cangkir perak beraroma amis berisi air berwarna merah darah menusuk hidung Rani. Sang penyihir memperhatikan gerak-gerik Rani yang seperti terlihat kebingungan.
"Mau sampai kau kapan kau menjahilinya?"
Bara meneguk air yang di hidangkan, jari lentiknya menyapu bersih bekas air di bibi yang menetes bersisa.
"Rani sahabat ku, jangan lah engkau pikirkan ucapan omong kosong nenek tua itu, dia hanya mengganggu mu."
Rani mengangguk dan tersenyum mempercayai Bara.
"Benar ucapan Bara tadi, aku sudah tidak kaget lagi dengan ucapannya yang mengatakan penyihir itu sejatinya seorang nenek tua , karena meminum darah-darah segar para gadis-gadis pilihannya sebagai penawar ramuan awet muda" batinnya.
Bara memperhatikan Rani yang sedang melamun memandang gelas yang berisi air darah.
"Rani.. kau pasti sangat haus, akan tetapi perlu engkau ingat dan hafal bahkan sampai aku tiada jangan pernah meminum atau memakan di wilayah bunian."
Rani tersenyum melihat keseriusan sahabatnya. Dalam hal sedetail mungkin Bara seperti Tamsi yang selalu mengingatkan Rani.
"Aku paham Bara, semua petuah mu akan selalu aku ingat", sahut Rani.
Entah dari mana asal kehadiran sang penyihir yang menimpali perbincangan Bara dan Rani.
"Semua makhluk di penduduk bunian menyembunyikan sesuatu."
Hal itu sudah di sadari Rani ,saat pertama kali dia ke wilayah Bunian dan menjumpai berbagai macam bentuk para makhluk-makhluk misterius.
"Jangan pikirkan itu Rani, perjalanan kita masih panjang", Bara berkeras.
Sang penyihir mengambil buku debu dan usang dari dalam lemari antiknya kemudian memberikan lipatan lembaran halaman kepada Rani.
Semburan-semburan api keluar dari dalam buku membakar sekitar ruangan sang penyihir.
"Awhhh panas sekali! Apa sebenarnya yang sedang engkau pikirkan kepadaku."
Rani melepaskan bola kristal api yang berada di dalam buku yang terbuka. Bara menangkapnya, hampir saja bola api itu terjatuh bagai bom api yang meledak.
"Sudah ku bilang padamu, berhentilah kau mengganggu sahabat ku atau__"